DEPOK – Tongkat elektronik yang dilengkapi dengan sistem radar dan Global Positioning System (GPS), berhasil diciptakan tiga Mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Indonesia untuk membantu penyandang tunanetra memetakan objek dihadapannya.
Ketiganya adalah Suharsono Halim (Teknik Elektro 2012), Finna Handafiah (Teknik Industri, 2013) dan Ria Aprilliyani (Teknik Elektro, 2013), di bawah bimbingan Dosen Teknik Elektro UI Arief Udhiarto.
Kelebihan tongkat elektronik dibanding tongkat konvensional adalah tongkat elektronik dapat memetakan objek pada lebih dari satu sudut, yaitu sisi depan, sisi kanan dan kiri pengguna tanpa harus meraba-raba.
suharsono menjelaskan, “Alat ini juga mampu mengirimkan titik koordinat posisi pengguna kepada kerabat sehingga penyandang tunanetra tidak perlu khawatir tersesat,” katanya, seperti dilansir Tempo.co, Selasa (20/9/2016).
Tongkat elektronik pun dikatakan Suharsono aman digunakan penyandang tunanetra karena tongkat dengan berat lebih kurang 1,5 kg dan panjang 1 meter ini telah melalui tahap eksperimen serta pengujian kenyamanan dan keamanan dengan sistem yang ergonomis secara langsung kepada penyandang tunanetra.
Adapun alasan mereka menciptakan alat bantu tersebut karena keterbatasan tongkat konvensional yang sudut dan jarak jangkauannya hanya terbatas pada satu sudut tertentu saja dan hanya sepanjang tongkatnya.
Demikian pula pada sisi jarak dan sudut pendeteksian objek penghalang sangat terbatas. “Ketika penyandang tunanetra memasuki wilayah/tempat baru, maka ia akan kesulitan utuk kembali pulang dan dapat tersesat.” tambahnya.
Karenanya, Suharsono dan tim menciptakan tongkat elektrik dengan cara kerja yang hampir sama dengan tongkat pada umumnya namun dilengkapi tambahan konsep radar, fitur GPS, serta sebuah rompi.
Sistem radar diperoleh dari tiga buah sensor jarak berbasis ultrasonik dan sebuah motor servo yang mampu memetakan objek penghalang disekitar penyandang tunanetra dengan jarak jangkauan maksimal 3 meter serta sudut jangkauan 1.800.
Suharsono menjelaskan dengan adanya radar ini maka penyandang tunanetra seakan dapat melihat keadaan sekitar yang diinformasikan dalam bentuk getaran motor pada rompinya yang semakin dekat dengan objek penghalang, maka getaran motor di rompi tersebut akan semakin tinggi.
Sedangkan fitur GPS memungkinkan penyandang tunanetra mengabarkan keberadaannya kepada sanak saudara/kerabat melalui titik koordinat yang dihasilkan oleh fitur GPS tersebut. Dengan menekan tombol darurat pada tongkat, alat ini akan mengirimkan posisinya kepada kerabat melalui jaringan GSM dalam format sms yang dapat dibaca melalui aplikasi yang juga telah dirancang oleh Suharsono dan tim.





