HARI Minggu kemarin (30/04) Mbah Gotho manusia tertua di Indonesia, meninggal di Sragen (Jateng) dalam usia 146 tahun. Jarang sekali orang bisa berumur sampai tiga digit, nomor cantik pula! Beberapa bulan sebelum dipanggil Sang Pencipta, Mbah Gotho memberikan resep panjang umur itu, yakni: sabar dan nrima ing pandum. Suatu perangai yang mulai langka di era manusia sumbu pendek.
Dalam luhmahfudz sudah ditentukan tentang jodoh, rejeki dan kematian seseorang. Si Fulan akan menikah dengan bintang sinetron seribu episode; atau punya rejeki melimpah ruah seperti Bil Gates; meninggal dalam bis terguling di Ciloto; itu semua sudah tertera di sana. Manusia tak bisa mengetahui, apa lagi mengkutak-katik seperti APBD DKI sebelum dikunci pakai e-budgeting.
Jatah umur juga sudah ditentukan sangat fariatif, tidak dipukul rata. Ada yang berusia pendek, ada pula yang berusia panjang. Dan Allah Swt menentukan usia manusia tidak berdasarkan kedekatan dengan umat-Nya. Nabi Adam 1.000 tahun, Nabi Ibrahim 200 tahun, Nabi Nuh 950 tahun, Nabi Isa 33 tahun. Sedangkan Muhammad sebagai nabi terakhir diberi usia 63 tahun. Kenapa usia manusia dibuat berbeda-beda, lagi-lagi hanya Allah Swt yang mengetahui.
Ketika dunia semakin tua dan mendekati hari kiamat, usia manusia rata-rata lebih pendek. Maka Mbah Gutho dari Sragen itu sangat beruntung, bisa mencapai usia 146 tahun. Orang pun jadi penasaran, apakah resepnya jika bisa berusia demikian panjang? Ternyata jawabnya sangat sederhana, “Sabar lan nrima ing pandum.” Maksudnya adalah, hidup itu harus dilalui dengan penuh kesabaran, menerima apa adanya segala pemberian Allah Swt. Sebab Allah memang mengancam, bagi orang yang tidak pandai bersyukur, siksa-Nya amat pedih (QS Ibrahim ayat 7).
Manusia sekarang susah untuk bisa berlaku sabar, bahkan cenderung jadi manusia sumbu pendek. Diprovokasi video editan langsung jadi terbakar, sehingga melupakan kebinekaan di negeri ini. Katanya sabar, memberi maaf, tapi proses hukum jalan terus. Ini kesabaran model apa, karena si Sabar anaknya Pak RT saja tak seperti itu.
Sifat nrima ing pandum juga susah ditemukan di era gombalisasi ini. Cenderung serakah dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh rejeki yang banyak. Lihat saja di DPR, katanya wakil rakyat tapi banyak yang menjadi wakil setan. Katanya politisi tapi sudah banyak yang menjadi politisi tikus, mereka mengkorupsi uang negara seenaknya. Bahkan dana pengadaan Alqur’an pun ditilep. Tapi kata MUI ini bukan penistaan agama, karena korupsi Alqur’an itu bila mana ada ayat-ayat Alqur’an yang dikurangi.
Ada juga misteri Illahi yang sampai sekarang belum terungkap. Kenapa orang yang baik perilakunya, santun tutur katanya, justru berusia pendek. Sebaliknya manusia yang selalu berbuat jahat justru berusia panjang. Padahal menurut logika akal manusia, yang berakhlak baik seyogyanya diberi kesempatan untuk memberi kebaikan di alam sekitarnya. Sedangkan yang bermental durjana silakan cepat mati ketimbang njenjemberi (bikin kotor) masyarakat dunia.
Andaikata manusia bisa memperpanjang usianya, wooo…..orang-orang kaya yang namanya masuk majalah Forbes, pasti berebut mengurusnya. Harus bayar berapa, dan formulir apa saja yang harus disiapkan, pastilah akan diusahakan. Tapi begitulah, Allah sudah memastikan bahwa kematian itu akan datang tanpa bisa dimajukan dan dimundurkan. (QS Al Araf ayat 34).
Hadits Nabi mengatakan, bersilaturahmi itu bisa membuka rejeki dan memperpanjang umur. Soal memberi peluang rejeki, itu mudah dicerna. Sebab dengan ketemu teman bisa saling menginformasikan peluang rejeki yang ada. Tapi soal “memperpanjang usia” lewat silaturahmi, susah juga memaknai. Sampai-sampai seorang ustadz dalam kultumnya menjawab dengan berkelakar, “Karena ketika malaikat Izroil datang, orang yang mau dicabut nyawanya sedang pergi.” Memangnya malaikat itu terbatasi oleh ruang dan jarak? (Cantrik Metaram)





