MEMASUKI tahun 2023 besok, semoga tak ada lagi kisah ayam-ayam kepala hitam, yang melampiaskan hasrat seksualnya tanpa pandang bulu. Ada bapak makan anak, ada mantu doyan mertua dan ada pula mertua demen menantu. Sebab manusia memang bukan ayam, karena dia punya akal budi yang menjadikan sebagai manusia budiman. Tapi yang terjadi di tahun 2022 ini, begitu banyak kisah manusia ayam, sepertinya tak kenal adat dan ajaran agama.
Lihat saja lewat Mbah Google, begitu banyak kisah begituan antara bapak dan anak serta menantu dengan mertua. Paling gres adalah kisah dari Serang (Banten). Ny. NR curhat di Tik Tok bahwa suaminya berbuat mesum dengan ibu kandung NR sampai digerebek warga. Lalu di Samarinda Kaltim, suami yang menuduh istrinya mesum dengan menantu, digetok alu saat tidur, langsung wasalam. Tapi yang terakhir ini baru tuduhan korban; jadi bisa benar bisa pula salah.
Yang jelas, selama tahun 2022 saja, bapak kandung maksa anak masuk sarung ada 16 kejadian. Lalu mertua lelaki makan mantu tercatat sebanyak 6 kali. Tambah gila lagi, menantu lelaki menggauli ibu mertua tak kurang dari 4 peristiwa. Maka benar kata Dedy Mizwar, kiamat sudah dekat, orang melepas syahwat tak peduli adat asal nikmat.
Di jaman internet yang beritanya menyebar begitu cepat, segala penyimpangan seksual dari berbagai penjuru bisa tersaji dengan mudah berdasarkan laporan ke polisi. Tahun 1970-an sebenarnya juga ada, tapi tak sempat masuk surat kabar, kecuali hanya gethok tular dari mulut ke mulut.
Misalnya yang terjadi di Solo, anak menantu menggauli ibu mertu tak sampai bikin geger. Cuma kisah dari mulut ke mulut mengatakan, ketika si mantu celamitan itu hendak melepaskan “tendangan penalty” kok sempat-sempatnya bilang, “Nuwun sewu Bu!” Langsung istri nyamber dari medan pengintipan, “Nuwun sewu dengkulmu…!” Walhasil tendangan dua belas pas ala Argentina – Prancis itu pun buyar!
Maka teman penulis yang juga orang Solo pernah mengatakan, sebetulnya kalau mau jujur, kelakuan manusia itu tak ubahnya ayam jago. Asal melihat dhere (ayam betina muda) atau babon (induk ayam) otaknya langsung ngeres dan syahwatnya mendadak bangkit. Ayam betina itu lalu dikejarnya, tak peduli di tempat sampah sekalipun, asal betinanya sudah menyerah, di situlah saatnya melepas gairah.
Karena ajaran agama dan adat saja, orang kemudian bisa mengendalikan syahwatnya. Seseorang kemudian melepaskan syahwatnya pada lelaki atau wanita yang dinyatakan sah secara hukum agama dan negara. Mau tiga kali sehari sesendok makan, silakan saja karena itu sudah menjadi hakmu dan kalau mampu. Kitab Qur’an juga menyebutkan: “Istri-istrimu adalah ladangmu, makadatangilah ladangmu bagaimana saja kalian kehendaki.” (surat Albakarah 223)
Tapi libido atau hasrat seksualitas manusia itu tidak sama. Ada yang sedang-sedang saja, ada yang hanya secukupnya, ada pula yang doyan sampai dijuluki hiperseks. Nah, Allah pun memberi ruang pada lelaki yang suka banyak porsi itu lewat surat Anisa ayat 3, “Kawinilah perempuan 1 sampai 4 sepanjang ada kemampuan. Jika tidak mampu cukup satu saja.”
Celakanya, banyak manusia yang hanya mampu secara seksual, tetapi tidak mampu secara financial, yang bahasa Jermannya: kuat di bonggol (organ vital) tapi payah di benggol (uang). Walhasil asset cuma punya satu digeber siang malam, …..capek deh. Maka kemudian muncul istri yang dengan ikhlas suami poligami atau bahkan mencarikan istri baru untuk suami, sebagai mitra tanding yang fungsi sebenarnya sebagai pengaplus sif malam atau sif siang.
Tapi ini masih mending, ada lelaki benggol payah tapi bonggol terus bergairah, kemudian cari solusi dengan kawin siri. Tambah payah lagi, banyak lelaki yang pelihara WIL (wanita idaman lain) dengan prinsip: selingkuh itu selingan indah keluarga tetap utuh. Padahal ketika istri kemudian tahu, hatinya jadi berkeping-keping macam batu splir buat ngecor bangunan.
Maka berbahagia dan bersyukurlah kaum lelaki yang libidonya sedang-sedang saja. Istri tidak perlu capek mandi junub melulu dan suami bisa lebih mengedepankan iman ketimbang “si imin”. Apa lagi bila kemampuan ekonominya pas-pasan saja, dia pun akan bersemboyan, “Istri satu saja takkan habis dimakan rayap.” (Cantrik Metaram)





