Bangsa-bangsa maju sudah lama menyadari bahwa laut adalah Lebensraum (ruang kehidupan manusia) masa depan. Alasannya, daratan diperkirakan tidak akan lagi mampu menampung keperluan umat manusia, baik dalam suplai bahan pangan dan energi, maupun tempat tinggal.
Jadi, hari depan umat manusia, termasuk manusia Indonesia, terletak di laut! Kita mau hidup atau mati secara pelan-pelan dalam kemiskinan dan kehinaan?
Demikian strategisnya laut, karena itu laut adalah wilayah kedaulatan penting yang diincar, diperebutkan dan dipertahankan oleh banyak bangsa dan negara sejak dulu kala sampai saat ini.
Menguasai laut, terutama selat, dari jaman dulu berarti menguasai “jalan air” sebagai jalur perdagangan yang berarti mengendalikan perekonomian dan sekaligus pertahanan dan keamanan suatu bangsa dan negara. Jadi, jangan heran, kalau kini banyak sengketa bilateral dan internasional, seperti klaim atas Ambalat dan Laut Cina Selatan.
Bangsa yang jaya di masa lampau adalah bangsa yang menguasai lautan dengan teknologi pelayaran, astronomi, pembangunan kapal dan armada perangnya. Karena itu, Kerajaan Inggris punya semboyan Britain rules the waves. (Gara-gara banyak korupsi semboyan itu di Indonesia diplesetkan menjadi Indonesia waves the rules atau Indonesia membuang aturan-aturan).
Sejarah penjajahan bangsa Eropa atas bangsa-bangsa lain di luar benua Eropa juga bermodalkan penguasaan atas ilmu dan teknologi kelautan, karena ekspedisi untuk menjajah bangsa-bangsa lain dilakukan lewat laut.
Kini, berkat kemajuan ilmu dan teknologi, laut menjadi wilayah kedaulatan yang semakin penting karena di dalam laut tidak hanya ditemukan ikan, tetapi juga bahan-bahan tambang, terutama minyak dan gas, sumber energi lain, bahan pangan dan obat-obatan. Laut dengan pantai daratan yang indah, gelombang yang tinggi, angin yang mendesau juga merupakan sebagai obyek pariwisata yang mempesona, termasuk wisata olah raga.
Laut juga menginspirasi lahirnya karya sastra, misalnya novel terkenal “The Old Man and the Sea” karya Ernest Hemingway. Laut juga menumbukan perdagangan dan pertukaran budaya antar pulau dan bangsa serta berbagai macam industri berteknologi tinggi untuk pengolahan kekayaan alamnya, perkapalan, konstruksi tahan air dan pertahanan/keamanan. Pokoknya laut menjanjikan hampir segala kebutuhan manusia. Tapi, di balik itu laut bisa menjadi sumber bencana, terutama akibat kerakusan dan kelalaian manusia. Contohnya: over fishing (terlalu banyak menguras ikan) dan polusi perairan karena pembuangan limbah industri dari daratan dan tumpahan minyak dari kapal tanker yang kandas dan bocor.
Akibat kurang peduli, salah urus dan korupsi, laut Indonesia yang sangat kaya dan indah pantainya menampilkan kemiskinan khas daerah pesisir, yang kotor, kumuh dan dihuni oleh kaum dhuafa.
Kerajaan-kerajaan besar Indonesia dulu juga terkenal dengan keunggulan mereka dalam menguasai lautan. Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Sumatera dan Kerajaan Majapahit yang berpusat di Jawa adalah dua imperium yang dihormati bangsa-bangsa lain di luar kawasan Nusantara.
Setelah itu muncul Kerajaan Samudera Pasai di Aceh, Kerajaan Demak di Jawa dan Kerajaan Goa di Sulawesi dan beberapa kerajaan lain sebagai penerus kedua imperium tersebut. Tetapi, mereka kalah bersaing dengan bangsa-bangsa Eropa yang bergerak ke Nusantara untuk mencari rempah-rempah.
Kapal bangsa Eropa lebih besar dengan tiang layar yang lebih tinggi dan layar yang lebih lebar, sehingga bisa melaju lebih cepat. Ditemukannya mesiu dan mesin uap, semakin menambah keunggulan armada laut bangsa Eropa atas kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Dulu pelaut-pelaut Nusantara berlayar sampai ke Madagaskar dan wilayah Afrika Selatan dan meninggalkan jejak peradaban di wilayah itu, di antaranya adalah ditemukannya kosa kata yang sama dengan bahasa daerah Indonesia.
Keunggulan nenek moyang kita itulah yang kemudian mengilhami lahirnya lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut.” Sayang, lagu itu sekarang sudah jarang diperdengarkan, dibandingkan pada tahun 50-an dan 60-an, yang menjadi lagu yang wajib dihafal anak-anak sekolah. Padahal, katanya kita bangsa bahari.



