ADA ungkapan lama yang mengatakan, galak seperti anjing beranak! Memang, anjing yang baru punya anak menjadi galak. Namun demikian, segalak-galaknya anjing dia takkan mau membunuh anaknya. Bahkan ada peribahasa Jawa menyebutkan: sagalak-galake macan ora bakal mangan gogore dhewe (batapapun galaknya seekor harimau takkan tega memakan anak sendiri). Bagaimana dengan manusia? Woo….,. di era gombalisasi ini banyak kejadian, betapa ibu atau bapak sibayi tega menghabisi bayi-bayi tak berdosa. Ironis kan, enaknya mau tapi ogah anaknya!
Selasa lalu (27/03) kembali peristiwa tragis terjadi di Kampung Blang Kecamatan Langsa, Kota Langsa, Aceh. Seorang ibu rumahtangga Ny. SY (22), tega melempar bayi lelakinya yang baru usia setahun ke bak mandi. Byurrr….., dan ketika diangkat beberapa saat kemudian sudah meninggal. Tak jelas apa penyebabnya SY jadi sekalap itu, sehingga kekesalan emak ditumpahkan kepada anak.
Kemudian di Kampung Pasirmuncang, Desa Pusakamulya, Kecamatan Kiarapedes, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, ada juga emak-emak berhati serigala. Namanya Ny. W (35), dia tega mengubur hidup-hidup bayi perempuannya berusia 5 bulan. Untung segera ketahuan, sehingga bayi yang sempat terpendam dalam tanah selama 30 menit itu masih bisa diselamatkan. Kata keluarga, Ny. SW memang dalam kondisi stress, sejak gelisah melulu gara-gara saat mengandung bayi itu dalam kondisi sungsang.
Jika mau googling di jagad maya, ternyata begitu banyak orangtua sadis pada bayi-bayinya, baik itu pihak bapak maupun pihak ibu. Ini sungguh keluar dari logika akal sehat. Bagaimana mungkin, bayi yang tak berdosa, mati sia-sia, gara kelakuan bejad ayah atau ibu si bayi. Padahal bayi-bayi itu tak pernah minta dilahirkan. Mereka lahir kan sekedar dampak ayah-ibu mereka yang suka “iseng”. Mereka hanya mau enak, tapi ogah ketika jadi anak!
Jika bisa memilih, bayi-bayi itu tentunya malah berkeinginan tak usah dilahirkan saja, apa lagi di Indonesia. Sebab sebagaimana kata Menkeu Sri Mulyani, begitu lahir bayi RI sudah “dibebani” utang negara Rp 12 juta. Itu jika utang negara yang bertriliun-triliun dibebankan pada rakyatnya. Maka pemeo “banyak anak banyak rejeki”, itu kini bisa direvisi menjadi: banyak anak banyak penanggung utang negara!
Tapi yang biasa terjadi dalam keseharian, orang banyak utang demi anak! Karena ekonomi serba kekurangan, terpaksa utang sana sini agar bisa memberi makan anak-anaknya. Sebaliknya, banyak juga keluarga yang hartanya berlebih, justru tak memiliki anak. Lalu bagaimana dengan hartanya kelak? Mau diwariskan kepada siapa, apa mau meniru luar negeri sana, harta warisan justru pada si pleki atau nero, gara-gara bingung mau dihibahkan ke mana.
Namun begitulah keadilan Allah Swt. Ada keluarga yang menyia-nyiakan anak, tapi banyak juga keluarga yang tak memiliki keturunan. Dia akan berusaha dengan cara apapun agar istrinya bisa mempunyai anak. Ada yang lewat cara pengobatan, ada pula yang pakai cara ekstrem. Misalnya ada yang –maaf kata – pakai “godong lingga” alias pinjam lelaki lain yang bukan suami, sekedar untuk “ngecas”. Ini lantaran suami dalam kondisi lemah syahwat.
Tapi ada lho, segelintir orang yang sengaja tak mau punya anak, tapi mau menikah juga. Karenanya istri sekedar dijadikan obyek seksualitas belaka, lantaran dia tak mampu melawan kodrat. Mau “jajan” takut dosa, tidak “jajan” juga kedinginan.
Mengapa anak begitu penting dalam keluarga? Sebab anak adalah penerus dinasti keluarga. Dialah yang akan meneruskan sejarah keluarga. Lelaki atapun wanita gabug (mandul), sama saja sejarah hidupnya akan punah, tak ada generasi penerus. Bagaimana jika ditakdirkan jadi raja, pasti kemudian yang menjadi pewaris tahta adik-adiknya.
Paling mengerikan, setelah menjadi lansia, siapa yang akan merawatnya? Kalau ada anak, itu adalah kewajiban anak keturunan. Jika tak ada anak, akhirnya menjadi beban kakak atau adik-adiknya. Jika mereka tak sanggup merawat, ujung-ujungnya akan menjadi beban negara, yakni dimasukkan ke Panti Sosial sampai ajal tiba. (Cantrik Metaram).





