Marisini : “Saya tidak mau mati. Tolong Saya!”

Marisini, 65 th, WPS Suspect kanker serviks dan mamae. Foto: Maifil/KBK

PURWOKERTO – Marisini, 65 th, sebut saja demikian, wanita ini tak henti meneteskan air mata mengisahkan nasibnya. Ia memiliki dua orang cucu, yatim piatu, yang harus menjadi tanggungjawabnya sebagai nenek. Kedua orang tua cucunya itu meninggal karena kecelakaan ketika cucunya itu masih bayi dan suami Nek Marisini pun sudah lama tiada.

Marisini tidak merinci penyebab kecelakaan anaknya dan kenapa suaminya meninggal. Hanya saja kini Ia sebatangkara menanggung beban. Merasa tak sanggup menanggung sendiri, Ia menyerahkan satu orang cucunya kepada orang lain, ketika itu umur cucunya masih berbilang bulan. Kini Nek Marisini hanya hidup bersama seorang cucu, Bayu Adi Saputro, yang sudah berumur 15 tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Nek Marisini mencari nafkah dengan cara mengemis dan melayani laki-laki hidung belang. Di waktu muda, Nek Marisini termasuk primadona di Sri Rahayu, Purwokerto. Kawasan Sri Rahayu, sangat terkenal sebagai kawasan prostitusi terselubung dan dihuni oleh kelompok marjinal lainnya; waria, pengemis, wanita pekerja seks (WPS) dan gelandangan.

Bagi Nek Marisini, mengemis merupakan cara mudah mendapatkan uang saat ini, apalagi ketika umur sudah tidak muda lagi. Permintaan untuk kencan sudah jarang ia dapatkan. Ia sudah kalah dengan WPS muda-muda yang banyak dilirik para hidung belang yang mencari kesenangan semu.

Namun demikian dengan agak malu-malu, meski sudah nenek-nenek Marisini mengaku masih memberikan pelayanan dengan harga belasan ribu rupiah untuk para lelaki yang butuh kesenangan seperti kakek-kakek dan bapak-bapak tukang becak yang memang suka jajan.

Nek Marisini memang sudah memutus urat malunya, demi bertahan hidup. Bahkan ia sendiri tidak peduli dengan perubahan pada dirinya yang sudah sakit-sakitan. Ketika Aksi Layan Sehat (ALS) dan layanan pemeriksaan kesehatan reproduksi; kanker mulut rahim (Serviks) dan payudara (Mamae) gratis di Gerai Sehat Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) Dompet Dhuafa, Purwokerto, Jawa Tengah, Maret 2018 lalu, Nek Marisini termasuk salah satu dari tiga WPS yang dinyatakan suspect kanker mulut rahim. Bahkan Marisini berbeda dengan suspect lainnya, Ia tidak hanya menderita Kanker mulut rahim saja, ia juga suspect kanker payudara.

Pemeriksaan kesehatan reproduksi dalam rangkaian Roadshow Charity Run Fest For Awarness And Prevention “Cancer Fighter”, yang diadakan Dompet Dhuafa dan PTTEP (Perusahaan Minyak Thailand) yang dimulai November 2017 di Jakarta itu, diperiksa ratusan ibu-ibu dari komunitas marjinal di Purwokerto.

Ketika disampaikan dengan baik oleh dokter dan bidan pemeriksa, bahwa Marisini diduga terkena kanker mulut rahim dan kanker payudara sekaligus, ketika itulah hujan air mata tidak bisa dibendung oleh Marisini.

“Saya tidak mau mati, tolong saya,” tangisnya kepada tim kesehatan LKC Dompet Dhuafa Purwokerto. Suasana Gerai Sehat yang tadinya riuh karena antrean para wanita yang ingin memeriksakan kesehatan reproduksinya, menjadi semakin tidak karuan karena Marisini tidak bisa menahan tangisnya.

“Ya, bu. Nanti ibu kita bawa ke rumah sakit untuk mengobati sakitnya,” hibur Titi Ngudiati, Direktur LKC DD Purwokerto.

“Kita akan dampingi ibu dan fasilitasi untuk berobat dengan BPJS selama ibu membutuhkan pengobatan,” imbuh Titi.

Titi juga mengungkapkan, setiap hari Rabu Tim LKC Dompet Dhuafa memberikan pelayanan kesehatan di Pos Sehat Nasrullah, di gang masuk Kampung Sri Rahayu. “Di pos sehat itu Bu Marisini silahkan datang untuk memeriksakan kesehatannya, di samping pengobatan lanjutan yang diantar pakai ambulans dan pendampingan tim medis dari LKC Dompet Dhuafa Purwokerto secara cuma-cuma,” terang Titi.

Ungkapan Direktur LKC Dompet Dhuafa Purwokerto itu, mampu menghentikan isakan dari Marisini. Senyuman mulai terlihat di bibirnya, matanya berkaca-kaca penuh harap. Ia pun menghaturkan terimakasih. Di saat itulah Marisini menyadari Allah Swt masih sayang padanya, meski selama ini ia jarang mematuhi perintah-Nya. Ia berjanji untuk berubah dan akan berupaya selalu mendekatkan diri kepada-Nya. –

Advertisement