Membangun Budaya Antre

ilustrasi: bebek, unggas paling disiplin antre

PENDUDUK Temon Kabupaten Kulon Progo DIY, kini berlomba-lomba naik haji. Ini berkah pembebasan tanah untuk lokasi bandara pengganti Adisucipto. Biasanya pendaftar sehari sekitar 5 orang, kini bisa sampai 15 orang. Secara nasional, otomatis ini akan menambah makin panjangnya daftar antrean haji. Tapi dibanding dengan Malaysia yang antrean hajinya sampai 50 tahun, Indonesia masih lumayan. Masa tunggu keberangkatan baru sekitar 35 tahun. Dan dengan selesainya perluasan Masjidil Haram, Insya Allah kuota keberangkatan haji kita di tahun 2017 mendatang kembali normal di angka 211.000 jemaah lagi.

Antre haji hingga 35 tahun, baru mendengar saja sudah capek duluan. Tapi ada segi positifnya juga; semakin panjang antrean haji, semakin  teruji kesabaran para calhaj. Yakni sabar dalam hal menunggu antrean, yang kadang menjadi “gambling” dengan perjalanan nasib seseorang. Harusnya berangkat tahun 2017, tapi ternyata umur tidak nyampai. Padahal mendaftarkannya sejak 10 tahun lalu. Walhasil, panggilan Nabi Ibrahim tak bisa dipenuhi, karena keburu harus memenuhi panggilan Illahi.

Yang namanya antre memang sangat menjemukan. Tapi antre bertalian erat dengan watak kesabaran seseorang. Bila berkarakter “sumbu pendek”,  antre berlama-lama merupakan siksaan berat. Mulailah terjadi pelanggaran di sana-sini. Enak saja dia potong kompas atau “nyelak” istilahnya, tak peduli akan diomeli pihak lain. Yang penting urusan selesai lebih dulu.

Di era gombalisasi ini, kesabaran dalam antrean bisa dibarter dengan uang. Ini bisa terjadi di pelabuhan, urusan dwelling time bisa bernilai Rp 1 juta hingga Rp 5 juta, sehingga Presiden Jokowi sampai marah-marah. Di kantor BPN sami mawon. Jika mau cepat dalam artian berkas –tak hanya ditumpuk– segera diproses, harus rajin keluarkan “salam tempel” di setiap meja. Cuma bagi orang yang penyabar sekaligus pelit, sertifikat setahun baru jadi atau nunggu Lebaran Kuda, tidak masalah.

Paling sering terlihat secara mencolok mata adalah para pelanggar jalur busway di kota Jakarta ini. Meski sudah ada peringatan dilarang keras memasuki jalur angkutan masal ini, pelanggaran selalu terjadi. Resiko kena denda sampai Rp 500.000,- sepertinya sudah tak peduli lagi. Begitu kemacetan nyaris tak bergerak, langsung saja loncat pindah jalur. Banyak juga yang selamat, banyak juga yang kena tilang.

Ketika budaya antri sudah luntur dari kehidupan sehari-hari, pada gilirannya nanti akan merusak disiplin nasional. Yang ditabrak bukan sekedar soal antre-mengantre, tapi juga disiplin atau kepatuhan pada aturan dan undang-undang negara. Dan ini sudah banyak terjadi, sehingga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tak maju-maju. Dari dulu berstatus negara berkembang, dengan ekonomi rakyat –kebanyakan– kembang kempis.

Lihat itu bangsa Jepang, disiplin nasionalnya demikian tinggi. Ketika terjadi bencana tsunami, mereka tetap siap mengantre untuk tindakan evakuasi. Tapi mereka terkenal sebagai negara paling pesat perkembangan ekonominya. Indonesia – Jepang tahun 1945 sama-sama merintis dari nol. Kita baru saja merdeka dan Jepang baru saja dibom atom. Tapi tahun 1970 Jepang sudah bangkit, sedangkan kita baru tahun 1970-an mulai start membangun negara, tapi yaitu tadi: dengan disiplin rakyatnya yang rendah. Jepang sudah punya piranti pembangkit (reaktor) nuklir, kita punya pembangkit listrik saja banyak yang mangkrak karena korupsi.

Jika kita membiasakan  budaya antre, niscaya pada gilirannya nanti akan menjadi disiplin dalam segala tatanan. Tapi sadarkah, bahawa sebagai manusia ciptaan Illahi, kita sesungguhnya juga dalam antrean untuk ……mati. Kullu nafsin dzaikatul maut. Anehnya, jika antre arisan maunya dapat paling dulu, tapi antrean mati maunya belakangan saja. (Cantrik Metaram)

 

 

 

Advertisement