JAKARTA, KBKNEWS.id – Empat anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di kapal tanker MT Honour 25 akhirnya berhasil dibebaskan setelah lebih dari lima bulan disandera kelompok perompak Somalia.
Keempat WNI tersebut yakni Kapten Ashari Samadikun (34), Wahudinanto (48), Adi Faizal (27), dan Fiki Mutakin (25).
Mereka merupakan bagian dari 17 pelaut yang berada di atas MT Honour 25 saat kapal dibajak di lepas pantai Somalia pada April 2026.
MT Honour 25 saat itu membawa sekitar 18.500 barel minyak menuju Mogadishu, Somalia. Setelah dibajak, keempat WNI harus menjalani masa penyanderaan selama lebih dari lima bulan sebelum akhirnya dibebaskan pada 29 September 2026.
Pembebasan dilakukan melalui operasi khusus gabungan Puntland Maritime Police Force dan Pemerintah Federal Somalia. Dalam operasi tersebut, 16 terduga perompak berhasil ditangkap, sementara sejumlah lainnya melarikan diri dan masih dalam pengejaran.
Menteri Luar Negeri Arrmanatha C. Nasir mengatakan pemerintah Indonesia sengaja merahasiakan proses pembebasan untuk mencegah informasi mengenai negosiasi dimanfaatkan para pembajak.
“Memang sejak awal kita tidak terbuka memberitahukan kepada media bagaimana proses ini, karena ini adalah proses perundingan, negosiasi, dan diplomasi yang kita tidak ingin digunakan oleh pihak pembajak untuk menekan kita. Dalam situasi seperti ini, kita menjaga agar semua proses tertutup agar tidak merugikan WNI kita,” jelasnya kepada awak media, Selasa malam.
Pemerintah Indonesia juga tidak melakukan negosiasi resmi ataupun membayar uang tebusan kepada kelompok perompak.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Nairobi, Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji, mengatakan pembayaran tuntutan pembajak dinilai dapat mendorong terjadinya aksi pembajakan berikutnya.
“Pemerintah kan tidak secara resmi bernegosiasi dengan pembajak. Karena apabila kita bernegosiasi, kemudian memberikan apa yang diminta pembajak, pertama, itu tidak sesuai dengan aturan internasional, dan itu men-encourage pembajakan-pembajakan selanjutnya. Jadi sepertinya pembajakan itu akan dapat reward,” kata Witjak.
Sebagai gantinya, Indonesia menawarkan kerja sama dengan otoritas setempat dalam bidang blue economy, pengelolaan perikanan, hingga penegakan hukum laut.
Salah satu kisah paling menegangkan dialami Fiki Mutakin. Saat operasi pembebasan berlangsung, ABK asal Bogor, Jawa Barat, itu sempat diikat dan dijadikan calon korban eksekusi oleh para perompak.
Fiki kemudian dilepaskan untuk membantu mengoperasikan crane dan menurunkan sekoci yang akan digunakan perompak melarikan diri. Dalam insiden tersebut, Fiki juga sempat ditembak hingga harus berpura-pura mati untuk menyelamatkan diri.





