
BANGSA yang tergila-gila pada produk asing, baik dari barang maupun budaya, salah satunya ya kita-kita ini; bangsa Indonesia. Menyaksikan semuanya ini Presiden Jokowi menjadi resah nan gelisah, sehingga beliau pun menyerukan: mari membenci produksi asing! Tetapi di era globalisasi sekaligus gombalisasi dewasa ini, bisa efektifkah seruan Kepala Negara tersebut? Sebab segala yang menempel di tubuh rakyat, yang merasuk ke dalam jiwa anak bangsa, adalah produk asing!
Sebetulnya memerangi produk asing berupa barang, sudah ada di jaman Orde Baru. Maka Presiden Soeharto pun mengangkat Ir. Ginandjar Kartasasmita (1983-1988) sebagai Menteri Muda Urusan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (UP3DN). Bagaimana hasilnya? Nggak jelas juga, jika tak mau disebut nggak ngefek. Yang pasti, sang menteri terus dipakai Pak Harto di berbagai kabinet sampai Orde Baru bubar.
Setelah masuk era reformasi, ancaman produk asing baik budaya maupun barang, semakin nyata, apa lagi setelah kehadiran teknologi jagad maya (internet). Produk asing itu bisa “meracuni” bangsa Indonesia cukup melalui HP. Dan kita bangga bila sudah menggunakan barang asing, dan kita bangga bila sudah berpakaian dan bernama berbau Barat dan Timur Tengah.
Di Indonesia dewasa ini, banyak pemilik nama Edward, Humphrey, Barthley, Barbara, Cartwright, Claudia; tapi hidungnya pesek dan kulitnya sawo matang. Juga banyak nama Ashaki, Ibtihaj, Izdihar, Khazbika, Shakilla, Shadiyah; tapi tak bisa Bahasa Arab. Nama mereka begitu kebarat-baratan dan ketimur-tengahan, tapi sehari-hari masih makan nasi dan doyan singkong dan blanggreng (singkong goreng: Solo).
Dulu tahun 1970-an, yang pakai jubah hanyalah mereka yang sudah bergelar haji. Sekarang orang belum berkelas ulama dan uztadz pun sudah berani pakai jubah, tanpa takut ditodong untuk khotbah Jumat karena khatibnya berhalangan. Dulu yang pakai jilbab hanyalah murid Mualimmat NU dan Muhammadiyah, sekarang Balita pun sudah dikenakan jilbab oleh emak dan babenya.
Pakaian nasional yang masih bertahan dan tetap eksis adalah tinggal batik. Orang Indonesia, terutama orang Jawa, dulu tahunya hanya Batik Madrim (tokoh dalam kisah Anglingdarma), kini di mana-mana pada mengenakan batik. Bukan saja untuk kondangan, ngantor pun juga pakai batik termasuk para menteri. Dulu baju safari ciri khas baju pejabat, dari presiden sampai Kepala Sekolah, sedangkan sekarang baju safari bekas sudah turun kelas dipakai petani ke sawah ketika macul maupun ndaut (cabut bibit padi).
Tapi budaya impor tidaklah mengancam dan menggerogoti devisa negara. Sedangkan impor produk barang bisa menggerogoti cadangan devisa negara. Asal tahu saja, karena Covid-19 cadangan devisa kita hingga Januari 2021 tercatat USD 139,9 miliar. Ini memang masih aman, tapi jika kita tidak mengerem masuknya barang impor akhirnya tergerogoti juga.
Presiden Jokowi dalam Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan di Istana Negara Jakarta, awal Maret lalu mengajak rakyat untuk mulai meninggalkan bahkan diibaratkan membenci produk impor. Pemerintah membuat kebijakan dan strategi yang tepat untuk mengembangkan pasar produk nasional. Sedangkan rakyat, “Harus cinta barang kita, benci produk dari luar negeri. Sehingga betul-betul masyarakat kita menjadi konsumen yang loyal untuk produk-produk Indonesia,” kata Presiden.
Tujuan Presiden Jokowi sekarang dan Presiden Soeharto dulu, sama sekali tidak beda! Mereka ingin rakyat bangga dan mengandrungi produk lokal. Jika itu sudah tertanam pada jiwa-jiwa segenap anak bangsa, maka cita-cita Bung Karno bahwa bangsa Indonesia bisa berdiri di atas kaki sendiri niscaya akan tercapai. Opor bebek, mentas saka awake dhewek (berhasil atas usaha sendiri).
Tujuan Presiden Jokowi memang sangat mulia. Tapi di kesempatan yang sama Presiden juga dikritik banyak pengamat dan politisi, karena seruan itu dinilai tidak konsisten. Kita gembar-gembor mencintai produk barang dalam negeri, tapi untuk vaksin Covid-19 saja kita impor dari RRC dan Inggris. Anak bangsa mau bikin vaksin sendiri, digerecokin berbagai pihak bahkan diminta pemerintah tak mendanainya.
Menolak produk asing, kelihatannya mudah dalam ucap, tapi susah dalam sikap. Maka ada yang menyarankan, Presiden tak perlu kampanye membenci produk asing, tapi produk dalam negeri saja yang kwalitasnya ditingkatkan, sehingga rakyat dengan sendirinya akan ikut mencintainya, termasuk kalangan artis dan selebritis.
Kalangan artis dan selebritis perlu ditekankan di sini, sebab mereka iki karena kekuatan uangnya selalu pamer produksi luar negeri. Tas yang seharga Rp 500 juta, kacamata yang berharga di atas Rp 100 juta, belum lagi jam tangan mereka. Paling ironisnya, artis dan selebritis wanitanya pun, cari suami pun cenderung mencari “pejantan” yang asing. Ingin memperbaiki keturunan, kali ya? (Cantrik Metaram)




