
KITA sering mendengar ungkapan: tak ada makan siang gratis! Maksudnya adalah, tak ada usaha tanpa modal yang bahasa Jermannya biasa disebut: jer basuki mawa beya. Tetapi jika nantinya Capres Prabowo menang Pilpres, makan siang gratis dalam pengertian telanjang, itu bakal ada. Sebab bakal Capres Prabowo sudah mengatakan lewat mulut sang adik Hasyim Djojohadikusuma, “Jika Gerindra menang Pilpres maka anak SD-TK dan ibu hamil akan dapat makan gratis.” Mulia sekali bukan?
Tetapi banyak kalangan –terutama pengamat ekonomi– meragukan programnya Prabowo ini. Duitnya dari mana? Rp 400 triliun setiap tahun, itu bisa bikin ngos-ngosan APBN. Itu sama saja program hanya bakal –maaf– dadi tai (jadi kotoran) doang, kata orang Jawa. Yang dibutuhkan rakyat itu pancing atau kailnya, bukan ikan emasnya yang sudah dipepes.
Makan gratis anak SD-TK tak usah diprogram-programkan, itu sudah menjadi kewajiban setiap orangtua. Begitu juga makan gratis para ibu hamil, itu sudah tanggungjawab para suami yang menghamilinya. Masak iya sih, yang enak suami kok negara yang harus mengurusnya. Ini bukan Jepang, yang rakyatnya sudah tak kepengin berketurunan, sehingga negara kembali harus merangsangnya dengan anggaran sampai Rp 376 triliun setahun.
Jika benar ada makan gratis itu, sekali saja dalam sehari, atau 3 kali kali? Jika anak SD-TK kan jam-jam sekolah pukul 07:00 hingga pukul 13:00. Itu berarti anak-anak akan dapat makan pagi dan siang. Lha kalau ibu hamil? Itu kan berarti 3 kali sehari dan berlangsung selama masa kehamilan 9 bulan 10 hari. Dan jangan lupa, ibu hamil banyak yang suka ngemil. Kenapa kebiasaan semacam ini tak dimasukkan sekalian dalam program?
Makan gratis untuk anak SD-TK dan ibu-ibu hamil, memang terasan aneh. Meskipun aneh, misalkan terwujud yang untung para pejabat dan perusahaan katering. Pejabatnya bisa ngenthit (nyatut) anggaran, dan perusahaan katering bakal tumbuh di mana-mana. Bila anggarannya sampai triliunan, masak “sabetan” sampai miliaran nggak dapat?
Sesungguhnya yang lumrah memberi makan pada pegawainya, itu biasanya perusahaan swasta. Biasanya juga hanya makan siang. Kalau buruh bangunan, makan siangnya ditanggung pemborong atau kontraktor. Itu pun kadang ada yang nakal. Begitu proyek selesai pemborong kabur sebagaimana kisah kasus pembangunan mesjid Raya Sheikh Zayed di Solo. Ketika tunggakan makan para tukang dan buruh bangunan menumpuk sampai Rp 145 juta, begitu proyek selesai langsung kabur! Untung saja Walikota Gibran berhasil mengejar pemborong nakal tersebut, sehingga pemilik rumah makan tak sampai merugi.
Makan siang buat karyawan, itu memang rejekinya para perusahaan katering. Penulis punya famili yang bekerja di sebuah katering di Kalsel. Gara-gara Covid-19, katering tempat kerjanya jadi lesu. Maka karyawan yang sudah berusia 50 tahun lebih terpaksa di-PHK, dan korban berikutnya adalah keluarganya. Sebab begitu suami tidak kerja, istrinya minta cerai. Sadis sekali bukan? Dan ini terjadi di mana-mana, sehingga dari Sabang sampai Merauke berjajar janda-janda baru.
Selama musim pandemi Covid-19 kemarin, memang banyak katering yang bangkrut tinggal kentut. Soalnya banyak orang hajatan di gedung membatalkan acaranya, gara-gara tamu dibatasi jumlahnya oleh negara. Baru setelah Jokowi mantu Kaesang – Erina Gudono, di mana tamu sudah bebas merdeka tanpa dibatasi, usaha katering menggeliat lagi. Para MC pun kembali berkibar.
Ya, usaha katering mulai menggeliat istilahnya, itu artinya belum benar-benar normal. Masalahnya, ketika para yang punya hajat mengurangi jumlah tamunya, otomatis jumlah porsi yang diterima pihak katering juga jadi menurun. Kenapa yang punya hajat mengurangi jumlah porsi pesanannya, karena kini sedang ngetrend, tamu yang diundang hanya kirim transveran sebagai sumbangan. Bagi pengundang, sepertinya itu yang lebih penting. Soalnya kini sudah banyak penyelenggara hajatan tanpa malu-malu dalam undangannya menyebutkan: sumbangan mohon ditransver ke nomer rekening bank sekian sekian!
Mengelola usaha katering memang tidak mudah, karena harus punya banyak jaringan. Penulis jadi ingat sahabat dan guruku dalam sastra Jawa, Any Asmara pengarang sastra Jawa yang sangat terkenal tahun 1950-1966, di kala buku-buku novel Jawa sedang booming. Beliau bisa membangun rumah mentereng hanya dari mengarang buku-buku saku sastra Jawa.
Tahun 1972 ketika booming sastra telah lewat, Any Asmara bersedia menjadi Redpel minggon Parikesit di Solo. Dia jual rumahnya di Yogya dan mencoba buka katering untuk melayani karyawan kantor Parikesit. Karyawan biasanya dilayani RM Sari Jl. Slamet Riyadi (Purwosari) yang begitu lezat, diganti masakan ibu Any Asmara yang tidak enak, pada ngedumel. Ada salah satu wartawan yang nekad menulis protes di dalam rantang nasi, bunyinya: le mbathi kakehan (ambil untung kebanyakan). Membaca tulisan itu Any Asmara langsung stop, tak mau lagi melayani katering di kantornya.
Karyawan kemudian diganti dengan uang makan sehari Rp 50,- yang dibagikan setiap hari Sabtu. Bertahun-tahun nominalnya tak pernah naik, sehingga setiap terima uang transport Rp 300,- selama 6 hari, kebanyakan ludes untuk menutup bon di warung sate gule Pak Wono di Jl. Sidomulyo samping kantor Parikesit. (Cantrik Metaram)




