Mahasiswa Korban Pinjol

Ilustrasi mahasiswa (Foto: Ist)

MEMBACA judulnya saja tentu banyak yang berasumsi, para mahasiswa IPB Bogor sampai ngutang-ngutang karena transveran orangtua dari kampung telat atau macet. Tapi ternyata mereka ini di samping cari ilmu ingin pula tambahan penghasilan. Ketika mereka ikut berinvestasi akibat bujukan penipu, total jendral 333 mahasiswa berbagai perguruan tinggi menderita rugi sampai Rp 2,3 miliar. Padahal mahasiswa itu biasanya kritis, tapi kali ini kok ironis.

Pelakunya, SAN, 35, semalam sudah berhasil ditangkap dari rumahnya di Ciomas, Bogor. Modusnya adalah, pelaku mengajak para mahasiswa untuk berinvestasi ke toko online miliknya.  Setiap “investor” akan dapat keuntungan 10 persen sebulan dari uang yang diinvestasikan pada SAN. Sebulan dua bulan memang lancer. Tapi selanjutnya wasalam.

Sebetulnya penipuan model begini sudah kuno. Sebelum ada onlin-onlinan,  sudah banyak orang kena tipu investasi abal-abal model begini ini. Yang perlu dipertanyakan, kenapa mahasiwa yang biasanya kritis pada pemerintah sampai demo segala, giliran membayangkan untung banyak dari bisnis online, mendadak tumpul daya pikirnya. Mau cari untung malah buntung. Nanti bila orangtua tahu salah-salah bisa digantung!

Rata-rata mahasiswa kan masih mengandalkan biaya dari orangtua, hanya satu dua yang kuliah dengan biaya sendiri. Mereka setiap bulan dapat transveran dari orangtuanya. Tapi karena tergiur investasi online yang ternyata abal-abal, uang untuk biaya pendidikan dan biaya hidup beserta tempat tinggalnya, malah diputer untuk “bisnis”. Sekali dua kali untung, tapi setelahnya wasalam. Sebab penipu membayar keuntungan juga dari uang mahasiswa itu sendiri.

Mahasiswa mengandalkan kiriman uang dari orangtua, untuk dewasa ini sudah demikian praktis. Tinggal masukkan kartu ATM, duit kiriman orangtua dari kampung halaman langsung bisa ditarik. Mengabarkan bahwa duit sudah diterima tidak lagi pakai surat, cukup dengan telpon di HP atau WA.

Dulu tahun 1970-an ke bawah, mahasiswa asal Sumatra yang sekolah di Yogyakarta, setiap bulan mengandalkan kiriman wesel dari orangtuanya. Jika kiriman telat, terpaksa merayu teman sekelas, untuk pinjam sementara. Bila semua cara mentok, banyak pula yang menggadaikan baju atau jam tangan, atau juga sepedanya. Jaman itu Pegadaian Negeri masih menerima baju untuk jaminan.

Saat sekolah di PGA Muhammadiyah Gedong Tengen Yogyakarta tahun 1967-an, penulis punya teman Marwan MZ, anak Baturaja (Palembang). Beberapa kali penulis lihat dia membawa bungkusan koran yang ternyata isinya baju hem untuk digadaikan. Alasannya wesel dari orangtuanya telat. Nanti jika wesel sudah tiba, baju pun ditebusnya lagi. Begitu itu berulangkali.

Lima puluh tahun kemudian, penulis mendapatkan data teman lama itu berikut nomer teleponnya. Dia sudah pensiun dari PNS BKKBN Palembang dan kembali ke kota asalnya di Baturaja dekat pabrik semen. Nah, kukerjain Marwan MZ temanku itu. Begitu dia mengangkat teleponku, saya langsung bilang, “Selamat sore, maaf, ini saya bicara dengan Pak Marwan sendiri?” Suara di seberang mengiyakan. Penulis melanjutkan pembicaraan, “Maaf Pak Marwan, kami dari Pegadaian Negeri Ngupasan Yogyakarta mau melaporkan, ini ada baju hem warna merah jambu yang digadaikan tahun 1967, sampai sekarang belum ditebus, Bapak!”

Dia kaget sekali. “Masak sih, seingatku semua sudah ditebus!” katanya. Saya pun langsung tertawa ngakak. Mendengar gelak tawa penulis, dia baru ngeh kalau dikerjain. “Siapa ini ya? Ini pasti teman lama di PGA dulu!” katanya. Setelah saya menyebut nama, barulah dia ikut tertawa terbahak-bahak. “Iya, iya. Kamu dulu memang  tahu persis penderitaanku.” Ujarnya.

Kita pun bernostalgia, mengingatkan kenangan ketika demo di Yogya tahun 1966 untuk turunkan Presiden Sukarno sampai 2 pelajar sekolah Muhammadiyah gugur kena tembak, yakni Aris Munandar dan Margono. Kami dulu sama-sama bikin puisi di koran “Mercu Suar” milik Muhammadiyah. Bila Marwan dulu menulis di suratkabar sekedar hobi, sedangkan penulis menjadi pekerjaan hingga kini.

Banyak kenangan mahasiswa di perantauan, terutama harus menggunakan aji pengiritan agar kiriman uang dari orangtua awet. Agar tidak boros, banyak yang masak sendiri. Ada pula yang menggunakan politik waktu makan.  Makan pagi jam 10:00 dan makan malam pukul 21:00. Dengan demikian sehari cukup makan dua kali.

Ketika jajan di kantin juga ada yang nakal dengan cara “darmaji” alias dahar lima ngaku siji (makan 5 tetapi ngaku 1). Ada pula yang ketika masak sendiri menunya selalu sayur lodeh. Kata temanku mahasiswa UGM yang kini jadi Bupati Magetan. “Sayur lodeh itu tambah hari malah tambah nikmat!” Begitu katanya. (Cantrik Metaram)

Advertisement