MYANMAR – Ketegangan komunal tampak meningkat di Myanmar pada hari Senin (11/9/2017) setelah dua minggu terjadi kekerasan di negara bagian Rakhine yang telah memicu sekitar 300.000 Muslim Rohingya berlari ke Bangladesh.
Sekelompok sekitar 70 orang bersenjata dengan tongkat dan pedang mengancam akan menyerang sebuah masjid di kota pusat Taung Dwin Gyi pada hari Minggu (10/9/2017) malam. Mereka meneriakkan “ini adalah negara kita, inilah tanah kita”, menurut imam masjid tersebut, Mufti Sunlaiman.
“Kami mematikan lampu di masjid dan menyelinap keluar,” ujar mufti, yang berada di masjid saat itu, mengatakan kepada Reuters melalui telepon.
Pemerintah mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa gerombolan tersebut bubar setelah polisi menembakkan peluru karet.
Desas-desus telah menyebar di media sosial bahwa umat Islam, yang mewakili sekitar 4,3 persen populasi mayoritas agama Buddha sebesar 51,4 juta, akan melakukan serangan pada 11 September untuk membalas kekerasan terhadap Rohingya di Rakhine utara.
Serangan oleh militan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) di pos polisi dan sebuah pangkalan militer pada 25 Agustus memprovokasi serangan balik militer dan migrasi massal penduduk desa ke wilayah Cox’s Bazar di selatan Bangladesh.
Myanmar mengatakan pasukan keamanannya melakukan operasi pembersihan untuk melawan ARSA, dimana pemerintah telah mengumumkannya sebagai sebuah organisasi teroris.
Pemantau hak asasi manusia dan Rohingya yang melarikan diri mengatakan bahwa tentara dan tentara Buddha Rakhine telah melakukan kampanye pembakaran yang bertujuan mengusir kaum Rohingya, yang populasinya diperkirakan sekitar 1,1 juta.
Dalam kelompok media sosial, umat Islam telah menyuarakan kekhawatiran bahwa masjid lain akan mendapat serangan dan mengajukan keamanan yang lebih ketat, menurut pos yang dilihat oleh Reuters. Para tetua Muslim mendesak orang untuk menahan diri. tulisan-tulisan itu menunjukkan.





