Mayat “Thengkleng Solo”

Mayat korban mutilasi di Solo, ditemukan pada Bengawan Solo yang airnya mengalir sampai jauh.....

KATANYA bangsa Indonesia ini dikenal sebagai orang yang ramah-tamah pada sesamanya. Tapi pada kenyataannya bila  sedang super marah juga bisa berbuat kejam tanpa berkeprikemanusiaan. Faktanya, selama 20 tahun terakhir ini telah terjadi pembunuhan luar biasa sadisnya. Bagaimana tidak, korban tak cukup dihabisi nyawanya saja, tapi juga sekalian dibikin “thengkleng Solo” alias dipotong-potong yang bahasa kerennya dimutilasi. Kata kriminolog Adrianus Meliala jumlahnya mencapai 300-arang. Ditambah data sebelum tahun 1990-an, jadi 304-anlah!

Tahukah Anda, apakah itu thengkleng Solo? Itu satu madzab dengan tongseng atau gule, tetapi berasal dari Solo. Bahan pokoknya sama, yakni daging kambing. Bedanya adalah, gule dan tongseng diambil daging dan jerohannya. Sedangkan thengkleng yang diambil mayoritas potongan tulang. Kalau ada dagingnya tinggal sedikit-sedikit. Tapi di situlah nikmatnya. Makannya harus pakai perjuangan sendiri; sepiring nasi, semangkok thengkleng dan ditambah satu piring kosong untuk menampung limbah tulang-belulangnya.

Nah, mayat korban pembunuhan yang dibikin “thengkleng” juga seperti itu, dipotong-potong, lalu dimasukkan ke karung atau koper, kemudian dibuang di tempat sepi atau bahkan sungai. Begitu ketemu bikin geger masyarakat. Sadis memang. Bayangkan, seperti yang terjadi belum lama ini; sebagian mayat terpotong-potong itu di Sidoarjo, tapi kakinya bisa nglencer sampai Surabaya.

Pelakunya jelas pembunuh berdarah dingin asli, tanpa pakai AC maupun es balok. Sebab orang waras pada umumnya, baru melihat darah muncrat dari leher kambing atau sapi di kala Idul Qurban, sudah tidak tega. Tapi ini orang bisa melakukannya dengan tenang. Ada yang pakai kampak, ada pula yang menggunakan gerinda yang bukan parpol.

Sekitar tahun 1980-1990-an di Indonesia khususnya Jakarta, pernah terjadi pembunuhan ala “thengkleng Solo” tersebut. Nama korban lelaki bernama Ir. Nurdin Koto, kedua korban lainnya wanita. Yakni Heni Lie Hiang, dan istri seorang guru tinggal di Rawasari Jakpus. Ternyata pelakunya suami sendiri. Berita tersebut menggemparkan Jakarta. Harian Pos Kota yang halaman I-nya kriminal full memberitakannya berhari-hari.

Yang unik, ada korban mutilasi yang hingga kini pihak Polda Metro Jaya tak bisa mengungkap siapa korbannya dan siapa pula pelakunya. Mayat ala “thengkleng Solo” itu ditemukan di Jl. Setiabudi 13 sekitar bulan Nopember 1981. Meski ditemukan sidik jari korban, tapi sampai potong-potongan mayat itu dikuburkan di TPU Tegal Alur, tak juga diketahui siapa korbannya.

Semua berharap, nasib tragis ke 4 warga DKI Jakarta itu tidak berkelanjutan. Tapi ternyata harapan itu meleset adanya. Sebab semakin tingginya tantangan dan persaingan hidup di era gombalisasi, justru manusia biadab di negeri ini malah semakin bertambah. Kriminolog UI Adrianus Meliala mencatat, selama 2 dekade ini telah terjadi 300-an kasus mutilasi. Persoalannya bisa macem-macem, tapi biasanya konflik seputar benggol (uang) dan bonggol (baca: urusan seks). Demi kedua masalah tersebut, orang tega berbuat keji pada ummat sesamanya.

Terbaru adalah kisah mutilasi di Trosobo, Sidoarjo (Jatim) awal Juni lalu. Sampai Selasa hari ini siapa korbannya masih misterius, kecuali teridentifikasi berjenis kelamin lelaki. Yang unik, sementara potongan-potongan tubuh korban teronggok dalam plastik di kali dekat flyover Trosobo, potongan tangan dan kakinya ditemukan di Kenjeran Park, Surabaya. Bagaimana mungkin kaki dan tangan itu bisa nglencer di daerah lain. Polisi Polda Jatim terus berkutat mencoba mengungkap misteri ini. Siapa korbannya dan siapa pula pelakunya.

Seminggu sebelumnya, aksi mutilasi juga terjadi di Surakarta. Ini tragis dan ironis. Surakarta sebagai kotanya thengkleng, eh…..ada juga warganya yang justru mati dibuat “tengkleng Solo”. Korbannya adalah Rochmadi (51) pria bertatto warga Keprabon, Kecamatan Banjarsari, Solo. Mayatnya ditemukan di  daerah Sukoharjo pada aliran sungai Bengawan Solo yang mengalir sampai jauh. Sedangkan pelakunya si Yono (50) teman sekerja dari Makamhaji Sukoharto. Motifnya adalah, pelaku tersinggung karena diomeli korban gara-gara pinjam motor tapi tak mau ngisi bensinnya.

Jika merujuk data dari Adrianus Meliala, sebetulnya masih ada lagi 298 korban mutilasi di Indonesia. Tapi jika diungkap semuanya, di samping ngabisin tempat, dikhawatirka pembaca malah tak mau baca saking ngerinya. Yang jelas, selain pelaku hanya memiliki rasa prikebinatangan, mutilasi adalah bagian dari usaha pelaku untuk menghilangkan jejak, sekaligus untuk memudahkan evakuasi mayat korban.

Menurut Adrianus, usaha penghilangan jejak itu adalah usaha untuk menjaga status sosialnya. “Bukan berarti punya pangkat atau jabatan tinggi, minimal dia memiliki status sosial yang dia tidak mau kehilangan itu,” ungkapnya. Ia juga menyebut pelaku mutilasi adalah orang yang tidak mau menanggung dampak perbuatannya di hadapan hukum. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

Advertisement