
DI BAWAH sorotan mata dan empati masyarakat dunia serta kerja luar biasa tim penyelamat, akhirnya 12 remaja anggota tim sepakbola “Wild Boars” dan seorang pelatih mereka yang terperangkap di goa Tham Luang, Chiang Rai, Thailand sejak 13 Juni berhasil diselamatkan seluruhnya.
Selain terjebak di titik gua berjarak empat Km dari jalur pintu masuk gua, sebagian lorong gua yang sempit, bahkan hanya cukup untuk dilalui satu orang, sebagian juga tertutup lumpur pekat dengan jarak pandang nol dengan titik tersulit di simpang lorong Som Yak yang berbentuk huruf “T” membuat operasi penyelamatan itu sangat berbahaya dan berisiko tinggi.
Sulitnya medan juga tergambar dari tewasnya seorang anggota tim penyelamat dari satuan khusus SEAL (Sea and Land) AL Thailand, Jumat lalu (6/7) akibat kehabisan oksigen dalam perjalanan pulang dari titik lokasi para korban melalui jalur sama dari mulut gua. Sebanyak 13 penyelam kelas dunia dan lima anggota satuan SEAL AL Thailand dikerahkan dalam operasi penyelamatan yang dramatis tersebut.
Operasi penyelamatan berisiko tinggi selain akibat medan yang sulit, juga sebagian besar ABG tersebut tidak bisa berenang, apalagi menyelam, sehingga mereka di dalam goa mendapatkan training kilat dari anggota tim penyelamat.
Selain membahayakan keselamatan mereka, kepanikan saat melalui lorong sempit di kepekatan lumpur, dikhawatirkan juga bisa membahayakan tim penyelamat. Tim penyelamat juga harus berpacu dengan waktu, karena jika tidak dilakukan segera, tinggi permukaan air (bercampur lumpur) terus naik dan baru akan surut lagi usai musim penghujan empat bulan mendatang.
Acungan jempol juga patut diberikan oleh masyaralat dunia pada pemerintah Thailand yang melakukan operasi penyelamatan secara “all out” dengan mengumumkan Hari Penyelamatan sejak Minggu lalu (8/7) diikuti sukses setelah kelompok pertama terdiri dari empat anak berhasil dievakuasi keluar goa setelah sembilan jam bergulat dengan maut menerobos lumpur di lorong-lorong gua.
Solidaritas yang diberikan rakyat Thailand atas musibah ini juga patut ditiru. Ada petani yang merelakan sawah dan peternakan bebeknya digenangi air yang dipompa dari goa untuk menurunkan ketinggian permukaan air, ada yang memberikan layanan pijat bagi anggota tim penyelamat yang kelelahan dan ada pula yang mendirikan dapur umum serta layanan ojek gratis dari dan menuju lokasi bencana.
Kelompok kedua, empat anak berhasil dievakuasi, Senin (9/7), kemudian hari berikutnya, Selasa pagi (10/7) empat korban lagi, dan operasi penyelamatan korban terakhir, satu anak bersama pelatih sepakbola, diputuskan hari itu juga karena selain permukaan air sudah mulai naik, dikhawatirkan kondisi kejiwaan keduanya yang ditinggalkan akan terguncang. Kedua korban terakhir akhirnya bisa diselamatkan Selasa malam waktu setempat.
Selain hasil kerja luar biasa tim penyelamat, seorang anggota mereka, Ivan Karadzik mengaku, keberhasilan operasi penyelamatan itau juga tidak terlepas dari anak-anak korban tersebut yang menunjukkan mental baja. “Luar biasa, bagaimana anak-anak itu bisa tenang saat berjam-jam menyelam di tengah lumpur pekat dengan jarak pandang nol seperti itu,” katanya dengan nada heran.
Kemampuan anak-anak tersebut bertahan hidup di tengah kegelapan di goa selama dua pekan, dan keberadaan mereka ditemukan oleh tim setelah 10 hari terjebak di goa juga ikut berkontribusi menyelamatkan mereka dari intaian maut. Dari tayangan TV, tampak seorang anak dimasukkan dalam kapal selam mini berupa “kapsul” seukuran tubuhnya, kemungkinan milik milyarder AS, Elon Musk yang sebelumnya menjanjikan bantuan alat buatan pabrik roket miliknya. Musk juga terjun langsung dari AS ke lokasi bencana.
Ke depannya, sebagai pembelajaran, mungkin rambu-rambu peringatan perlu dipasang di lokasi-lokasi wisata yang berpotensi mengundang bahaya seperti di mulut-mulut gua yang juga banyak terdapat di Indonesia.(AP/AFP/Reuters/ns)




