Makmurnya Bocah Sekarang

Ilustrasi: Anak-anak kecanduan gadget. (KBK)

MESKIPUN kita merdeka sejak tahun 1945, tetapi pemerintah mampu membangun anak negeri baru tahun 1970-an ke atas (Orde Baru). Presiden Sukarno belum bisa banyak melakukan pembangunan, karena digrecokin manusia-manusia kontra revolusi yang mengganggu jalannya revolusi kita. Maka berbahagilah bocah yang lahir setelah tahun 1970, ketika ekonomi mulai menggeliat. Murah sandang pangan, semuanya serba ada. Pengin apa saja bisa dan uangnya ada. Pokoknya makmurlah bocah sekarang, meski belum di seluruh nusantara!

Di masa pemerintahan Sukarno-Hatta, terjadi daerah konflik di mana-mana, dari pemberontakan DI/TII di Jabar/Aceh, Permesta di Ambon, PRRI di Sumbar, MMC di seputar Merapi-Merbabu (Jateng) dan Kyai Somalangu di Kebumen. Habis itu Bung Karno harus sibuk mengurus pembebasan Irian Barat (Trikora), dan mengganyang Malaysia (Dwikora). Baru saja selesai,  PKI yang pernah berontak tahun 1948, kumat lagi di ujung September 1965 (G.30.S/PKI). Presiden Sukarno capek deh……

Presiden Sukarno lengser dan dilanjutkan pemerintahan Soeharto, tingkat inflasi mencapai 600 %. Beras dan minyak tanah main jithungan (petak umpet), rakyat harus antri beras dan minyak. Banyak yang makan jagung, bulgur. Bahkan di kampung-kampung banyak batang pisang “disunat”. Tinggal batangnya dan tangkai tandannya saja, karena buahya diambil maling kelaparan, tanpa sempat menebang batangnya.

Bayi-bayi yang lahir tahun 1970-an ke bawah, matanya masih merem karena kekurangan gizi. Tapi bayi yang lahir tahun 1980-an ke atas, begitu lahir sudah bisa melek byarrrr. Itu karena ibu si bayi tercukupkan asupan gizinya. Makan apa saja boleh dan memang ada. Bayi sebelum itu, ibunya terkena banyak larangan. Makan sambel tidak boleh, tiap hari menunya sayur bayem dan rebusan daun singkong ditambah lalapan brambang (bawang merah).

Bocah-bocah lahir sebelum tahun 1970, boleh dikata klantih (terlantar). Jarang sekali makan enak, kecuali tetangga sedang punya gawe. Bapak kenduri, selalu ditunggu anak-anaknya. Es lilin dan es blok, itu nikmatnya luar biasa. Bocah sakit ketika dibelikan penek (sekarang sega kucing) atau sebotol limun, langsung sembuh. Bila ada orang menenteng sebotol limun, selalu ditanya, “Siapa yang sakit?”. Bahkan seorang mantan diplomat bercerita, setelah bekerja ditahun 1960-an gaji pertamanya langsung dipakai beli 2 botol limun dan ditenggak habis.

Bocah di masa itu membayangkan, betapa enaknya makan kerupuk satu blek (kaleng) penuh. Ada pula yang berkhayal, bila kiamat terjadi akan menjarah warung apem Mbah Wongso dekat lapangan. Ketika di rumah ada tamu, anak-anak sangat menunggu undur-unduran (sisa hidangan). Tamu pergi, sisa pacitan langsung diserbu. Maka di Solo tahun 1973 pernah terjadi, bocah balita menangis meraung-raung, karena pacitan untuk tamu ternyata ludes. “Kok dientekke….,” ratapnya.

Anak-anak dulu hari masih gelap sudah bangun hanya untuk cari mangga jatuh. Maka pernah terjadi, bulat-bulat dikiranya mangga, ternyata kotoran kuda. Nyolong jeruk rame-rame sampai jadi urusan Pak Camat. Di bulan puasa, seharian cari buah-buahan hutan seperti wuni, mundhu (semacam kesemek). Katanya, kanggo mengko sore (buat nanti malam). Padahal setelah berbuka, buah itu tak tersentuh karena kekenyangan.

Bocah tahun 1970-an demen melempari dan nggepyoki mangga di kebon orang. Anak sekarang, di bawah pohon jambu dan mangga buah berserakan, tidak lagi tertarik. Di rumah ada tamu, sebodo amat dengan sisa hidangan. Melihat jajanan pasar hanya dilirik dengan sebelah mata. Sebab kini sudah ada hamburger, piza, minumnya bukan lagi limun yang berwarna kuning merah dan hijau, tapi Coca Cola, Vanta dan Tujuh Up.

Maka berbahagialah generasi yang lahir di zaman makmur, sejak balita sudah boyan minimarket dan menu-menu Barat. Usia balita sudah banyak yang akrab dengan gadget. Anak sekarang otaknya cerdas-cerdas. Cuma selakanya, setelah jadi pejabat saking “cerdas”-nya berani main manipulasi. Jika difilmkan judulnya: Yang muda, yang berkorupsi. (Cantrik Metaram).

 

 

 

 

 

 

Advertisement