Mahasiswa Pecinta Alam Baka

Ilustrasi: mendaki gunung, menantang maut, salah-salah kembali ke alam baka lebih cepat.

ORANGTUA cap apapun, menguliahkan anak-anaknya ke perguruan tinggi tentu berharap agar mereka kelak menjadi orang. Tapi dengan tragedi Mapala UII Yogyakarta, justru berlawanan dengan harapan orangtua. Ingin anak-anaknya jadi orang, justru malah jadi….. mayat! Mapala itu arti sebenarnya kan kepanjangan: mahasiswa pecinta alam. Tapi ketika 3 mahasiwa UII itu tewas karena digojlok seniornya dalam kegiatan Diksar (pendidikan dasar), Mapala justru bisa diplesetkan menjadi: mahasiswa pecinta alam baka!

Paling tragis sekaligus ironis, ketika musibah itu terjadi yang lebih responsif justru Mahfud MD yang ā€œhanyaā€ guru besarnya. Sedangkan sang Rektor UII Harsoyo, sepertinya malah lebih ā€œsantaiā€. Hingga hari ini, belum ditemukan berita statemen resmi dari Rektor misalnya, ā€œHentikan kegiatan diksar-diksaran selamanya!ā€ Bahkan ketika salah seorang orangtua mahasiswa menghadap rektor minta Mapala UII dibubarkan saja –sebagaimana diberitakan detikcom– tak ada jawaban langsung dari Rektor. Ketika konperensi pers tentang pembekuan Mapala UII, yang memberi statemen ke pers juga bukan Rektornya, tapi dari anggota Tim Crisis Center UII.

Ketika musibah sudah terjadi, biasalah pihak kampus mengucapkan duka cita dan berjanji akan mengusut kasus ini secara tuntas dan terbuka. Tapi semua ini hanya merupakan reaksi standar penuh basa-basi. Padahal Mahfud MD Guru Besar di Fakultas Hukumnya, begitu mendengar kejadian itu langsung kaget dan terpukul. Sejak dia jadi mahasiswa UII tahun 1978, baru kali ini Mapala UII bikin geger. Selama itu kegiatan Mapala sangat santun dan tinggi komitmen kemanusiaannya.

Tiga mahasiswa UII yang tewas adalah Ilham Nurfadmi Listia Adi (20), Muhammad Fadli (19), dan Syaits Asyam (19). Bersama 34 teman-temannya mereka mengikuti kegiatan TGC di lereng selatan Gunung Lawu di Desa Gondosuli, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, pada 13-20 Januari 2017. Lima korban lainnya kini masih dalam perawatan rumahsakit. Sungguh kasihan mereka, maunya jadi mahasiswa pecinta alam, justru menjadi mahasiswa pecinta alam baka.

Mapala memang banyak diisi oleh mereka yang gemar petualangan. Sebab kegiatannya selalu berhadapan dengan medan-medan berat, yang kadang-kadang bertaruh nyawa. Kelas di bawahnya adalah perploncoan, yang kadang-kadang juga bertaruh nyawa. Sebab di banyak kejadian, meski perploncoan tak seberat Mapala, dari tahun ke tahun ada saja mahasiswa yang wasalam jiwanya karena penggojlokan kebablasan oleh para seniornya.

Perploncoan yang dulu hanya untuk kalangan mahasiwa, sejak tahun 1970-an sudah bikin latah para siswa SMA dan sekolah sederajatnya. Mereka ikut-ikutan menggelar perploncoan, dengan kegiatan dan aksesoris aneh-aneh yang katanya untuk latihan mental para generasi muda penerus bangsa. Tapi dari banyak kejadian, perploncoan dari kalangan pelajar maupun mahasiswa, sering menimbulkan jatuh korban, dari yang cacat sampai kehilangan nyawa. Padahal yang namanya kehilangan nyawa, sama saja berhenti jadi orang!

Mapala UI (Universitas Indonesia) paling terkenal sejak tahun 1970-an, sekarang yang ngetop justru Mapala-nya UII (Universitas Islam Indonesia). Ini semua karena para senior selaku penyelenggaranya bertindak kebablasan. Bagaimana mungkin, maunya menciptakan mahasiswa pecinta alam, kok salah kedaden (baca: di luar dugaan) menjadi mahasiswa pecinta alam baka.

Cinta atau tidak cinta, pada saatnya nanti setiap manusia memang akan masuk ke alam baka. Al Qur’an pun (surat Anbiya ayat 35) Ā telah mengingatkan, kullu nafsin dzaikatul maut (setiap makhluk bernyawa akan merasakan mati). Tapi jika mungkin, maunya minta ditunda saja atau dimundurkan. Jika ajal pun sampai, maunya meninggal dengan tenang, bukan karena digojlok dalam kegiatan mapala. (Cantrik Metaram)

Advertisement