Saudaraku, pergantian tahun hanyalah pergeseran bilangan; tak serta merta membawa substansi baru.
Betapapun, kedatangan tahun baru menerbitkan fajar kesadaran betapa cepat kilatan waktu berlalu, melewati kita dlm tumpukan masalah yang tertinggal di masa lalu.
Degup jantung kita ibarat detak waktu yang setiap detiknya mengabarkan kehilangan dan penantian. Yang berlalu adalah kekinian yang lekas silam. Yang mendatang, kekinian yang lekas menjemput.
Waktu adalah milik kita yang paling berharga. Dalam kaidah ekonomi, makin jarang sesuatu dan makin sering digunakan, akan kian bernilai. Emas, misalnya, cadangannya terbatas, tetap banyak digunakan, maka nilainya sangat tinggi. Kebanyakan hal yang bisa dimiliki bisa diisi ulang. Cadangan berlian dan emas bisa ditemukan, uang bisa dicetak kembali, tetap tidak dengan waktu. Waktu yang hilang tak tergantikan. Peribahasa ”waktu adalah uang” tak sepenuhnya tepat. Waktu, sebagai sumber daya paling jarang, lebih berharga drpd uang.
Dalam penggunaan waktu juga berlaku prinsip ”opportunity costs”. Bahwa apa pun yang kita pilih utk diperbuat berisiko hilangnya kesempatan melakukan hal lain. Dengan uang, kita memiliki pilihan konservatif menyimpannya di bank, tetap tidak dengan waktu. Kita mengeluarkan waktu setiap saat. Kita ”adalah jam yang setiap saat waktu berkata sendiri”, ujar Shakespeare.
Sebuah sekte rahasia menciptakan tanda peringatan tentang pentingnya waktu di ruang bawah tanah Gereja Santa Maria della Concezione, di puncak Stupa Spanyol di Roma. Pada lantai ruangan biarawan Capuchin, di kaki gundukan tulang-belulang manusia, tertulis sebuah inskripsi, “Siapa pun kamu sekarang, merekapun pernah sepertimu. Siapa mereka sekarang, kamu pun seperti mereka kelak.”
Setiap orang pasti pulang. Sebaik-baik pemudik adalah mereka yang bisa kembali dengan meninggalkan berkah bagi yang ditinggalkan.
Nabi Muhammad mengingatkan, ”Sekiranya engkau tahu kiamat terjadi esok hari, sedang di genggaman tanganmu ada benih, maka tanamkanlah.”
Seorang muda bertanya pada syekh tua yang sedang menanam pohon. ”Untuk apa menanam sesuatu yang tuan sendiri tak akan menikmati buahnya? Syekh itu menukas, ”Apakah yang kamu makan adalah hasil yang kau tanam sendiri?”





