Dengan sepeda angin yang dikayuh perlahan namun pasti. Sujinah, wanita yang berumur sekitar 65 tahun asal Dusun Trosobo Desa Keboguyang Kec. Jabon Sidoarjo menuju pasar Porong. Ia hendak menjual daun pandan yang dia beli dari masyarakat sekitar rumahnya. Aktifitas seperti ini sudah jauh dilakoni sebelum ada lumpur Lapindo.
Sujinah hanya gambaran kecil yang ada disekitaran wilayah terdampak lumpur Sidoarjo yang masih aktif menyembur hingga detik ini. Di sisi Desa Mindi yang belum sepenuhnya tenggelam, tampak warga mengambil material bangunan yang masih bisa digunakan.
Begitupun Jalan Raya Porong yang sudah berulang kali ditinggikan, namun tak pernah mampu menyamai ketinggian tanggul yang bisa dibilang mirip bukit anakan. Di lereng tanggul itu, tampak beberapa tangga yang bisa digunakan untuk sampai di atas tanggul guna melihat keganasan lumpur Lapindo secara gamblang.
Lumpur lapindo bisa dibilang petaka membawa berkah bagi sebagian orang. Bagaimana tidak, sebidang tanah bisa memiliki nilai jual yang cukup lumayan. Warga yang tadinya hanya memiliki satu rumah, berkat uang pengganti dari Lapindo bisa memiliki dua rumah. Adapula yang tadinya memiliki rumah, sekarang malah tidak memiliki apa-apa.
Untuk melihat langsung dari atas tanggul, para wisatawan dikenakan biaya masuk Rp5 ribu untuk tiap orangnya. Pungutan liar ini serasa menjadikan tambahan lapangan pekerjaan bagi mereka yang memandang lumpur Lapindo sebagai objek wisata baru di kawasan Sidoarjo. Ini bisa dimaklumi, karena fenomena lumpur Lapindo cukup terkenal hingga mancanegara dan pastinya bisa menarik rasa penasaran orang untuk melihatnya.
Banyak perubahan sosial yang terjadi secara drastis atas masyarakat. Yang sebelumnya rumah tangganya harmonis malah bercerai karena memiliki banyak uang untuk hidup mewah dan menghamburkannya. Adapula yang tadinya kaya malah jatuh miskin karena pola hidup yang salah. “Tapi harta bukanlah apa-apa,” tukas Kastubi warga Desa Kedung Bendo yang dibenarkan oleh Tamiati, istrinya. Dengan memegang batu bata bekas tembok rumahnya, Kastubi menitikkan air mata. “Ini adalah kampung kelahiranku, tanah di mana aku dibesarkan,” ucapnya lirih.
Betapa hancur dan remuk perasaan kedua pasangan yang usia pernikahannya sudah lebih dari 50 tahun ini. Mereka hanya bisa memandang bekas rumahnya yang sudah rata dengan tanah, bahkan pondasinya pun sudah naik ke permukaan. Tidak hanya Kastubi dan Tamiati, kejadian dan perasaan ini dialami oleh keseluruhan korban lumpur Lapindo. Bahkan masih banyak korban yang belum sempat menyelamatkan harta bendanya, namun sudah keburu terendam lumpur.
Ribuan warga yang terusir akibat keganasan lumpur Lapindo hanya bisa mengenang tempat di mana mereka tinggal. Rasa trauma masih menghantui anak-anak yang menjadi korban dan terdampak. Perlu terapi kecil untuk adaptasi di lingkungan yang baru, dan hal ini tidaklah mudah. “Beradaptasi, di wilayah baru adalah hal sulit, serta butuh proses,” kata Listiana, warga Desa Kedung Bendo yang sekarang tinggal di desa Sukorejo Buduran Sidoarjo.



