Memprihatinkan, Tingkat Kelaparan di Indonesia Masuk Level Serius

Ilustrasi kemiskinan/ beritasuslsel

JAKARTA – Tingkat kelaparan di Indonesia memprihatinkan masuk dalam level serius  dimana Global Hungry Index (GHI) Indonesia pada 2016 tercatat sebesar 21,9 persen.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia Bidang Hubungan Internasional, Shinta W. Kamdani, mengatakan  GHI mencatat proporsi masyarakat kekurangan gizi mencapai 7,6 persen. Bayi di bawah lima tahun yang mengalami wasting sebanyak 13,5 persen dan stunting sebanyak 36,4 persen. Sementara rasio angka kematian anak di bawah lima tahun mencapai 2,7 persen.

Shinta mengatakan posisi Indonesia di antara negara ASEAN hanya berada di atas Laos dan Myanmar. Indonesia menjadi satu dari sembilan negara yang akan mendapatkan perhatian lebih dari dunia karena mengalami kekurangan gizi. Negara lainnya adalah Amerika, Etiopia, India, Kongo, Nigeria, Pakistan, Tanzania, dan Uganda.

Hal tersebut menurutnya  dapat ditekan dengan meningkatkan ketahanan di sektor pangan dan pertanian. Upaya tersebut juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya, poin kedua yaitu menghindari kelaparan.

Sementara itu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan ketersediaan pangan telah menjadi prioritas negara. Terlebih lagi dengan tingkat pertumbuhan populasi yang tinggi di Indonesia yaitu 1,49 persen per tahun, kebutuhan pangan semakin melonjak.

“Kami harus menyediakan suplai pangan berkelanjutan dengan mengembangkan sektor pertanian,” kata Bambang di depan forum yang sama. Namun ia mengatakan pengembangan sektor pertanian menghadapi banyak tantangan.

Lebih jauh, Bambang mengatakan tantangan pengembangan sektor pertanian berkelanjutan meningkat karena dampak negatif dari perubahan iklim. Selain itu, lahan pertanian di Indonesia sudah banyak beralih fungsi. Dampaknya, lahan milik petani berkurang dan produktivitas petani menurun.

Bambang mengatakan porsi kontribusi sektor pertanian terhadap PDB Indonesia menurun drastis. Pada 2005, kontribusinya mencapai 30 persen namun menurun hingga menjadi 10 persen pada 2013. “Ini peringatan bagi kami untuk menjaga sektor pertanian,” katanya, Selasa (14/3/2017), dikutip dari Tempo.

Advertisement