
KECUALI menggibah, semua hobi perlu biaya, dari yang murah sampai mahal. Tapi pasca tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, hobi nonton bola ternyata tak cukup modal uang saja, tapi harus punya juga nyawa pitulikur (baca: punya nyawa rangkap). Sebab siapa tahu ada lagi suporter ngamuk, sehingga misalkan nyawa di badan tercabut gara-gara terinjak-injak atau kena semprot gas air mata, nyawa serep dengan cepat menggantikannya.
Jangan tertawa dulu, apa lagi buru-buru deklarasikan Capres. Kita bangsa Indonesia, baik yang hobi bola maupun tidak, minggu-minggu ini sedang berkabung. Sedikitnya 180 jiwa melayang, saudara-saudara kita pergi lebih cepat gara-gara hobi nonton bola, ketika Persebaya – Arema berlaga di Stadion Kanjuruhan kota Malang. Terlepas siapa yang salah, polisi atau panitia yang ngeyel pada saran polisi, kita berdoa semoga arwah para korban diterima di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan bisa menerima takdir ini.
Olahraga itu katanya membangkitkan sportivitas, siap menerima kekalahan. Ternyata itu hanya mudah diucapkan, karena faktanya Arema FC tidak terima jagoannya kalah. Ngamuklah mereka. Gara-gara mental sumbu pendek, ratusan nyawa hilang sia-sia. Bukan saja penonton yang jadi korban, mungkin juga para suporter kalap itu ada yang ikut wasalam di lapangan hijau gara-gara kekonyolannya sendiri.
Sepakbola memang olahraga paling populer sedunia, yang digemari rakyat kecil sampai petinggi negara.Yang banyak duit, hanya nonton Piala Dunia dibela-belain sampai ke Spanyol (1982), Meksiko (1986) dan Brasil (2014). Bahkan untuk gelaran Piala Dunia di Catar Nopember mendatang, orang kaya penggila bola sudah siap-siap beli tiket.
Untuk yang kantong cekak, setiap Piala Dunia atau pra Piala Dunia berlangsung siap begadang di depan TV sampai esok paginya ngantuk di kantor. Bila ngobrol bola di depan sesama penggemar bola, gayanya sudah seperti pengamat bola Bung Kusnaeni atau Tommy Waelly.
Padahal bagi orang yang tidak suka bola, dia merasa heran kenapa hanya nonton bola satu diperebutkan 22 pemain kok harus begadang setiap malam. Bahkan nonton langsung ke luar negri dengan biaya puluhan juta hingga ratusan juta. Ketimbang satu bola diperebutkan 22 pemain, kenapa tidak dibagi satu-satu saja, kan aman. Penontonnya takkan sampai berantem seperti di Stadion Kanjuruhan.
Tapi yang namanya hobi memang luput cinatur (jangan diperdebatkan). Dia siap keluarkan dana berapa saja asalkan hobinya terpuaskan. Semua hobi perlu dana. Sekedar hobi jalan kaki setiap pagi saja, pasti memerlukan biaya. Saat istirahat di warung misalnya, entah itu sarapan atau sekedar minum the pasti merogoh kocek.
Pernah penggemar bola ketemu penggemar wayang kulit, mereka lalu saling berolok-olok. Yang seneng wayang kulit bilang sebagaimana di atas, bola satu kok dikejar-kejar 22 pemain, begitu sudah dapat ditendang lagi. Dia pun membalas sang penggemar wayang kulit, “Dalang wayang kulit kan orang gila, tanya sendiri dijawab sendiri.”
Memang, penggemar wayang kulit sama gilanya dengan penggemar sepakbola. Tinggal di Jakarta, tapi ketika dalang kesayangnnya main di Bogor atau Bandung, dikejarnya sampai kota itu. Sampai sang istri pun bertanya, nanti di Bandung nginepnya di mana? “Nonton wayang kok nginep, ya sampai pagi tetap di arena pertunjukan.” Jawab suami.
Demikianlah, sampai beberapa minggu ke depan kita akan terus membicarakan tragedy bola Stadion Kanjuruhan. Gara-gara orang bersumbu pendek dan tak bisa menerima kekalahan, banyak jatuh korban dibuatnya. Yang tewas belum ada angka pastinya, ada yang menyebut 180-an, ada yang menulis 130-an. PSSI juga bakal kena sanksi FIFA, sejumlah perwira polisi dicopot termasuk Kapolres Malang. Tapi itu harus disyukuri. Masih beruntung hanya dicopot jabatannya, sebab ada dua orang polisi yang dicopot nyawanya karena menjadi korban kerusuhan saat mengamankan tragedi itu. (Cantrik Metaram).




