“Marshall Plan” untuk Rekonstruksi Ukraina

Salah satu program ACT. Dugaan penyelewengan dana kemanusiaan perlu diusut tuntas agar tidak digunakan oleh pengelola, apalagi membiayai aksi terorisme.

RENCANA rekonstruksi atau pembangunan kembali Ukraina yang porak-poranda sarana dan prasarananya setelah diinvasi Rusia sejak 24 Februari lalu sedang difikirkan oleh sejumlah negara dan perusahaan swasta.

Belasan negara, organisasi internasional dan perusahaan swasta sedang berkumpul di Lugano, Swiss (4/7) untuk menyusun rencana rekonstruksi ala “Marshall Plan” seperti yang dilakukan AS bersama mitra-mitranya untuk membangun kembali Eropa pasca Perang Dunia II.

Sebenarnya, pertemuan tersebut sudah dirancang sebelumnya untuk mereformasi Ukraina, namun akibat invasi Rusia, agenda pertemuan dialihkan untuk merekonstruksi negara tersebut.

Dari pertemuan dua hari tersebut diharapkan akan dirinci terkait prinsip dan prioritas untuk memulai proses pembangunan kembali Ukraina pasca perang.

Namun mengingat besarnya dana yang bakal dikucurkan, bisa miliaran dollar AS, sehingga rawan dikorupsi, sehingga agenda reformasi agaknya juga tetap diagendakan dalam program rekonstruksi Ukraina.

Sementara Ketua Komisi Eropa Ursula von Leyen menyebutkan, UE akan membuat platform rekonstruksi kerjasama pembangunan kembali Ukraina pasca perang yang akan digunakan memetakan kebutuhan investasi, koordinaksi aksi dan penyaluran sumberdaya.

Paling tidak UE sudah mengucurkan 6,2 miliar Euro dalam bentk dukungan finansial dan ke depannya akan memobilisasi lebih banyak dana lagi.

Rencana kerja semacam “Marshall Plan” tersebut akan melibatkan seluruh negara, institusi, sektor swasta dan masyarakat sipil serta organisasi int’l seperti Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan dan Bank Investasi Eropa (BIE).

BIE sbelumnya juga menawarkan struktur pendanaan bagi Ukraina selama pandemi Covid-19 dengan investasi bernilai 100 miliar Euro (104,3 miliar dollar AS).

PM UKraina Denys Shmyhal yang hadir dalam pertemuan itu memperkirakan, rekonstruksi negaranya yang porak-poranda dihajar rudal, roket dan artileri Rusia memerlukan 750 miliar dollar AS.

Sedangkan Universitas Kyiv School Economics mencatat, kerusakan bangunan dan infrastruktur Ukraina akibat perang mencapai 104 miliar dollar AS dari 45 juta M2 bangunan rumah, 256 perusahaan, 656 institusi medis, 1.177 institusi pendidikan yang rusak, sedangkan sektor ekonomi merugi 600 miliar dollar AS.

Untuk itu, ia menuntut agar aset-aset Rusia yang disita harus digunakan untuk membiayai pemulihan  negerinya dari kerusakan akibat perang.

“Sumber utama (biaya) rekonstruksi adalah aset-aset Rusia yang disita dan oligarkinya, “ tandas  Denys.

Tentu saja tidak adil, jika Rusia yang telah membuat kerusakan, tidak berkontribusi apa-apa dalam program pembangunan kembali Ukraina. (AFP/AP/Reuters)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement