
TAHUN 2022 akan segera kita masuki, meninggalkan 2021 yang penuh diwarnai perang habis-habisan melawan pandemi Covid-19 dengan berbagai imbasnya termasuk keterpurukan ekonomi.
Indonesia masuk salah satu negara yang dianggap sukses melawan Covid-19 akibat penularan virus corona SARS-CoV-2 yang sudah memapar 284,5 juta orang dan menewaskan 5,4 juta orang (sampai 30/12).
Di Indonesia, setelah mencapai puncaknya dengan angka penyebaran harian 56.757 kasus (15/7) dan 2.069 meninggal (27/7), berkat pembatasan mobilitas penduduk secara terukur (melalui PSBB dan PPKM), prokes 3M, program 3T dan vaksinasi massal, level peyebaran Covid-19 sudah terkendali dan jauh menurun.
Pada 30 Desember, tercatat penambahan harian hanya 189 kasus menjadi total 4.262.540 kasus, yang sembuh bertambah 399 orang menjadi 4.114.141 orang dan jumlah yang meninggal bertambah tujuh orang menjadi 144.088.
Yang mencemaskan, penyebaran global Covid-19 akibat munculnya varian baru Omicron terus meningkat termasuk di Amerika Serikat dan negara-negara di Eropah, bahkan serangan varian tersebut diprediksi bakal mendominasi kasus-kasus Covid-19 ke depannya, menggeser varian Delta.
Indonesia sendiri akan diuji lagi, mengingat kasus-kasus paparan Omicron juga sudah mulai muncul (68 kasus pada 30/12) dan dicemaskan di tengah libur pergantian tahun ditandai meningkatnya mobilitas publik, penyebaran Covid-19 juga bakal melonjak.
Sementara itu, perkonomian yang sempat terpuruk akibat pembatasan mobilitas masyarakat, sehingga sampai akhir 2021 ini diprediksi hanya tumbuh 3,5 persen, bakal bangkit lagi pada 2022 antara 4,5 dan 5,5 persen.
Tentu prediksi tersebut berdasarkan asumsi, tidak terjadi serangan gelombang ke-3 Covid-19 oleh varian Omicron dan mobilitas masyarakat bisa dikendalikan selama musim libur panjang Nataru.
Hukum, Pemberantasan Korupsi Jeblok
Sebaliknya bidang hukum terutama pemberantasan korupsi pada 2021 cukup memprihainkan, sehingga perlu dikebut pada 2021 oleh pemerintahan Jokowi agar meninggalkan legacy sebelum lengser pada 2024.
Di bidang korupsi, selain akibat revisi UU KPK No. 30/2002 menjadi UU No. 19/2019 yang membatasi sejumlah kewenangannya, pelanggaran etika oleh ketuanya, Firli Bahuri dan Wakil Ketua Lili Pintauli Siregar dan kasus internal termasuk penyelenggaraan TWK yang kontroversial ikut menggerus kepercayaan publik pada lembaga anti rasuah.
Sedangkan ulah oknum TNI, misalnya terkait tragedi kemanusian yang menimpa Handi dan Salsabila dalam kecelakaan lalu lintas di Nagrek, Jawa Barat (8/12) ikut memperburuk capaian penegakan hukum pada 2021.
Bayangkan! Bagaimana bisa, seorang perwira menengah TNI berpangkat kolonel (P) bersama dua tamtama (Kopda AD dan Koptu D, tega-teganya membuang kedua korban ke Sungai Serayu, Jawa tengah hanya untuk menghindari tanggungjawab.
Ironisnya, diduga Handri masih bernyawa saat dibuang ke sungai oleh ketiga oknum TNI yang menabraknya. Jasad kedua sejoli itu ditemukan tiga hari setelah kejadian di aliran sungai di lokasi terpisah.
Kasus lainnya, tercorengnya dunia Pendidikan oleh oleh HW, guru dan sekaligus pengelola ponpes di wilayah Cibiru, Kab.Bandung karena diduga telah mencabuli 12 santriwati, bahkan tiga diantaranya melahirkan bayi hasil perbuatan HW.Sela in biadab, perilaku HW juga mencoreng dunia pendidikan yang berbasis agama.
Aksi-aksi penembakan oleh kelompok kriminal bersenjata di Papua yang menelan korban anggota TNI dan Polri serta warga sipil juga masih perlu dicari upaya pencegahannya, baik secara persuasif mau pun tindakan tegas.
Situasi bisa jadi memanas menjelang Pilpres 2024 jika muncul intrik-intrik politik oleh orang-orang yang ambisius dan pemburu kekuasaan atau yang cuma nyinyir kurang kerjaan.
Di kancang internasional kiprah Indonesia juga dinanti, termasuk kepemimpinan dalam forum G-20 untuk mengoordinasikan penuntasan dan solusi isu-isu dan permasalahan global bersama negara anggota lainnya.
Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim RI juga harus proaktif mencarikan solusi bagi persoalan yang dihadapi muslim minoritas Rohingya di Myanmar dan dalam kerangka ASEAN membantu krisis politik di Myanmar paska kudeta oleh junta militer sejak Februari 2021.
Last but not least, tumbangnya skuad Garuda di tangan kesebelasan Gajah Perang Thailand dengan skor 0 – 4 di ajang final piala AFF (27/12) juga ikut mengaduk-aduk emosi bangsa ini yang mayoritas gandrung pada cabang olahraga rakyat ini di penghujung 2021.
Siapa tahu, akan terjadi mukzizat, Tim Garuda memenangi laga ulang yang digelar di Singapura pada awal pembuka tahun 2022, Sabtu besok, walau kelihatannya teramat berat karena harus unggul dengan selisih lima gol.
Mari kita songsong 2022 dengan asa dan semangat baru!




