
PANDEMI Covid-19 tidak saja menimbulkan kepanikan warga dunia, tetapi juga memicu penolakan atau perlawanan terhadap sejumlah pembatasan terkait protokol kesehatan, mendorong kreativitas, bahkan juga tingkah “nyeleneh” sejumlah orang.
Seperti yang diberitakan tabloid “the Mirror” baru-baru ini, seorang penumpang KA di Irlandia mengambil foto penumpang lainnya yang mengenakan masker dari celana dalam (CD).
Orang yang mengambil gambar tersebut menyebutkan, tidak satu pun penumpang lain yang memperhatikannya atau petugas KA yang menegurnya dan ia mengira orang yang mengenakan masker CD tersebut sedang bercanda.
Seperti juga di negara-negara lain, Finlandia juga mewajibkan pengguna transportasi publik mengenakan masker dan membelakukan protokol lainnya di ruang-ruang publik demi mencegah penyebaran Covid-19.
Irlandia juga tidak luput dari penyebaran Covid-19 dan dalam dua pekan terakhir ini tercatat lonjakan jumlah penduduk yang terpapar menjadi 25.565 kasus, dengan korban meninggal sebanyak 1.743 orang.
Kasus-kasus penolakan terhadap pemberlakuan protokol ksehatan juga banyak terjadi di Indonesia, seperti tidak mengenakan masker di kerumunan, bahkan ada yang ngamuk sampai melakukan kekerasan fisik terhadap petugas yang menegurnya atau terjadinya sejumlah kasus pengambilan paksa jenasah dari RS.
Sebaliknya, warga Indonesia juga kreatif menciptakan berbagai kreasi masker sehingga terkesan modis, misalnya yang terbuat dari batik atau bahan dengan corak warna-warni, dilengkapi logo organisasi atau kelompok walau terkadang juga diragukan apakah memenuhi standar protokol kesehatan.
Ada juga orang yang mengklaim dirinya sakti dan mengklaim mampu menyembuhkan Covid-19 hanya dengan menyentuh korban seperti dilakukan oleh pendeta Kamerun, Frankline Ndifor dan dukun India Pria Tantra yang malah tewas terpapar virus tersebut.
Klaim adanya obat mujarab melawan Covid-19 juga bermunculan, misalnya obat herbal dari Madagaskar yang laku keras di negara-negar sekitarnya dan kalung Eucalyptus produksi Kementerian Pertanian RI yang menjadi viral walau belum melalui berbagai tahapan pra uji klinis dan uji klinis.(ns/the Mirror)




