Lupakan Para Eks WNI ISIS

Perempuan ISIS, para tuan tak berwajah. Gara-gara terbius internet, banyak orang Indonesia tertipu rayuan ISIS.

JIKA ditilik dari rasa kemanusiaan, memang kasihan juga nasib 600 eks WNI yang jadi kombatan (tentara) ISIS di Suriah itu. Setelah pasukan pengagung gerakan khilafah itu terdesak dan kalah, mereka terlantar seperti orang kabur kanginan. Akhirnya mereka merengek ingin kembali ke Indonesia. Tapi jika melihat kelakuan mereka selama ini, yang menganggap pemerintah RI thogut, sampai-sampai menyobek paspor miliknya, biarkan saja mereka out! Lupakan saja para kombatan, tak perlu diurus dan  dipulangkan. Biar jadi pengajaran buat mereka yang telah membenci negara sendiri.

Kabar ingin kembalinya para eks WNI itu bermula dari Menag Fachrul Razi mengutip pernyataan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris) bahwa pemerintah akan pulangkan 600 eks kombatan (tentara) ISIS dari Suriah. Tiba-tiba Menag kita meralat ucapannya bahwa beliaunya tak pernah mengatakan demikian. Tapi Presiden Jokowi menolak, Menko Polhukam Mahfud MD juga demikian. Apa keputusan resminya baru disampaikan bulan Juni mendatang. Coba, apa nggak sakitnya sampai di sini, mereka sudah empot-empotan, tapi pemerintah Indonesia angin-anginan.

Orang-orang yang membanggakan negara khilafah, dan mereka ingin Indonesia seperti itu, kini populer disebut kadal gurun atau kadrun. Ketika pemerintah menolak dan kemudian membubarkan HTI “agen” negara khilafah, para kadrun ini jadi benci pada negara sendiri. Terbius rayuan ISIS lewat internet, mereka pun beserta keluarganya memilih tinggalkan Indonesia bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah.

Hingga 2017 tercatat sebanyak 617 WNI yang eksodus ke pangkalan ISIS di Irak dan Suriah. Mereka ini yakin bahwa bersama ISIS akan terciptalah negara baldatun toyibatun warobbun ghofur (negara adil makmur penuh ampunan Allah Swt). Begitu yakinnya para kadrun ini akan “negara surgawi” yang ditawarkan ISIS, mereka rela melepas segala asetnya dan memboyong sanak keluarganya ke Suriah-Irak. Begitu yakinnya takkan kembali selamanya ke Indonesia, sampai-sampai ada yang menyobek-nyobek paspor RI miliknya.

Padahal kenyataannya para kadrun itu malah ketipu. Di Suriah dan Irak sana, apa yang dijanjikan ISIS hanya gombale mukiyo (bohong) belaka. Tak ada itu jaminan hidup berkecukupan, tak ada gaji yang tinggi bekerja pada ISIS. Justru mereka di sana para lelaki dan suami dipaksa perang di bawah panji-panji ISIS, sementara perempuannya banyak dijadikan budak seks. Mereka dikawin paksa sekedar untuk penyaluran syahwat. Pagi-pagi para kombatan minta jatah perempuan ke ibu penampungan, seperti anak minta sarapan, tapi ini “sarapan” untuk yang di bawah perut.

Ketika ISIS terdesak dan kalah, para kadrun atau eks kombatan ISIS jadi terlantar, bahkan banyak yang ditahan. Mereka menyesal, ingin kembali ke Indonesia. Jumlahnya sekitar 600 orang. Kepala BNPT Suhardi Alius memberi lampu hijau, kemudian Menag Fachrul Razi “menggarisbawahi”, meski kemudian membantahnya.

Presiden Jokowi –  Menko Mahfud MD secara pribadi menolak pulangkan mereka, sikap resmi pemerintah diputuskan bulan Juni mendatang. DPR juga jas bukak iket blangkon, sama jugak sami mawon. Bahkan pakar hukum internasional Hikmahanto Juwana mengatakan, mereka sesungguhnya sudah bukan lagi WNI, sebab sejak mereka tinggalkan RI diam-diam untuk jadi tentara negara asing, gugurlah kewargaan negaranya.

Pasal 23 UU Kewargaan Negara telah mengatur hal itu. Karenanya Guru Besar UI itu menilai, pemerintah tak perlu pusing memikirkan mereka. Memulangkan mereka sama saja menciptakan problem baru bagi lingkungannya. Misalkan pemerintah menerima mereka, belum tentu lingkungan tetangga bisa menerima. Iki kan sama saja menciptakan penyakit baru. Paling berbahaya,  bisa saja paham radikalisme para kadrun itu ditularkan bak virus Corona.

Maka akur dan MTT (mathuk thok = setuju) atas sikap pemerintah dan DPR. Mereka orang-orang yang kufur nikmat, tak mau mensyukuri nikmat Allah, ditakdirkan jadi manusia Indonesia yang damai. Oleh karenanya biarkan dan lupakan saja mereka, ilang-ilangan endhog nem atus! Biarkan saja mereka merenungi dan menyesali nasibnya di Irak dan Suriah sana. Mereka telah membenci negaranya sendiri, bahkan ada yang merobek-robek paspor Indonesia. Kita tak peduli lagi pada para bekas tentara ISIS, justru akan terasa isis (menyegarkan). (Cantrik Metaram)

 

Advertisement