
KTT Perdamaian Ukraina diikuti 90 negara yang digelar di kota Obbuergen, Swiss, 15 – 16 Juni belum berdampak pada penghentian perang, apalagi Rusia dan juga China tidak mengirimkan wakilnya.
Komunike atau deklarasi yang dikeluarkan di akhir pertemuan antara lain menyebutkan seruan dukungan terkait kedaulatan dan integritas Ukraina sebagai landasan bagi perjanjian perdamaian guna mengakhiri perang Rusia – Ukraina.
Deklarasi juga mendesak pertukaran penuh tawanan perang dan pemulangan seluruh anak Ukraina yang diambil paksa atau dideportasi dan pemulangan warga yang ditawan secara tidak sah.
Disebutkan pula dalam deklarasi, Piagam PBB serta penghormatan terhadap integritas dan kedaulatan wilayah akan dijadikan dasar untuk mencapai perdamaian yang komprehensif, adil dan abadi di Ukraina.
Perang Ukraina berlangsung sajak invasi Rusia yang menyebutnya dengan operasi militer khusus ke wilayah Ukraina sejak 24 Feb. 2022 yang sampai hari ini sudah menewaskan sekitar setengah juta anggota pasukan ke dua belah pihak, belum termasuk warga sipil.
RI termasuk 90 negara yang mengirimkan wakilnya dalam KTT tersebut, yakni Dubes RI di Bern, Ngurah Swajaya sebagai Utusan Khusus Menlu.
Namun demikian, RI bersama Arab Saudi, Afrika Selatan, Brazil, India Thailand dan Uni Arab Emirat yang tidak ikut menandatangani komunike bersama mayoritas negara peserta lainnya
Sekitar 50 pemimpin negara hadir dalam pertemuan tersebut seperti Wspres Amerika Serikat Kamala Harris, Kanselir Jerman Olaf Schols, sementara Presiden AS Joe Biden tidak hadir walau ia diundang khusus oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy yang menjadi pemrakarsa pertemua bersama tuan rumah Swiss.
Namun KTT tersebut, tanpa diikuti pihak yang bersengketa langsung yakni Rusia dan juga China yang mendukungnya sulit diharapkan terlalu banyak hasilnya.
“KTT ini berisiko menunjukkan batas tertinggi kemampuan diplomasi Ukraina, namun menjadi peluang bagi Ukraina untuk mengingatkan dunia, mereka membela prinsip-prinsip Piagam PBB, “ kata Direktur Grup Krisis Internasioal PBB Richard Gowan.
Sementara Jubir Kemlu RI Roy Roliansyah mengemukakan, upaya perdamaian bagi perang di Ukraina selalu penting bagi RI yang konsisten menyangkut kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara.
Namun di sisi lain RI juga berpandangan, proses perdamaian hanya bisa diwujudkan dengan melibatkan para pihak yang berkonflik, sementara Rusia yang memang tidak diundang menilai pertemuan itu hanya membuang-buang waktu .
Hal senada disampaikan wakil dari India, Pavan Kapoor yang menyebutkan, perdamaian memerlukan penyatuan semua pemangku kepentingan dengan keterlibatan yang tulus praktis para pihak, jika tidak, sulit diwujudkan.
Perdamaian di Ukraina agaknya masih jauh “panggang dari pada api”. (AP/AFP/Reuters/ns)




