Mayoritas Rakyat Venezuela Tolak Presidennya

Aksi protes di caracas dan kota-kota lainnya menentang kepemimpinan Presiden Venezuela Nicolas Maduro terus berlangsung (nileintl.com)

SELAIN melancarkan aksi-aksi turun ke jalan, kelompok oposisi menyelenggarakan referendum simbolis Minggu lalu (16/7)  guna menjatuhkan rezim pemerintahan Presiden Nicolas Maduro yang dianggap otoriter.

Dari 2.000 TPS di seluruh negeri, paling tidak 7,2 juta suara menentang rencana Maduro untuk mengubah konstitusi 1999 berisi pasal-pasal yang menguntungkan rezimnya.

Referendum memuat tiga pertanyaan  yakni apakah setuju dengan majelis konstitusi yang dibentuk Maduro, apakah setuju jika militer kembali ke kongres  dan apakah mendukung pemerintahan baru berisi “orang-orang” Maduro?.  “Ya” atau “tidak” adalah jawaban yang harus dipilih peserta referendum.

Walau tidak puas karena perolehan suara masih di bawah harapan, pemimpin oposisi di parlemen Julio Borges mengemukakan, jika penghitungan selesai seluruhnya, ia berharap akan terhimpun 7,5 juta suara – jumlah yang cukup untuk menjatuhkan Maduro.

Maduro sendiri menyatakan skeptis atas hasil referendum simbolis para penentangnya itu   dan berharap mereka tidak “besar kepala”, karena referendum yang digelar mereka tidak diakui oleh Dewan Pemilihan Nasional sehingga tidak ada implikasi hukumnya sama sekali.

Dewan Pemilihan Nasional sendiri sejauh ini memang dianggap berada di belakang kubu Maduro.

Namun bagi kubu oposisi, paling tidak, referendum akan memicu munculnya aksi-aksi lebih keras untuk menentang pemilu yang akan digelar pada 30 Juli bertujuan memilih anggota majelis konstitusi yang ditugaskan melakukan amendemen konstitusi.

Bagi Maduro, pembentukan majelis konstitusi adalah keniscayaan karena menurut keyakinannya,  merupakan satu-satunya wahana unuk memulihkan perekonomian di negara itu yang terpuruk akhir-akhir ini.

Sebaliknya, oposisi khawatir, majelis konstitusi akan diisi “orang-orang” pemerintah yang akan melanggengkan kekuasaan rezim Maduro dan membuat  Venezuela menjadi negeri tertutup seperti Kuba.

 

Menghitung hari

Akibat terisolasi dari dunia luar dan tetangga-tetangganya dan semakin terpuruknya perekonomian serta bertumpuk-tumpuknya persoalan,  agaknya kejatuhan rezim Maduro tinggal menghitung hari.

Dengan tingkat inflasi mencapai 700 persen, dalam kondisi terisolasi, kelangkaan barang terutama sembako dan obat-obatan serta cekaknya cadangan devisa, diperkirakan akan sulit bagi rezim  pemerintah Maduro bertahan.

Puluhan pengunjukrasa tewas, ratusan luka-luka sejak April lalu dan lebih 1.000 orang ditangkap di tengah aksi protes dan gelombang kerusuhan menentang rencana Maduro untuk menyusun konstitusi baru.

Ironis, negara produsen minyak bumi anggota OPEC ini salah urus dalam pengelolaan perekonomian negara, terutama tidak menginvestasikan hasil kekayaan minyaknya dalam jangka panjang.

Ekonomi Venezuela langsung “terjun bebas” saat harga minyak bumi di pasaran global anjlok pada awal 2016 ampai ke level 25 dollar AS per barrel.

Sementara sebagian besar rakyat sengsara,   ada yang mengais-ngais sisa-sisa makanan di tempat-tempat sampah dan munculnya kerusuhan dan penjarahan di sana-sini,  Maduro malah mengambil aksi represif dan mengisolasi negaranya dari dunia luar.

Cepat atau lambat, penguasa atau politisi yang tidak amanah atau pro-rakyat pasti tergusur.

(AP/AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

Advertisement