GUBERNUR Anies Baswedan memang terkenal akan ide-ide besar nan spektakular. Awal menjabat berani tutup jalan raya Jatibaru demi keberpihakannya pada pedagang. Pernah juga mengantisipasi bau Kali Item dengan waring, kemudian bikin monumen bambu “Getah Getih” berbiaya Rp 550 juta. Dan pada Idul Adha 1440 H ini bikin kejutan baru, para mustahik (penerima daging kurban) di DKI, sebagian diberikan dalam bentuk olahan. Karena wujudnya masakan daging dalam kardus lengkap dengan nasinya, sayur-mayur dan minumannya, maka penerima ada yang bilang ini daging kurban atau akikah massal?
Yang namanya daging kurban, di mana pun lazimnya diberikan dalam bentuk mentahan. Para mustahik berebut menerima jatah daging kurban dengan modal kupon. Ada juga yang pengurus mesjidnya berbaik hati dengan mengantarkan daging kurban itu dari rumah ke rumah. Ada juga saking baiknya panitia, meski tak bawa kupon diberi juga. Mudah-mudahan saja mereka ini mustahik yang butuh, bukan sengaja antri lagi untuk dijual lagi. Ini namanya mustahik yang mau cari duwik!
Gubernur Anies Baswedan memang suka bikin kejutan, jika tak mau disebut bikin program yang aneh-aneh. Dulu menyambut Asian Games 2018 di Jakarta, dibangunlah monumen bambu “Getah Getih” senilai Rp 550 juta. Warga kota banyak yang mempertanyakan, dana sebegitu banyak hanya dihambur-hamburkan untuk monumen darurat yang usianya tak sampai setahun.
Pada Idul Adha 1440 H kemarin Pemprov DKI mengumpulkan hewan kurban berupa 189 ekor sapi, 306 kambing, dan satu ekor kerbau. Dagingnya tak hanya dibagikan dalam bentuk mentahan, tapi ada juga yang dalam bentuk olahan. Penerima tak perlu lagi memasak, tinggal modal mulut langsung bisa disantap, sebab lengkap dengan nasi dan sayur mayur, tentu saja termasuk segelas air mineral sebagai penggelontor.
Ini kejutan luar biasa dari Gubernur Anies. Gubernur-gubernur sebelumnya tak pernah kepikiran sampai sebegitunya. Hanya pengganti Ahok inilah yang sangat visioner, demi memudahkan warga kota menikmati daging kurban. Kata Gubernur, ini juga bisa meningkatkan martabat para mustahik, karena bisa menikmati daging kurban rasa hotel berbintang.
Untuk memanjakan para mustahik daging kurban, lewat program “Dapur Kurban”. Gubernur Anies bekerjasama dengan Hotel Borobudur. Selama Idul Adha termasuk di hari tasyrik, setiap pagi Pemprov DKI mengirim 320 Kg daging sapi ke hotel itu. Beberapa jam kemudian sudah menjadi menu siap saji sebanyak 800 porsi, yang siap dibagikan pada para mustahik di Kampung Melayu, Kebon Sirih dan Tanah Tinggi.
Cara-cara Gubernur Anies memang tak melanggar syariah, cuma jadi ribet saja. MUI tak mempermasalahkan gebrakan Gubernur. Sebab berdasarkan kajian Fikih, hukum daging kurban bentuk olahan adalah: mubah (boleh). Dalam kondisi tertentu, maksudnya tidak umum, dipersilakan saja. Karena itu nantinya bisa saja mustahik menerima daging kurban dalam bentuk abon, tongseng-gule, bahkan gaya thengkleng Solo.
Para mustahik di hari pertama menerima 800 porsi daging kurban itu. Tapi karena selera setiap lidah tidak sama, ada yang mengomentari terlalu asin. Ada juga yang berpendapat gebrakan Gubernur Anies ini seperti orang kikahan kolosal atau partai besar.
Namanya juga diberi, tak etislah kalau protes. Hanya modal cangkem (mulut), kok mengritik macem-macem. Tapi serius, kalau bisa usul mending dibagikan dalam bentuk seperti biasanya saja. Soalnya jika sudah menjadi proyek, dikhawatirkan ada juga oknum-oknum yang bermain. Mencari untung di sela-sela kurban. Mustahik lebih memilih dalam kondisi daging mentah, terserah oleh mustahik mau dibikin apa. Mau dibukin rendang, gule, atau sate dan tongseng, terserah merekalah. (Cantrik Metaram)





