Masa Depan Komunitas Muslim di Belanda

Demo anti-Islam di Belanda / euro-Islam

JAKARTA–Pemilu Belanda yang dilaksanakan pada Maret 2017 lalu memberikan hasil yang menggembirakan komunitas Muslim. Di luar dugaan partai VVD, partai dari Mark Rutte, petahana PM Belanda, dapat memenangi pemilu dengan 33 kursi. Rutte berhasil mengalahkan Geert Wilders, tokoh oposisi antimuslim yang sedang naik daun. Partai PVV hanya berhasil merebut 20 kursi di parlemen. Apakah ini sinyal akan menguatnya kembali posisi komunitas Muslim di Belanda?

Dalam diskusi daring “Kehidupan Muslim di Belanda Pasca Pemilu 2017” yang digelar PP Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia dan ASEAN Young Leaders Forum (AYLF), mengemuka bahwa kekalahan Wilders belum tentu mengubah narasi politik di Belanda.

“Memang Wilders tidak menang, tetapi kita mesti ingat bahwa menjelang pemilu Mark Rutte sempat membuat pernyataan penting. Rutte mengatakan ke imigran untuk berperilaku normal atau keluar dari Belanda”, ujar Bowo Sugiarto (Kandidat Ph.D Tilburg University – Netherlands) yang menjadi narasumber.

Dikatakan Bowo, ajakan untuk berperilaku normal itu bersifat politis, karena yang dimaksud normal menurut Rutte adalah normal menurut mayoritas. “Hal itu jelas menunjuk pada persoalan integrasi komunitas Muslim ke masyarakat Belanda”, tegas Bowo.

Pengamat politik Universitas Jenderal Soedirman itu kemudian menyatakan peranan imigran Indonesia terhadap kondisi Muslim di Belanda. “Kedatangan sejumlah imigran Indonesia dan Suriname pada tahun 1950-an berpengaruh pada perkembangan Muslim di Belanda sekarang. Meskipun jumlah imigran Indonesia tidak banyak saat itu tetapi sudah mampu mendirikan Masjid pada 1951”.

Alumnus Universitas Gadjah Mada itu kemudian menegaskan dua hal penting agar proses integrasi komunitas Muslim dapat berjalan lebih baik. “Pemerintah Belanda sebaiknya mempersepsikan komunitas Muslim sebagai citizen yang setara dengan warga lainnya. Kemudian komunitas Muslim Belanda sudah selayaknya membuka diri dan berkontribusi ke masyarakat yang lebih luas”, pungkasnya.

Diskusi yang digelar akhir pekan lalu itu  diikuti oleh ratusan mahasiswa dan pemuda dari berbagai daerah di Indonesia. Tercatat juga perwakilan mahasiswa dari mancanegara seperti IKRAM Siswa Malaysia, AYLF Filipina, Singapura dan Australia.

Advertisement