Memutus Rantai Kemiskinan dengan Intervensi Gizi

Tahun 2017 masih menyisakan angka gizi buruk yang tinggi. Dikhawatirkan akan memperburuk kualitas generasi yang akan datang. Menuntaskan masalah gizi saat ini, dapat memangkas kemiskinan di masa datang.

Gizi buruk kronis (stunting) masih menjangkiti 27,5 persen atau 6,5 juta anak Indonesia di tahun 2017. Pemerintah pun memprioritaskan penanganan di 50 kota/kabupaten yang dinilai paling kronis masalah gizi buruk. Enam kabupaten di antaranya berada di Jawa Timur. Yakni, Kabupaten Probolinggo, Sampang, Bangkalan, Jember, Sumenep, dan Lamongan.

Data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) menyebutkan, persentase stunting enam kabupaten itu lebih dari 40 persen. Misalnya, Probolinggo mencapai 49,43 persen dengan 4.657 anak. Di Lamongan ada 48,87 persen atau 4.403 anak.

Secara nasional, persebaran gizi buruk yang ditangani berada di Jawa Barat. Di antaranya, Kabupaten Cianjur, Cirebon, Bandung, Tasikmalaya, Sukabumi, Subang, Bogor, dan Garut. Sementara itu, persentase stunting tertinggi terdapat di Kabupaten Timor Tengah Selatan dengan 70,43 persen atau 3.877 anak.

Dikutip dari Jawa Pos, Maret 2017, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menuturkan, dalam tiga tahun terakhir, angka stunting secara nasional sebenarnya turun. Dari sebelumnya 37,2 persen atau 9 juta anak menjadi 27,5 persen.

Dalam sebuah artikel di sebuah laman Public Health dituliskan dampak jangka pendek dari gizi buruk terhadap perkembangan anak menurut Nency & Arifin (2005), diantaranya menjadikan anak apatis, gangguan bicara dan gangguan perkembangan yang lain.

Sedangkan dampak jangka panjang adalah penurunan skor intelligence quotient (IQ), penurunan perkembangan kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri dan tentu saja merosotnya prestasi akademik di sekolah.

Dinyatakan juga, kurang gizi berpotensi menjadi penyebab kemiskinan melalui rendahnya kualitas sumber daya manusia dan produktivitas. Tidak heran jika gizi buruk yang tidak dikelola dengan baik, pada fase akutnya akan mengancam jiwa dan pada jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi penerus bangsa.

Intervensi

Dompet Dhuafa yang berkhidmat untuk masyarakat dhuafa, menyadari betul, jika gizi buruk ini tidak tertangani dengan baik,  maka rantai kemiskinan akan sulit dipangkas. Untuk itu, sebagai tindakan pencegahan, dilakukan intervensi melalui program-program yang tepat sasaran. Salah satu programnya melekat dengan Layanan Kesehatan Dompet Dhuafa, salahsatunya di LKC Dompet Dhuafa Jakarta- Banten (LKC Dompet Dhuafa Jaten).

Seperti diungkap Miza Elman, Direktur LKC Dompet Dhuafa Jaten, untuk mencegah gizi buruk pada anak-anak dhuafa, LKC Dompet Dhuafa Jaten memberikan intervensi sejak dini melalui Program Kawasan dan Program Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat.

Dikatakan Miza, Program Kawasan merupakan Program Kesehatan untuk radius 5 km dari gerai sehat. Aktifitas  program ini terpusat di gerai sehat dengan upaya kuratif dan promotif-preventif.

Salah satu program kawasan yang terkait gizi adanya Poli Gizi dan Klinik Laktasi. Poli Gizi melingkupi penanganan Pasien Gizi Buruk, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan edukasi pada keluarga dengan Anak Gizi Buruk dan Kurang. Selain itu juga diedukasi pasien degeneratif (penyakit tidak menular seperti diabtes, hipertensi, asam urat dll).

Di samping itu,LKC Dompet Dhuafa Jaten baru membuka Kilinik Laktasi, 20 Agustus 2017, menyambut pekan ASI sedunia.

Kenapa Klinik Laktasi? “Karena ASI merupakan asupan gizi pada masa Emas anak-anak,” ujar Miza. “ASI sangat penting di 1000 Hari Pertama Kehidupan,” tambahnya.

Klinik ini, kata Miza, sudah diinisiasi sejak tahun 2010.  Sedikitnya di tahun 2017, ada 30 anak yang mendapat perhatian khusus untuk memperbaiki kondisi gizinya di Klinik Laktasi. “Mereka diberikan makanan tambahan selain ASI seperti susu khusus dan telur,” tukas Miza.

Rekan Miza, Manager Program Unggulan LKC Dompet Dhuafa Jaten, Bidan Rohayani menjelaskan kegiatan utama dari Klinik Laktasi ini.

Dikatakan Bidan Ani, Klinik Laktasi, didukung Program Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat seperti Program Unggulan JKIA (Jaring Kesehatan Ibu dan Anak) dan Program Kebun Sehat Keluarga (PKSK).

“Kalau JKIA targetnya meningkatkan kesehatan ibu dan anak di wilayah sasaran. Sedangkan PKSK diharapkan keluarga binaan mampu mengelola bahan pangan secara mandiri, sehingga dapat memenuhi kecukupan nutrisi bagi sstiap keluarga dengan mngoptimalkan kebun keluarga atau lahan non produktif,” terang Bidan Ani.

Bidan Ani juga menjelaskan, dalam 5 tahun terakhir LKC Dompet Dhuafa Jaten sudah membentuk dan melatih kader-kader Laktasi. Mereka tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pendukung ASI (KMP-ASI).

“Dengan terbentuknya Program Unggulan JKIA, kader-kader Laktasi semakin diperhatikan dan diberdayakan. Mereka dilatih, kegiatan masing-masing kader tercatat dan selalu membuat pertemuan dengan ibu-ibu yang menyusui. Kelompok kader ini pun membentuk komunitas Sayang Ibu,” jelas Ani.

Untuk saat ini program-program unggulan untuk mengintervensi gizi di LKC Dompet Dhuafa Jaten berpusat di tiga Gerai Sehat; Ciputat, Rorotan dan Tangerang.

Sementara untuk LKC Dompet Dhuafa se-Indonesia, yang sekarang sudah ada 9 LKC di Aceh, Sumsel, Jakarta-Banten, Jabar, Jateng, Yogyakarta, NTT, Sulsel dan Papua,  juga diterapkan upaya intervensi gizi dengan program yang hampir sama di setiap LKC.

Untuk penerima manfaat Program JKIA yang dilaksanakan di LKC; Jakarta- Banten, Yogyakarta, Aceh, Jawa Barat; adalah sekitar 19.203 orang. Sedangkan untuk Program KSK dilaksanakan di  3 LKC; Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Jawa Barat; penerima manfaatnya sekitar 2.989 orang.

Dengan aktivitas program intervensi ini, diharapkan masalah gizi buruk akan terentaskan dan generasi masa depan akan terselamatkan.  – Maifil Eka Putra

 

Advertisement