Masak Bisa Jadi Terapi Jiwa untuk Ibu dan Anak

JAKARTA – Bagi seorang wanita terutama ibu ternyata petualangan di dapur sangat bermanfaat sebagai terapi kesehatan jiwa, termasuk depresi, gangguan suasana hati (mood disorder), dan membantu pengobatan skizofrenia.

Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Viska Erma Mustika menjelaskan bahwa hal itu terjadi karena aktivitas memasak memungkinkan seseorang terbiasa untuk berinteraksi dengan berbagai jenis makanan,  sehingga terbangun pula kesadaran akan makanan yang dimakan, baik dari nutrisi maupun higienitas makanan.

Menurut studi dari Jurnal Public Health Nutrion, memasak di rumah membuat seseorang cenderung memiliki perilaku makan secara lebih sehat dibanding mereka yang makan di luar.

“Ketika makanan yang dikonsumsi lebih sehat, dampaknya orang akan lebih sehat. Secara biologi, ini akan meningkatkan produksi hormon kebahagiaan (khususnya serotonin) sehingga muncul efek bahagia,” kata Viska.

Selanjutnya, ketika memasak secara tidak sadar kita dipaksa untuk menggunakan seluruh indera dan berada pada momen saat itu juga. Mulai dari persiapan memasak sampai dengan masakan disajikan, ada berbagai macam proses yang dilalui dan harus fokus pada saat itu juga.

“Di psikologi ini disebut dengan mindfulness, yakni momen di mana diri kita fokus pada kondisi saat ini (here and now), bukan pada masa lalu atau masa depan yang seringkali menjadi pemicu kebanyakan kecemasan dan stres terjadi,”papar dia.

Psikolog pendidikan pada Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) itu menambahkan bahwa memasak juga bisa digunakan sebagai proses untuk pembentukan perilaku, misalnya pada anak-anak. Ketika anak-anak dilibatkan dalam proses memasak, akan ada banyak manfaat yang bisa diperoleh sekaligus.

Dari aktivitas memasak, anak belajar bahwa makanan yang dimakannya ternyata perlu proses yang panjang untuk menjadi makanan yang bisa dimakan. Mulai dari berbelanja bahan makanan, kompleksitas dalam proses memasak itu sendiri, menyiapkan makanan di meja makan, bahkan sampai selesai makanan disajikan ada alat-alat memasak yang harus dibereskan.

“Hal ini akan memantik empati anak, yang kemudian memantik munculnya rasa tanggung jawab dan kemandirian,” ujar Viska, dilansir Antara.

Advertisement