
TENSI situasi di Semenjanjung Korea memanas lagi akibat provokasi pihak Korea Utara dengan mengirimkan ratusan balon udara memuat sampah dan kotoran ke wilayah tetangga dan juga negara seterunya, Korea Selatan.
Dewan Nasional Korsel (DNK) langsung merespons Tindakan permusuhan Korut tersebut dengan merencanakan penangguhan perjanjian militer memuat upaya peredaan ketegangan yang ditandatangani dengan Korut pada 2018.
Reuters melaporkan, DNK dalam pernyataannya menyebutkan, penangguhan perjanjian tersebut diharapkan akan membuka jalan bagi Korsel untuk menyiapkan tindakan balasan “memadai dan segera” sebagai respons atas provokasi Korut.
Kesepakatan paling substantif yang dihasilkan dari pertemuan puncak bersejarah antara kedua Korea pada 2018 itu akibat keputusan Pyongyang tahun lalu (2023) yang menyebutkan, mereka tidak lagi terikat oleh pakta perjanjian itu.
Sejak saat itu, Korut terus mengerahkan pasukan dan senjata di pos-pos penjagaan di dekat perbatasan militer kedua negara serumpun yang masih dalam status Perang sejak Perang Korea yang berkecamuk sejak 1950 sampai 1953.
Korsel sebelumnya juga menyatakan akan mengambil tindakan yang “tidak dapat ditoleransi” terhadap Korut karena mengirimkan sekitar 600-an balon udara memuat sampah dan kotoran melewati perbatasan.
Pihak Korut sendiri mengaku, pengiriman baloan balon memuat sampah itu merupakan aksi pembalasan atas aksi propaganda yang dilakukan oleh para pembelot Korut bersama aktivis anti Korut di Korsel.
Berbeda dengan balon balon kiriman Korut yang memuat sampah dan kotoran, balon-balon yang diterbangkan secara rutin dari wilayah Korsel selain memuat selebaran anti-Pyongyang, juga berisi makanan, obat-obatan, uang dan USB yang sarat dengan tayangan video musik dan drama K-pop.
Sebaliknya, balon-balon yang diterbangkan Korut memuat sampah seperti puntung rokok, kain, potongan kertas, dan plastik seperti yang ditemukan masyarakat di Ibu Kota, Seoul, Sabtu, (1/6) malam.
Militer Korsel memantau titik awal dan melakukan pengintaian udara untuk melacak dan mengumpulkan balon-balon itu, yang membawa kantong-kantong besar berisi sampah tergantung di bawahnya.
Selain penerbangan balon, pihak Korut juga gencar melakukan propaganda dengan menempatkan pengeras suara berukuran raksasa di perbatasan untuk menaympaikan propaganda anti Korsel, sementara kedua belah pihak saling berbalasan melakukan latihan militer.
Uji coba rudal balistik dan senjata nuklir terus dilakukan oleh pihak Korut, sementara Korsel didukung, AS selain terus memperkuat persenjataannya juga melakukan manuver-manuver militer gabungan.
Perimbangan militer
Global Fire Power mencatat, Korsel menduduki peringkat keenam kekuatan militer didukung 1,1 juta personel aktif dan sekitar 555 ribu, tentara cadangan.
Matra udara Korsel mengoperasikan 1.595 unit pesawat, termasuk 400 pesawat tempur buatan AS seperti Super Lightning F-35, Eagle F-15 dan Fighting Falcon F-16 dan 200-an helikopre serang seperti UH-60 Black Hawk dan AH-64 Apache (juga buatan AS).
AD Korsel didukung 2.624 unit tank tempur utama a.l. M1A1 Abrams, 13.990 kendaraan lapis baja, 574 peluncur roket, 3.040 artileri swagerak dan 3.854 artileri tarik.
AL Korsel mengoperasikan 18 fregat, 13 kapal perang ranjau, 11 korvet, 12 kapal perusak, dua pengangkut helikopter, 111 kapal patroli, dan 22 kapal selam.
Selain dipasok dari AS dan negara-negara Barat, alutsista Korsel termasuk kapal perang dan kapal selam juga berasal dari hasil industri dalam negeri yang juga banyak diekspor ke negara lain.
Untuk melindungi wilayahnya dari ancaman rudal balistik Korut, Korsel juga mengoperasikan sistem Terminal Areal Pertahanan Atitud tinggi (THAAD) dan sistem Aegis yang ditempatkan di kapal-kapal perang (semua buatan AS).
Dari sisi anggaran, Korsel menggelontorkan US$46 miliar atau sekitar Rp723 triliun untuk pertahanan pada 2024 atau ranking ke -11 dunia.
Meski secara peringkat jauh di bawah Korsel, AB Korut lebih besar yakni dengan dua juta tentara dinas aktif, belum termasuk 600 ribu personel cadangan.
Matra udara Korut mengoperasikan pesawat-pesawat tempur lawas warisan Uni Soviet, seluruhnya 946 aneka pesawat militer termasuk 458 pesawat tempur seperti MiG-21, MiG-23 dan MiG-29 dan 200-an aneka helikokpter seperti MI-4. MI-6 dan helikopter serang MI-24.
AD Korut memiliki 5.895 unit tank eks- Soviet seperti T-55, T-62 dan T-72 , 1.360 peluncur roket, 4.114 kendaraan lapis baja, 450 artileri, swagerak dan 250 artileri Tarik.
Sedangkan di laut, Korut memiliki lima fregat, 10 kapal penyebar atau penyapu ranjau, 35 unit kapal selam a.l Kelas Kilo eks-Soviet dan 200 unit kapal patroli, sedangkan anggaran militernya jauh di bawah Kosel yakni US$4,5 miliar atau sekitar Rp70 triliun atau ranking ke-30 global.
Keunggulan Korut ada pada rudal-rudal balistik antarbenua berhulu ledak nuklir yang konon bisa menjangkau wilayah timur AS yang terus diujicoba dan ditingkatkan keandalannya.
Seperti yang terjadi selama ini, mudah-mudahan meningkatnya ketegangan antara kedua negara serumpun itu hanya sekedar retorika atau perang kata-kata, tidak berlanjut pada perang sebenarnya.




