
PURWOKERTO – Ibu-ibu dan anak-anak bergegas turun dari ambulans Layanan Kesehatan Cuma-cuma Dompet Dhuafa (LKC-DD) Purwokerto, Jawa Tengah. Mereka baru saja mengikuti pemeriksaan dini kanker mulut rahim (serviks) dan payudara (Mamae) di Gerai Sehat LKC Dompet Dhuafa. Mereka dijemput antar pakai ambulans tersebut.
Ahad Sore, (25/3/2018), satu per satu ibu-ibu itu berlalu menuju rumah masing-masing di Kampung Sri Rahayu, Purwokerto, Jawa Tengah.
Kampung itu terlihat agak padat, dan hanya dibatasi oleh gang sempit yang hanya dapat dilewati dengan motor. Bentuk rumah di sini pun beragam; ada yang sudah permanen, semi permanen, dan bahkan ada pula yang seadanya dibangun dari kayu-kayu bekas.
Kampung Sri Rahayu memang terkenal sebagai kampung kelompok marginal di Purwokerto, di sinilah para pengemis, waria dan wanita pekerja seks bermarkas. Bahkan media lokal, Radar Banyumas menulis: “Sri Rahayu, Kampung Kumuh di Tengah Kota”.
Benar, ketika kita melewati gang-gang di Kampung Sri Rahayu itu, kita akan bertemu dengan penduduk yang sangat ramah, sesuai adat ketimuran, bahkan lebih ramah lagi. “Monggo. Mampir, Mas!”
Namun yang tidak mengenakan hati, mereka yang mengajak mampir itu adalah ibu-ibu atau waria yang berpakaian minim. Agaknya di balik keramahan ketimuran itu tidak sejalan dengan rasa malu yang juga jadi khas masyarakat timur.
Ya, karena itulah modal mereka sesungguhnya. Para ibu-ibu dan waria di Kampung Sri Rahayu bertingkah seperti itu karena berusaha menggaet tamu yang datang, dengan harapan lembaran rupiah bisa berpindah dari saku tamu ke mereka melalui layanan yang menyenangkan.
Anehnya mereka tidak peduli dengan suami dan anak-anak mereka yang masih kecil yang ada di sekitar mereka. Mungkin, ini sudah menjadi rahasia umum di Purwokerto, kehidupan mereka yang sudah begitu, jadi yang sudah menjadi normal adanya. Mungkin tidak ada lagi kecemburuan suami, karena mereka menilai isterinya sedang berkerja dan menghasilkan uang untuk keluarga mereka.
Kampung Sri Rahayu berada di RW 04 dan RW 05 Kelurahan Karangklesem, Purwokerto. Tidak jauh dari terminal lama Purwokerto yang kini menjadi Terminal bus ‘plat merah’ Damri. Bahkan akses jalan menuju kampung Sri Rahayu dinamakan Jl. Damri.
Seperti ditulis Radar Banyumas, Kampung Sri Rahayu sering juga disebut Kampung Dayak. “Mungkin dulu komunitas Dayak yang ada di sini,” kata sumber KBK tanpa memberikan nama pasti.
Secara geografis dan administratif, kampung seluas kurang lebih 2 hektar ini bagian dari Kelurahan Karangklesem, Kecamatan Purwokerto Selatan.
Kampung Sri Rahayu atau Kampung Dayak, melekat dengan stigma negatif. Pasalnya, wilayah ini identik dengan kampungnya para gelandangan, pengemis, pekerja seks komersial, waria, dan anak terlantar.
Permasalahan yang ada di Kampung Sri Rahayu tidak hanya permasalahan sosial saja, tetapi cukup kompleks yang mencakup beberapa permasalahan di masyarakat. Seperti masalah ekonomi, pendidikan, serta kesehatan.
Konon, nama Kampung Sri Rahayu diambil dari nama sebuah pasar yang lokasinya berdekatan dengan kampung tersebut. Mulai terbentuk sekitar tahun 1980-an. Sebelum berbentuk kampung, awalnya terdapat sejumlah orang mendiami kawasan tersebut dengan membuat gubuk-gubuk. Kemudian seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang yang mendiami wilayah tersebut.
Diperkirakan, kini ada sekitar lebih 200 KK yang menetap di Kampung Sri Rahayu. Dari jumlah itu hanya sekitar 28 KK yang tinggal di rumah milik sendiri. Sisanya menetap di kampung tersebut dengan status mengontrak.
Sejumlah KK yang mengontrak, beberapa di antaranya hanya mengontrak tanah untuk dibangun rumah semi permanen. Selain itu, ada juga yang hanya mengontrak sebuah kamar. Terkait persoalan sosial yang ada pada masyarakat di Kampung Sri Rahayu, diakui beberapa sumber, memang banyak masyarakat yang terjun ke jalan untuk mengemis.
Bahkan sumber KBK menyebutkan, mereka kebanyakan terjerat dengan rentenir, uang yang didapat dari hasil jerih payahnya setiap hari dengan mengemis, hampir mustahil untuk dapat melunasi utangnya. Pasalnya, uang yang didapatnya setiap hari habis untuk makan dan bayar biaya sewa.
Kehadiran Dompet Dhuafa
Sebagai lembaga kemanusiaan yang mengayomi para dhuafa dan bersumber dari dana Zakat, Infak, Sadakah dan Wakaf (ZISWAF), Dompet Dhuafa hadir di kampung kumuh Sri Rahayu sejak tahun 2014, melalui Dompet Dhuafa Jawa Tengah dengan layanan kesehatan dari LKC Dompet Dhuafa Purwokerto.
Seperti dikisahkan Titi Ngudiati, Direktur LKC Purwokerto, karena banyak kasus sosial di sana membuat kita prihatin, terutama karena banyak melibatkan anak-anak untuk mengemis dan bahkan ada juga prostitusi, yang terakhir yang menghebohkan adalah anak usia 12 tahun hamil di luar nikah. “Makanya kita sejak 2014 mulai memperhatikan masyarakat Sri Rahayu,” jelas Titi.
Awal melakukan intervensi ke Sri Rahayu, lanjut Titi, memang penuh tantangan dan bahkan banyak yang menolak dan banyak yang mempertanyakan. “Namun dengan berjalannya waktu malah sekarang kita yang dicari, kalau kita hari Rabu ngga hadir di sana mereka akan bertanya,” terang Titi.
Di Kampung Sri Rahayu, LKC Dompet Dhuafa hadir dalam bentuk Pos Sehat Nasrullah yang diadakan di Mushalla Nasrullah yang berada di depan gang masuk ke kampung Sri Rahayu.
” Diadakan di Mushalla karena tidak ada tempat untuk kita memberikan pelayanan, karena hanya sekali seminggu ya kita manfaatkan mushalla yang ada, kebetulan pengurusnnya tidak keberatan untuk digunakan mencek kesehatan warga Sri Rahayu di sana,” ujar Titi..
Di Pos Sehat Nasrullah, Sri Rahayu, para kader kesehatannya berasal dari ibu-ibu di kampung tersebut. Mereka sekaligus sebagai narahubung dengan warga yang lain. Di Pos Sehat inilah kesehatan masyarakat diperiksa. Kalau ada yang butuh rawatan lanjutan tim ambulans dan medis LKC Dompet Dhuafa Purwokerto siap membantu dan dengan senang hati mengantarkan ke rumah sakit yang lebih besar untuk kesembuhan mereka.
“Mereka tidak perlu membayar, karena sudah dibantu menguruskan BPJS dan ada ambulans juga untuk jemput antar,” terang Titi.
Namun baru hanya sebatas bantuan kesehatan yang bisa diberikan LKC Dompet Dhuafa untuk warga marjinal Sri Rahayu, persoalan lain; pendidikan dan ekonomi; Titi mengaku sedang mengkoordinasikan dengan berbagai pihak.
Semoga segera ada solusi, karena lebih dari 38 tahun persoalan sosial di Sri Rahayu masih tetap menjadi momok di Purwokerto. Akankah persoalan sosial itu menjadi warisan anak-anak yang hidup di Kampung Sri Rahayu? Butuh kebersamaan dan sinergi untuk menghambat warisan buruk itu.




