Mbok Randa Dadapan

Panorama indah di Desa Dadapan Pacitan, karena berdekatan dengan pantai selatan.

BEBERAPA hari belakangan ini kata “janda” menjadi demikian sensitip, gara-gara celometannya tiktoker muda Bima Yudho Saputro dari Lampung. Ketika kritikannya soal infrastruktur di Pemda Lampung jadi viral, “si jabrik” jadi gede kepala dan kebablasan. Sampai-sampai kemudian Megawati disebutnya “janda” dan sang proklamator Bung Karno disebutnya “mampus”.  Walhasil Bima banjir hujatan warganet. Banyak yang heran Bima Lampung ini kok beda sekali dengan Bima dari Pendowo.

Kebanyakan anak muda sekarang memang a historys alias tak mengerti sejarah. Jangan-jangan Bima tidak tahu siapa Bung Karno dan siapa pula Megawati. Jika Megawati ini “randa Dadapan” alias orang biasa, ucapannya takkan berdampak apa-apa. Tapi menyebut anak kedua Bung Karno itu sebagai “janda” yang nadanya melecehkan, orang akan menduga Bima ini nggak makan sekolahan.

Meski tak separah Bima, banyak anak muda sekarang termasuk yang jadi wartawan, tak bisa menggunakan kata yang tepat ketika bernarasi. Orang biasa ketika meninggal disebut wafat atau mangkat, sementara almarhum tokoh nasional kok malah disebutnya “mampus”. Jangan-jangan para anak muda dan jurnalis ini belajar Bahasa Indonesia pada tukang kijing (perajin batu nisan), siapapun yang meninggal akan ditulisanya wafat.

Bagi masyarakat Jawa, mbok randa Dadapan sangat populer, terutama bagi mereka yang lahir sebelum jaman internet. Di jaman itu dongeng-dongeng kuno berlatar belakang kerajaan, sangat digemari masyarakat. Setiap dongeng yang menceritakan perempuan tanpa suami, punya anak lelaki atau wanita yang akan menjadi tokoh utama dalam dongeng tersebut, akan selalu disebut mbok randa Dadapan.

Mbok randa Dadapan hanya nama comotan, tak ada hubungannya dengan Desa Dadapan Kecamatan Pringkuku Kabupaten Pacitan (Jatim). Meski di desa itu ada sejumlah janda, tak ada satupun yang anak lelaki atau wanitanya menjadi raja atau pemimpin nasional. Jika ada justru SBY, Presiden RI ke-6 yang lahir di pusat kota Pacitan. Beliau memang dibesarkan oleh seorang janda Ny. Siti Habibah, dan sang ibu masih sempat menyaksikan putra tunggalnya jadi Presiden RI 2 periode. Almarhumah tutup usia Agustus 2019.

Janda paling populer dan bikin heboh adalah artis selebritis Nikita Mirzani. Dia sering jadi pusat pemberitaan karena ulahnya yang suka usil pada pihak lain, sehingga sering berurusan dengan polisi. Banyak orang yang heran, sebagai gadis yang alumnus pesantren Ponpes Gontor di Ngawi kok sering tampil tidak Islami banget. Tak jelas nama Nikita Mirzani ini sejak lahir, atau sekedar nama setelah jadi artis. Yang jelas, Nikita Mirzani tak ada hubungannya dengan Nikita Chruscov, sahabat Presiden Sukarno dari Uni Soviet.

Janda adalah status yang pada saatnya nanti, entah cepat atau lambat, akan dialami kaum wanita. Maunya sih menjadi janda setelah nenek-nenek dan punya banyak cucu. Tapi takdir Illahi tak semuanya begitu. Bisa saja menjadi janda  masih muda, bisa karena suami keburu meninggal atau janda karena perceraian. Atau sebaliknya, dia tak sempat jadi janda karena keburu meninggal duluan ketimbang suami.

Siksaan dan cobaan paling berat adalah menjadi janda di kala masih muda dan kebetulan berwajah cantik dengan bodi seksi menggiurkan. Dia akan dicurigai oleh para ibu-ibu rumahtangga, sebab bisa jadi ancaman, manakala suami mereka terpikat pada si janda baru. Soalnya banyak lelaki yang lemah iman tapi kuat pada “si imin”. Jika sekedar gagadan dan narasi sih masih aman, tapi jika sampai tahap kerja, kerja, kerja….kan bahaya!

Bila menjadi janda masih muda, banyak wanita yang ingin segera menikah kembali. Bisa karena tuntutan ekonomi, bisa juga karena kebutuhan biologis. Banyak juga janda yang almarhum suaminya bukan ASN, sehingga dia tidak mampu hidup sendiri. Ketika dana pesiunan itu menjadi biaya hidup sehari-hari, dia mau nikah lagi dengan syarat kawin siri saja. Sebab bila menikah lagi, tunjangan pensiunan akan dihapus. Bonggol (lelaki) memang butuh, tapi jangan sampai kehilangan benggol (uang).

Tapi banyak juga janda muda cantik memilih bertahan dengan kejandaannya. Dia sanksi suami barunya tak sebaik suaminya dulu. Dia tak mau kebahagiaan dirinya dibarter dengan keburukan suami baru dan mengorbankan anak-anaknya. Apa lagi ada hadits Nabi yang mengatakan, “Surga balasan bagi janda yang tak mau nikah lagi demi membesarkan anak-anaknya.

Ada juga janda yang konsisten dengan wasiat suami. Sebelum meninggal suami memang berwasiat, “Kamu boleh menikah lagi bila mana tanah kuburanku sudah tak lagi merah.” Taat dengan persyaratan itu, maka seminggu setelah menjanda segera gundukan makam suami diganti dengan tanah hitam bekas lumpur. Lepaslah sudah dari persyaratan almarhum dan si janda pun siap menyambut suami baru. (Cantrik Metaram)

Advertisement