
CALON pemudik musim lebaran tahun ini hendaknya berfikir seribu kali jika tetap memaksakan diri berangkat pada hari larangan mudik, 6 sampai 17 Mei nanti, jika tidak ingin sengsara di perjalanan.
Tidak tangung-tanggung, untuk menegakkan larangan mudik bagi ASN, TNI, Polri, karyawan BUMN mau pun swasta dan unsur masyarakat lainnya, pemerintah akan melakukan penyekatan sepanjang 24 jam di 333 titik jalur mudik mulai dari Lampung, Jawa sampai Bali.
Jadi, jika dengan pengawasan yang lebih longgar di 146 titik pada musim lebaran 2020 lalu masih ada sekitar 925.000 orang yang berhasil lolos sampai tujuan, kali ini kansnya lebih kecil bagi yang masih ingin coba-coba.
Selain bakal menghadapi perjalanan yang berat, karena harus melalui jalan-jalan tikus yang kondisi jalan dan medannnya lebih berat dan juga jaraknya lebih jauh, kemungkinan peluang lolos dari pos-pos penjagaan yang lebih rapat kali ini juga kecil.
Lolos dari satu pos penjagaan, belum tentu lolos dari pos-pos penjagaan lainnya, sehingga bisa dibayangkan, jika akhirnya tertangkap di pos di tengah perjalanan, apalagi jika sudah dekat tujuan dipaksa petugas balik ke tempat pemberangkatan awal.
Taruhlah ada yang masih bisa lolos, mereka selayaknya harus berfikir, apa maslahatnya bagi sanak kerabat di kampung halaman mereka, jika kehadiran mereka cuma menularkan Covid-19 yang menyengsarakan,
Dari hasil survei Kementerian Perhubungan terungkap, 81 juta orang atau 33 persen warga akan melakukan mudik jika tidak ada larangan untuk itu, sementara 11 persen atau 27 juta orang akan tetap mudik walau ada larangan sekali pun. Jawa Tengah menjadi destinasi mudik terbanyak disusul Jawa Barat dan Jawa Timur.
Provinsi Jawa Tengah yang bakal paling banyak kedatangan pemudik juga terus mematangkan koordinasi dengan pemda tetangganya, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur untuk mengantisipasi gerakan arus mudik lintas provinsi saat larangan mudik 6 – 17 Mei nanti.
Di wilayah Jawa Tengah sendiri, program “jogo tonggo” Posko Covid-19 di level kelurahan dan desa juga dilibatkan untuk memfungsikan 4.000 lebih tempat isolasi mandiri bagi pemudik yang tiba selama 5 x 24 jam.
Menurut Plt Kadishub Jateng Henggar B. Anggoro, pemudik ke Jateng diperkirakan 4,6 juta orang, sedangkan pada 2020 yang juga diberlakukan pembatasan, hanya 925.000 orang berhasil sampai tujuan, turun drastis dibanding 7,3 juta orang pada 2019.
Persiapan-persiapan untuk melakukan penyekatan juga dilakukan oleh provinis terkait, misalnya di wilayah Polda Jawa Barat dengan 120 titik penyekatan, sudah mulai melakukan sosialisasi tentang larangan mudik dengan melakukan Operasi Keselamatan Lodaya 12 – 25 April.
Sedangkan Penyekatan di pintu-pintu keluar masuk wilayah Lampung difokuskan pada lima titik terutama di ruas jalan Lintas Sumatera, sementara di Bali di titik-titik penyeberangan seperti di pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.
Jika tidak ingin sengsara dan cari perkara, para calon pemudik diminta untuk mengurungkan niatnya, cukup bersilaturahim dari jauh, atau berkirim doa, uang atau bingkisan lebaran pada orang tua atau kerabat di kampung halaman.



