Lebaran Budaya Indonesia

Kue jipang produk Mandiraja Pemalang (Jateng) terbuat dari beras ketan.

GARA-gara Presiden Jokowi promosikan bipang Ambawang Kalimantan, jagad maya pun heboh. Presiden dituduh “terpeleset” karena menganjurkan rakyatnya makan babi panggang di hari Lebaran. Padahal mudik Lebaran, bukan monopoli orang Islam. Tradisi ini sudah menjadi budaya orang Indonesia. Sebab dalam prakteknya, non muslim pun ikut mudik dan sekaligus merayakan Lebaran. Inilah Indonesia yang sarat toleransi keagamaan.

Berdasarkan survei Kedai Kopi, 84 persen rakyat Indonesia patuh akan seruan Presiden, untuk tidak mudik Lebaran dulu, demi mencegah penyebaran penyakit Corona. Sebab kerumunan masa sebagaimana di India, bisa menimbulkan kluster-kluster baru Covid-19. Tapi meski yang bandel mudik Lebaran itu hanya 16 persen, karena jumlah penduduk Indonesia sebanyak 270 juta termasuk bayi-bayinya, cukup mencemaskan juga.

Dalam rangka peringatan Hari Bangga Buatan Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Perdagangan, Presiden Jokowi berkenan memperkenalkan berbagai kuliner daerah di masa pandemi Corona. Karena itulah beliau memberikan solusi bagi rakyatnya. Tanpa mudik, bisa menikmati makanan khas daerahnya. Tanpa capek-capek keluar banyak ongkos, sudah bisa mengobati rasa rindu akan makanan khas daerahnya.

Siapapun orangnya, Presiden RI adalah pemimpin rakyat Indonesia yang memeluk berbagai agama. Meski Presiden Jokowi Islam, beliau  harus juga menghormati rakyatnya yang non muslim. Karenanya dalam konteks mudik Lebaran di masa pandemi Covid-10, tak ada salah ketika Jokowi mengatakan, “Yang rindu kuliner kampung halaman, bisa pesan makanan lewat online. Misalnya, gudeg Yogya, bandeng Semarang, siomay Bandung empek-enmpek Palembang, bipang Ambawang Kalimantan; tinggal pesan.”

Promosi presiden paling ujung itulah yang menyebabkan heboh. Alasannya, tidak eloklah di hari Lebaran Presiden kok promosikan babi panggang yang jelas-jelas haram bagi umat Islam. Lho, Lebaran kan sudah bukan monopoli orang Islam lagi. Di hari Lebaran kan banyak umat non muslim juga mudik dan ikut merayakan Lebaran. Sudah bukan rahasia lagi, meski non Islam di Jawa tetap ikut buka pintu dan siapkan berbagai makanan di hari Lebaran. Bahkan, banyak juga ora nasrani yang dikhitan sebagaimana orang Islam.

Karena itulah yang non Islam silakan saja Lebaran dengan menikmati babi panggang, sementara yang Islam menikmati kuliner opor ayam dan ketupat plus sambel kreceknya. Tak eloklah jika menyebut Lebaran milik orang Islam, karena sekali lagi, Lebaran sudah menjadi budayanya orang Indonesia. Janganlah kita mempersempit wawasan karena bingkai agama.

Dalam bahasa anak sekarang, berwawasan sempit dalam hal apapun, disebut dengan istilah “kurang piknik”. Tapi bagaimana mau piknik, sebab  di masa pandemi in obyek-obyek wisata hanya untuk wisatawan lokal saja. Artinya, orang Jakarta hanya boleh ke TIJA Ancol atau Bonbin Ragunan. Lalu bonbin Gembiraloka khusus untuk orang Yogya. Orang Jakarta piknik ke Yogya dilarang keras, karena siapa tahu di kantongnya ada muatan Covid-19.

Maka sebagaimana kata Presiden, lewat online orang asal Ambawang Kalimantan tetap bisa menikmati bipang, orang dari Yogya tetap bisa menikmati gudeg, orang Semarang bisa makan bandeng presto dan lompia meski tinggalnya di Jakarta. Begitu juga orang Bandung, di Jakarta tetap bisa menikmati siomai.

Akan halnya bipang, di setiap daerah memang bisa beda makna. Bila di Ambawang berarti babi panggang, di Banjarmasin justru maksudnya kue kering yang terbuat dari beras ketan. Ini makanan kegemaran anak kecil, yang di Jateng dan di Jatim bisa disebut jipang. Ada yang pemanisnya dari gula Jawa, ada pula yang dari gula pasir, sehingga dibikin warna merah menggugah selera.

Tapi jipang jangan salah dengan Aryo Jipang Panolan. Dia adalah tokoh sejarah Aryo Penangsang di masa kerajaan Mataram di abad 15. Gara-gara karakternya yang mudah emosi macam Munarman eks FPI, dia terbunuh oleh keris Kyai Setan kober milik sendiri, gara-gara hendak membunuh Sutawijaya yang kelak bernama Panembahan Senopati. Dalam tontonan kethoprak, lakon Aryo Penangsang sangat digemari penonton. Mereka selalu menunggu adegan Aryo Penangsang sedang makan, lalu marah-marah saat membaca surat Pangeran Hadiwijaya, dan kemudian membalikkan meja makan. (Cantrik Mataram)

           

 

 

 

           

 

Advertisement