BEBERAPA hari lalu viral diberitakan, tukang sapu PT KAI mengembalikan uang Rp 500 juta yang ditemukannya di gerbong KRL. Inilah kontradiksi kehidupan. Orang kecil cenderung jujur, sementara orang gedean malah banyak yang durjana. Jadi pejabat banyak yang korupsi. Orang kecil yang hidupnya pas-pasan masih punya kejujuran, sementara orang gedean bermental durjana karena keserakahan. Mereka menumpuk uang secara tak halal, padahal kalau mati yang menikmati anak cucunya.
Uang itu sebetulnya hanya sekedar sistem alat tukar belaka. Tapi orang tanpa uang jadi ketinggalan taraf hidupnya. Pengin ini itu tak bisa kesampaian, karena segala sesuatunya harus dibeli dengan uang. Padahal sesungguhya uang bukan segalanya. Tapi orang tanpa uwang, di kala sedang membutuhkan sekali, akhirnya bisanya cuma sangga uwang (bersedih).
Dan ternyata uang juga bisa menjadi tolok ukur kejujuran seseorang. Jika menilai uang adalah segalanya, dia bisa berbuat durjana mendzolimi sesamanya, dari yang maling kasaran hingga menjadi penjahat keuangan pakai dasi. Karena uang dianggap segalanya, maka Rutan KPK banyak penghuninya. Mereka adalah para koruptor yang haus akan uang.
Minggu-minggu ini banyak dipertotonkan pada kita, tentang panjahat perbankan dari Djoko Candra sampai Maria Pauline Lumowa. Djoko Candra terlibat kasus cessie (hak tagih) Bank Bali (2000) dan Maria membobol Bank BNI (2003). Akhirnya dua-duanya kabur, Djoko Tjandra ke Papua Nugeni dan Maria ke Belanda. Si cewek baru saja ditangkap dan cowoknya meski sudah ngglibet di Indonesia hingga kini belum bisa dibekuk.
“Atlet” pelari ulung lainnya adalah Eddy Tansil. Dia kabur dari Indonesia sejak tahun 1993 dengan gondol uang Bank Bapindo Rp 1,3 triliun, tapi hingga sekarang tak kunjung tertangkap. Pernah muncul di RRC beberapa tahun lalu, tapi terus tak ada kabar beritanya. Kabarnya dia sudah operasi plastic. Mungkin pemerintah jadi tak semangat memburunya, karena muka plastik kan tidak ramah lingkungan.
Di luar penjahat perbankan, orang haus uang ada di kalangan DPR dan pejabat birokrasi. Sejak adanya KPK di tahun 2004, hingga kini tercatat lebih dari 100 Kepala Daerah yang dikandangi, sementara untuk DPR dan DPRD sebanyak 205 orang lebih. Mereka ini manusia-manusia yang butuh uang tak sekedar untuk sandang, pangan, papan dan …..perempuan, tapi untuk anak cucunya juga entah generasi ke berapa.
Mereka itu semua orang berpendidikan, banyak yang sarjana hukum tapi malah jadi orang hukuman. Tapi ya itu tadi, kepintarannya justru untuk cari akal, bagaimana mencuri uang negara secara aman tidak terendus. Tapi yang namanya kejahatan, cepat atau lambat pasti akan segera tertangkap. Bukankah pepatah mengatakan, sepandai-pandai tupai melompat sekali waktu jatuh juga.
Bandingkan dengan orang kecil yang sederhana, tak punya pikiran macem-macem. Dia cari uang sekedar untuk kebutuhan primer manusia, dari pangan, sandang, papan, pendidikan dan …..perempuan. Maka orang kecil mayoritas berperilaku jujur, taat pada hukum. Apa kata umaro (pemerintah) dan ulama mereka akan mengikuti tanpa reserve.
Kejujuran dan ketaatan orang kecil yang tinggal di pedesaan, diakui oleh bank BRI. Nasabah mereka mayoritas orang kecil yang tinggal di pedesaan. Maka bank BRI bisa menangguk untung betriliun-triliun tiap tahun, karena trust (kepercayaan) orang desa sangat tinggi. Mereka akan selalu tepat bayar cicilan, karena takut ada masalah. Sedikit saja telat sudah gelisah dan tidak bisa tidur.
Maka tak mengherankan sosok seperti Mujenih petugas kebersihan stasiun KA Bojonggede, jadi viral di medsos. Meski hidupnya pas-pasan, dia tak tergiur akan uang Rp 500 juta yang ditemukan saat dia bersih-bersih gerbong KRL. Uang itu diserahkan kepada Kepala Stasiun sampai kemudian diterimakan kembali pada pemiliknya. Semoga sosok Mujenih ini bisa menginspirasi para pejabat dan DPR-DPRD, untuk tidak bermata ijo ketika ada peluang mendapatkan uang bermiliaran secara tidak halal. (Cantrik Metaram).





