
TIDAK berlebihan rasanya jika ada yang menyebutkan, ruas-ruas jalan raya di negeri ini bak malaikat maut yang sewaktu-waktu dengan leluasa mencabuti nyawa para pelintasnya.
Berita tentang kecelakaan lalu-lintas, hampir setiap hari menghiasi media massa, karena faktanya, setiap jam, dua orang meregang nyawa akibat lakalantas, belum termasuk yang luka-luka atau mengalami cacat permanen.
Bayangkan, duka dan shock keluarga atau orang-orang yang mendadak kehilangan sosok yang dicintai, belum lagi jika korban adalah tulang punggung keluarga, meninggal sia-sia atau cacat permanen, sehingga malah jadi beban.
Peristiwa teranyar, 10 orang tewas dalam kecelakaan maut di perempatan lampu lalu lintas Jl. Alternatif Cibubur, Kec. Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat, Senin (17/7) pukul 15.29 WIB.
Musibah berasal dari truk tanki pengangkut BBM milik PT Pertamina Patra Niaga yang melaju kencang di jalan menurun menuju Cileungsi dekat lampu pengatur lalulintas, menabrak sebuah mobil dan 10 sepeda motor.
Para korban dilarikan ke RS Polri Sukanto di Kramat Jati, Jakarta Timur, sementara menurut keterangan polisi, dari penyelidikan sementara, tidak ada tanda jejak pengereman dari truk yang menabrak belasan kendaraan tersebut.
Dirlantas Polda Metro Jaya, AKBP Kombes Latief Usman saat dihubungi pers menyebutkan, jalan menurun sepanjang 150 sampai 200 meter ke titik lokasi lampu lalu lintas tersebut memang rawan kecelakaan.
Sementara lakalantas tunggal di ruas jalan penghubung Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah di Desa Sakakajang, Kec. Jabiren Raya, Kab. Pulang Pisau, Minggu (17/7) menewaskan Kakanwil Kemenag Masrawan dan isteri, anak, cucu, mantu dan mertuanya (semua enam orang).
Korban Tewas
Data Korlantas Polri mengungkapkan, pada 2021 tercatat 103.645 lakalantas yang menewaskan 25.266 orang di seluruh Indonesia atau meningkat 3,62 persen dari 100.028 kasus tahun sebelumnya dengan korban tewas 23.529 orang (naik 7,38 persen).
Kendaraan beroda dua (sepeda motor) menempati urutan pertama terlibat lakalantas (75,9 persen), disusul truk (12,46 persen), kendaraan pribadi (9,2 persen) dan jenis kendaraan lainnya.
Selain faktor manusia, seperti mengantuk, kelalahan, mengosumsi narkoba, kecelakaan juga bisa disebabkan kondisi kendaraan seperti mesin, rem blong, lampu-lampu tidak berfungsi dan lainnya.
Faktor cuaca, jalan terendam genangan air, tanah longsor, kabut atau asap yang menutupi pandangan pengendara juga bisa meniadi penyebab kecelakaan.
Bisa juga akibat kondisi jalannya, misalnya ada aspal terkelupas, jalan berlubang, turunan atau tanjakan terjal, tikungan atau kemiringan tajam dan kesalahan konstruksi lainnya.
Di negeri ini, ada juga faktor-faktor spesifik pemicu lakalantas, misalnya pembuatan SIM terlalu mudah, kadang-kadang tanpa latihan, yang penting bayar atau diistilahkan SIM “nembak”, “penyelesaian damai” jika melakukan pelanggaran dan praktek “pat-pat gulipat” lainya dengan oknum.
Lakalantas juga sering terjadi berulang-ulang di suatu titik atau lintasan termasuk ruas jalan-jalan bebas hambatan yang baru dioperasikan akibat penanganan dan evaluasi yang tidak tuntas.
Sudah waktunya, para pemangku kepentingan merembuk dan mengevaluasi secara menyeluruh dari berbagai aspek pemicu lakalantas yang merenggut sia-sia banyak nyawa anak bangsa.
Selamatkan anak-anak, orang tua dan keluarga , kerabat dan semuanya dari ancaman maut di jalan-jalan raya.




