Membanggakan Kekayaan

Ilustrasi. (Foto: freepik)

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin ketinggian (menyombongkan diri) dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS Al-Qashash: 83)

JAKARTA – Pernahkah Anda melihat orang yang suka memamerkan kekayaannya? Kita tidak perlu mendengarkan kata-katanya, karena dari sikap dan perilaku seseorang, kita bisa mengetahui apakah dia suka membanggakan hartanya atau tidak.

Hal ini terutama terlihat dari sikapnya saat berinteraksi dengan bawahan, pembantu, atau orang-orang yang digajinya. Biasanya, orang yang suka membanggakan hartanya akan memperlihatkan dirinya sebagai ‘Bos’ dengan perilaku yang ‘bossy’.

Meskipun terlihat biasa, seharusnya orang yang beriman kepada Allah SWT lebih berhati-hati dalam bersikap.

Contohnya, lihatlah bagaimana sikap Rasulullah SAW dan para sahabat dalam memperlakukan pembantu atau budak mereka.

Bahkan, orang yang tidak mengenal mereka tidak akan bisa membedakan mana tuan dan mana budak, karena mereka mengenakan pakaian yang sama, makan makanan yang sama, semuanya setara.

Mengapa Islam memberikan contoh seperti itu? Bukankah ada perbedaan antara orang kaya dan miskin?

Tentu saja ada perbedaan. Orang kaya seharusnya memiliki lebih banyak kesempatan untuk beramal.

Mereka memiliki harta yang bisa diinfakkan, diwakafkan, dikeluarkan zakatnya, bahkan bisa mendanai haji dan umroh berkali-kali. Sedangkan orang miskin tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal tersebut.

Jadi, kebanggaan atas harta bukanlah pada bentuk fisiknya seperti rumah mewah, kendaraan nyaman, atau pakaian dan perhiasan yang indah.

Kebanggaan itu terletak pada bagaimana harta tersebut digunakan di jalan Allah, sehingga karena harta itu kita bisa berbangga diri kelak di hadapan-Nya.

Sungguh merugi orang yang terpedaya sehingga membanggakan hartanya yakni yang sekadar berupa bentuk fisik semata. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Manusia berkata, ‘Hartaku-hartaku.’ Beliau bersabda, ‘Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang?’.” (HR Muslim no 2958)

Dalam hadis lainnya, Rasulullah merincikan yang disebut harta sebenarnya ada tiga:

“Hamba berkata, ‘Harta-hartaku.’ Bukankah hartanya itu hanyalah tiga: yang ia makan dan akan sirna, yang ia kenakan dan akan usang, yang ia beri yang sebenarnya harta yang ia kumpulkan. Harta selain itu akan sirna dan diberi pada orang-orang yang ia tinggalkan’.” (HR Muslim no 2959)

Bahkan tidak ada yang bisa dibanggakan dari harta kita karena saat kematian menjemput, harta tersebut tidak akan menemani kita, kecuali apa-apa yang kita sedekahkan semasa hidup sebagai amal saleh:

“Yang akan mengiringi mayit (hingga ke kubur) ada tiga. Yang dua akan kembali, sedangkan satunya akan menemaninya. Pengiringnya tadi adalah keluarga, harta dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali. Sedangkan yang tetap menemani hanyalah amalnya.” (HR Bukhari no 6514 dan Muslim no 2960)

Semoga kita menyadari tak ada yang pantas dibanggakan dari harta kita, kecuali apa yang kita sedekahkan dan wakafkan, karena hanya pemberian itulah yang menemani kita kelak setelah kematian.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here