Lansia, Merana

Lansia di Indonesia selain harus berjuang melawan penyakit degeneratif dan komorbid yang diidapnya, sebagian juga masih harus membanting tulang untuk menopang perekonomian keluarga, anak dan cucunya. Kasihan ya!

MANTAN Pemimpin Umum dan Pemred LKBN ANTARA Parni Hadi saat temu kangen dengan para pensiunan lembaga kantor berita itu menyitir julukan “serba B” yang melekat pada kondisi para lansia umumnya.

“Pensiunan (lansia) rata-rata mengalami  “Buram” (penglihatan kabur) “Budek”, “Beser” (sering berurin), “Begah” (sesak nafas), “Buyute” (tremor), “Bengong” (gak ada kerjaan) dan last but not least “Bokek”, “ tuturnya pada acara reuni dengan pensiuan LKBN ANTARA di Jakarta, Sabtu (1/6).

Mengutip pakar kesehatan, ia menyebutkan, saat memasuki usia 35 tahun, manusia terus mengalami degradasi fungsi organ-organ tubuh antara satu dan dua persen setiap tahun sampai ia meninggal.

Faktanya, seiring bertambahnya usia, terjadi proses degeneratif tubuh atau penuaan diawali penurunan kemampuan gerak dan respons, fungsi pendengaran, penglihatan, imunitas dan ingatan serta meningkatnya risiko penyakit.

Risiko penyakit di hari tua sebenarnya juga bisa dicegah karena  sangat dipengaruhi oleh gaya hidup saat muda dan bahkan juga kondisi kesehatan saat masih balita, bayi dan juga saat dalam kandungan.

Tidak hanya satu, sejumlah penyakit akan diborong oleh orang yang saat mudanya ngadi atau mengumbar selera, jor-joran memburu kuliner, kurang gerak, kuat merokok atau mengosumsi alkohol.

Kemenkes melaporkan, 63,5 persen warga lansia mengidap hipertensi atau darah tinggi, 14,6 persen mengalami obesitas, 5,7 persen diabetes atau penyakit gula, 5,6 persen terkena pneumonia dan 4,4 persen mengalami stroke.

Tak hanya penyakit fisik, sebagian lansia juga menglami gangguan mental dan kognitif. Sebanyak 12,8 persen mengalami gangguan mental emosional dan sekitar 1,3 juta orang terkena penyakit dimensia atau kepikunan.

32 juta lansia

Menurut data BPS, saat ini terdapat sekitar 32 juta warga lansia di Indonesia atau 11,75 persen dari total penduduk Indonesia seanyak 273,4 juta jiwa dan pada 100 tahun kemerdekaan RI pada 2045 nanti, jumlah lansia naik menjadi 64 juta jiwa atau 100 persen.

Sementara Direktur Kesehatan Usia Produktif dan Lansia Kemenkes Nida Rohmawati menuturkan, pada usia di atas 45 tahun, risiko penyakit degeneratif mulai dan terus meningkat saat usia lanjut.

Ia mengakui, mewujudkan lansia sehat, mandiri, aktif dan produktif bukan hal mudah. Berbagai tantangan harus diatasi dan diantisipasi agar warga lansia tetap produktif dan berkualitas.

Hal senada dikatakan Kepala BKKBN Hasto Wardoyo yang menyebutkan, penuaan pada manusia sudah dimulai pada usia 32 tahun, setelah usia tersebut sel-sel tubuh manusia akan mati dan tak lagi terbentuk sel-sel baru.

Kondisi itu yang harus disadari dan diwaspadai tiap orang dengan memberikan perhatian lebih pada tubuh yang mengalami proses penuaan agar tetap hidup secara berkualitas.

“Setiap manusia bisa terkena penyakit, namun penyakit-penyakit itu bisa diatasi, kecuali penyakit menua, “ ujarnya.

Ironisnya lagi, menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS, 9,4 juta warga lansia di Indonesia harus tetap membanting tulang untuk menopang ekonomi keluarga, bahkan 5,7 juta atau 61 persen di antaranya menanggung beban generasi produktif (milenial dan Z).

Ke depan, agar pemerintah baru RI lebih memperhatikan para lansia, tidak saja terkait layanan kesehatan mereka, tetapi juga memikirkan program bantuan dan tunjangan di hari tua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here