Melarang Tontonan Wayang

Pertunjukan wayang kulit, yang awalnya menjadi sarana dakwah Sunan Kalijaga.

SEJAK kemarin beredar sejumlah spanduk di bilangan Rawasari Jakarta Pusat, yang kalimatnya berbunyi: pemutaran wayang kulit bukan syariat Islam, lalu: menolak dengan keras pemutaran wayang kulit, dan satunya lagi berbunyi: wayang bukan budaya dan ajaran ummat Islam. Yang membuat dan memasang spanduk itu jelas manusia-manusia buta sejarah atau istilah sekarang, manusia yang: kurang piknik. Fanatik buta yang sekaligus pakai kacamata kuda.

Pada spanduk yang pertama saja, si pembuat sudah menggunakan bahasa yang rancu. Dia pastinya akan bilang “pemutaran kaset”, sebab tontonan wayang kulit sejak tahun 1970-an memang mulai banyak direkam dalam kaset. Jika hanya disebut “pemutaran wayang”, memangnya wayang itu seperti roda, bisa diputar-putar? Atau malah dianggap Pilkada, sehingga ada putaran pertama dan putaran kedua?

Tapi gara-gara Pilkada ini pula , isyu semacam itu dilempar. Cagub DKI pasangan Ahok-Jarot mau menggelar pertunjukan wayang kulit di Rawasari, diganggu. Dulu tak pernah ada yang mempermasalahkan wayang. Tapi ketika isyu keagamaan sedang menghangat dan bisa mengancam keutuhan NKRI, tiba-tiba ada yang nimbrung. Jangan-jangan pelempar isyu wayang ini memang punya target tertentu, atau memang sekedar kurang piknik.

Ada yang bilang, wayang itu “agama”-nya kedua orang Jawa. Bahkan kosa kata “Jawa” saja ada yang memaknai dari kepanjangan kata: jago wayang. Sebab rata-rata orang Jawa sangat menggemari dan menguasai cerita wayang. Ini bukan saja orang Jawa di Jateng, Jatim, dan DI Yogyakarta. Orang Jawa yang lahir di Jabar (Sunda) pun juga sangat menggemari tontonan wayang. Hanya mediumnya yang sedikit berbeda. Orang Jawa lewat wayang kulit dan wayang orang, orang Sunda berbentuk wayang golek. Tapi alur cerita sama.

Wayang diciptakan Sunan Kalijaga di abad 14, sebagai media dakwah untuk menyebarkan agama Islam. Maka tak mengherankan banyak nama dan istilah wayang berasal dari bahasa Arab. Layang Kalimasada misalnya, itu berasal dari kalimah syahadat. Janaka barasal dari janah yang berarti surga, Ndorowati kerajaanya Betara Kresna, berasal dari kata ndaroh kuwati yang berarti kekuatan iman. Begitu juga satria, – meski bukan berasal dari bahasa Arab- itu juga berasal dari kata santria, alias mengajak menjadi santri.

Demikian juga para punakawan Pandawa, Semar berasal dari kata ismar yang berarti paku untuk penguat agama Islam di Tanah Jawa. Nala Gareng itu berasal dari kata Naala Qoriin yang artinya memperoleh banyak kawan. Petruk dari bahasa Arab fatruk diambil dari kalimat fatruk kullu ma siwallahi yang bermakna tinggalkanlah segala yang selain Allah. Begitu pula Bagong, dari bahsa Arab bagha yang artinya berontak, yaitu memberontak terhadap sesuatu yang zalim.

Masih banyak lagi bahasa Arab yang kemudian dipakai untuk menamai tokoh wayang. Dengan sinkretisme semacam itu, agama Islam bisa diterima oleh orang Jawa. Berlanjut di jaman Metaram oleh Sultan Agung, bentuk wayang disempurnakan menjadi seperti sekarang ini dan Unesco pun mengakui wayang merupakan world master piece of oral and intangible heritage of humanity.

Wayang memang warisan para leluhur yang adiluhung, meski hanya berasal dari lulang (kulit) sapi. Di tangan RM Padang, kulit sapi itu hanya menjadi kerupuk kulit maupun gulai. Tapi  di tangan ahli seni perwayangan, kulit itu bisa menjadi wayang yang indah dan ketika dipentaskan penggemarnya berjibun. Meski yang tidak suka wayang ada yang mengolok-olok, dalang wayang kulit itu seperti orang gila, “Tanya sendiri kok dijawab sendiri.”

Wayang memang sudah menjadi milik orang Indonesia, meski di Papua, Ujung Pandang, Palembang, sering pula wayang kulit dipentaskan dengan dalang-dalang kondang. Wayang memang merupakan tontonan yang sekaligus tuntunan, pertunjukan seni yang sarat akan filosofi untuk rujukan manusia bermasyarakat. (Cantrik Metaram)

           

 

 

Advertisement