GUNUNG KIDUL – Sejumlah wilayah di Gunungkidul yang menjadi langganan kekeringan saat musim kemarau mulai kekurangan air bersih karena sudah mulai memasuki masa pancaroba.
Warga yang terdampak pun harus membeli air dari truk-truk tangki pengangkut air. Kepala Desa Pucung, Kecamatan Girisubo Bambang Untara mengakui wilayahnya masuk daerah yang mengalami kekeringan saat musim kemarau.
Memasuki masa pergantian musim ini, sejumlah dusun di Pucung seperti Dusun Pucung, Wotawati, Ngreyung, Karangtengah dan Bengle mulai kekurangan air bersih.
“Di tempat kami ada sepuluh dusun dan semuanya mengalami krisis air saat kemarau. Tapi untuk sekarang, belum semua dusun mengalami hal itu karena warga masih ada yang memiliki stok dari tandon air hujan,” kata Bambang dilansir Solopos, Rabu (26/4/2017).
Kekurangan air itu sudah terjadi sejak satu bulan yang lalu. Akibatnya banyak warga yang memenuhi kebutuhan air dengan membeli truk-truk pengakut air. Ada yang beli secara patungan, tapi ada juga yang beli sendiri-sendiri.
Harga satu tangki air bersih bervariasi. Hal itu terjadi karena penentuan harga sangat bergantung dengan jarak tempuh dan kondisi medan tempat yang akan dikirimkan air. “Rata-rata satu tangkinya dihargai Rp150.000,” katanya.
Lebih jauh dikatakan Bambang, krisis air yang terjadi dikarenakan di wilayah Pucung sangat minim sumber air. Sementara itu, keberadaan instalasi pipa PDAM belum bisa dimaksimalkan hingga sekarang ini. “Air dari PDAM tidak keluar, jadi warga terpaksa membeli saat musim kemarau,” ungkap dia.





