UNGKAPAN “tak ada makan siang gratis” sudah sering terdengar, maksudnya: kebanyakan orang berbuat sesuatu karena ada pamrih. Tapi jika Prabowo Subianto jadi Presiden di 2024 nanti, ungkapan tersebut akan terbantahkan karenanya. Sebab dia ingin sekali mematahkan ungkapan lama itu, dia ingin sekali rakyat Indonesia dapat makan siang gratis dari pemerintah, termasuk susu kental manisnya yang gratis juga!
Siapa sih yang tak suka makan siang gratis? Bila dalam kondisi lapar, pastilah semua orang menyukai. Ketika kesadaran Islam semakin meninggi, kini banyak orang yang rela menyisihkan sebagian rejekinya dengan kirim nasi kotak untuk makan siang di mesjid-mesjid. Ini biasanya terjadi di hari Jumat, disebut sebagai “Jumat Berkah”. Perhatikan saja, selesai salat Jumat pastilah ada sekelompok orang antri untuk menikmati nasi kotak yang dibagikan secara gratis-tis!
Disebut gratis-tis, sebab penderma nasi kotak itu hanya mengharapkan ridla Illahi semata, tanpa berharap Anda yang menikmati untuk membalas budi baiknya. Beda dengan saat sambatan di kampung-kampung. Anda bisa saja pagi dikasih oran-oran (urap ketan) dan teh manis, lalu siang harinya makan siang bersama secara gratis. Tapi semua itu harus ada timbal baliknya, yakni bergotong royong naikkan genting atau kayu-kayu ketika tuan rumah sedang punya hajat membangun rumah.
Sebetulnya layanan makan siang gratis lebih banyak terjadi di kampung-kampung. Ketika seseorang punya hajatan, baik ketika malem midadareni atau pas resepsi itu sendiri, para tamu pasti dapat makan siang atau makan malam gratis. Tentu saja sebelum masuk ke rumah yang punya hajatan, Anda sebagai tamu “dicegat” oleh buku tamu dan kotak sumbangan yang wajib untuk mengisinya.
Memang sih makannya gratis, tapi Anda sebagai tamu punya kewajiban moral untuk menyumbang atau sedikit meringankan beban biaya yang disangga oleh tuan rumah yang sedang punya gawe. Memang bisa sih, kalau tega tentunya, Anda sebagai tamu hanya memasukkan amplop kosong atau diisi barang Rp 5.000,-. Tapi ini namanya Anda tamu yang tak punya malu. Dan sekarang banyak orang tak dikenal nimbrung dalam pesta hajatan manten di gedung, dengan target sekedar makan siang atau makan malam gratis.
Di masa kecil penulis, ketika makanan serba susah di era Orde Lama, nasi bancakan atau kepungan, banyak ditunggu anak-anak. Sebab dengan nasi bancakan itu mereka bisa makan siang gratis,meski menunya hanya sesuwir daging ayam, sayur pedas buah pepaya, tempe goreng ditambah mie. Bagi anak kecil jaman itu, enaknya luar biasa. Sampai-sampai ketika tahu ayah mereka mau bancakan, sengaja tidak main dulu. Sebab takut jika ditinggal main, nanti di rumah tidak kebagian nasi bancakan tersebut.
Ketika tetangga atau orang sekampungnya punya gawe, itu juga merupakan harapan bagi anak-anak untuk bisa makan siang gratis. Bisa dalam bentuk nasi punjungan, bisa juga dalam kegiatan jaminan (makan bersama). Ketika akad nikah sudah selesai misalnya, anak-anak berharap ikut pula memperoleh sepiring nasi bagian dari hidangan untuk para tamu.
Di masa bocah penulis, sering mengalami kejadian seperti itu. Ketika tetangga punya gawe, ikut nimbrung lek-lekan bersama teman-teman yang lain. Ketika waktu jaminan telah tiba, otomatis anak-anak dapat pula jatah yang sama. Tapi sering juga kejadian, pas nasi jaminan keluar, kami para bocah ketiduran. Ketika bangun kembali, pesta sudah usai. Para bocah hanya bisa menyesal tujuh turunan………..
Ustadz kondang Gus Miftah pernah mengakui, di masa mudanya dia banyak tidur di mesjid. Ketika “kost” di mesjid NU, soal makan siang tak pernah kesulitan, sebab dalam tradisi NU orang slametan itu dibolehkan. Tapi giliran “kost” di mesjid Muhammadiyah, tak ada orang slametan wong mati. “Maka ketika saya tinggal di mesjid NU, badan gemuk, giliran di mesjid Muhammadiyah badan jadi kurus.” Katanya sambil tertawa mengenang masa pahit dulu.
Nah rupanya Capres Prabowo ingin sekali bisa berbagi makan siang gratis bagi seluruh rakyat Indonesia. Dalam pidatonya dia pernah bilang, “Ya Allah, sebelum dicabut nyawaku, berilah kesempatan aku berkuasa, sehingga bisa kasih makan siang gratis untuk rakyat Indonesia.” Repot amat, hanya mau kasih makan siang gratis saja kenapa musti jadi presiden dulu? Itu kan sama saja pakai uang negara juga, menggerogoti dana APBN, di mana ujung-ujungnya hanya jadi kotoran belaka di WC.
Tanpa jadi Presiden pun dengan kekayaan yang dimiliki sampai Rp 2,3 triliun, bisalah Prabowo kasih makan siang gratis bagi rakyat Indonesia. Minimal seminggu sekalilah, melalui program “Jumat Berkah” di mesjid-mesjid Indonesia. Jumlah mesjid se-Indonesia dewasa ini sekitar 740.000 buah. Jika anggaran satu mesjid 50 kotak X Rp 20.000,- baru ketemu Rp 740 miliar. Tiga kali Jumatan harta Prabowo akan ludes. Tapi ingat, ini bukan kata Yusuf Mansur, tapi janji Allah Swt. Barang siapa bersodakoh akan dibalas dengan pahala 70 kali lipat. (Cantrik Metaram)





