Menjaga Harapan agar Tetap Menyala

Sinar matahari tertahan kanopi pohon di pinggir jalan. Namun Daun itu hanya mampu menahan beberapa titik jatuhnya sinar matahari. Kanopi itu tak mampu melawan suasana gerah. Seorang ibu berkerudung warna krim berjalan gontai di pinggir jalan kawasan Pasar Pagi Padang Sumatera Barat. Rok hitamnya sesekali terseret di aspal jalan. Ia membasuh keringatnya sembari menatap kertas mencari sebuah alamat.

Papan nama beraneka warna dan bentuk tak luput dari pandangannya. Tibalah dia pada sebuah alamat yang ia cari, Dompet Dhuafa Singgalang. Wajahnya letih, di wajahnya tersirat mencari sebuah harapan di pintu kantor Dompet Dhuafa. Ia hampir tak yakin pintu kaca itu adalah pintu kantor. Sang ibu tak berani membuka. Entah dia bingung atau malu untuk menggeser pintu kantor.

Seorang lelaki muncul dari dalam pintu kaca itu. Sang ibu tersenyum, ia langsung menyapa. Pemuda itu membalas senyum. Dengan berbahasa Minang keduanya berkomunikasi. Pemuda itu langsung meminta sang ibu masuk ke dalam. “Masuk aja, bicaralah sama Uni (sebutan perempuan dalam bahasa minang),” kata lelaki itu.

Dengan senyum kecil, ia sedikit merundukan punggung. Sandalnya ia copot lalu masuk dan menyalami Uni di balik meja. “Assalamualaikum,” ujarnya membuka percakapan. Keduanya berkenalan. Sang ibu langsung menyampaikan tujuannya. “Saya butuh bantuan dana untuk sekolah anak saya,” ucapnya sembari menahan isak tangis.

Gadis di balik meja itu bernama Ningsih. Ia bekerja sebagai customer service di Dompet Dhuafa Singgalang. Wajahnya yang ayu, putih bersih dan ramah senyum sangat tepat menjalankan tugas itu. Ningsih bukan satu dua kali menghadapi situasi dan keluhan seperti yang disampaikan sang ibu. “Saya harus banyak mendengar,” katanya.

Ningsih tahu orang yang datang ke Dompet Dhuafa adalah orang yang mengalami kesulitan ekonomi entah itu untuk biaya kesehatan, pendidikan atau makan sehari-hari. Oleh karena itu Ningsih selalu mencoba tidak menambah penderitaan dhuafa yang datang. “Senyum dan mendengar keluhan mereka itu sudah sedikit membantu,” ucapnya.

Sang ibu menceriatakan kesulitan menyekolahkan empat anaknya. “Saya janda,” ucapnya pelan. Menurut dia awalnya tak ada masalah dengan biaya pendidikan. Ibu itu mengakui mampu membiayai sekolah anaknya dari penghasilan toko kelontong. Beberapa anak mendapatkan bantuan beasiswa dari perusahaan semen kesohor di Sumatera Barat.

Sejak berdiri retail besar di dekat tokonya, sang ibu kehilangan pelanggan. “Omzet saya jadi seret,” ujarnya. Seretnya omzet berakibat tertundanya biaya sekolah anak-anaknya. Sang ibu mencari bantuan. Oleh seseorang ia disarankan meminta bantuan ke Dompet Dhuafa.

Ningsih yang mendengar itu tetap tersenyum. Sebagai perempuan hati Ningsih merasakan kesedihan. “Saya berempati,” katanya. Namun Ningsih harus menghindari tangis. “Saya harus terlihat tegar di depan dhuafa,” ujarnya.

Sang ibu itu meminta Dompet Dhuafa memberikan bantuan untuk biaya sekolah anaknya yang akan masuk SMP. Ningsih mengatakan ibu datang pada tempat yang tepat. Ningsih menceritakan program sekolah SMART Ekselensia Indonesia. Karena belum dibuka pendaftarannya Ningsih menyarankan sang ibu untuk menyediakan dokumen persyaratan.

Pengalaman Ningsih di atas hanyalah satu dari sekian banyak kisah bagaimana kaum dhuafa di sekitar kita menaruh harap yang besar kepada lembaga-lembaga amal seperti Dompet Dhuafa. Mereka tak tahu kemana lagi harus mengadu, harus menahan malu jika harus mengetuk pintu, berharap untuk dibantu.

Meski dalam beberapa beberapa tahun terakhir, angka kemiskinan cenderung menurun, namun tetap saja jumlah orang miskin di Indonesia masih cukup besar. Data terakhir yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, jumlah orang miskin per September 2017 masih 26,58 juta orang, atau 10,12 persen. Belum lagi orang-orang yang rentan jatuh miskin. Mereka sewaktu-waktu bisa terjerembap ke kubang kemiskinan jika terkena bencana atau kebijakan yang tidak memihak kepada mereka, sang ibu yang berkunjung ke Dompet Dhuafa di atas adalah contohnya.

Selain itu, rasio gini kita juga masih cukup mengkhawatirkan, yakni di angka 0,391. Bahkan, di kawasan perkotaan, rasio gini masih di angka 0,404. Rasio gini merupakan indeks yang digunakan untuk mengukur ketimpangan pendapatan antara penduduk miskin dan penduduk kaya. Semakin tinggi nilai rasio gini menunjukkan tingkat ketimpangan yang semakin tinggi. Sebaliknya, rasio gini yang semakin rendah menunjukkan pemerataan ekonomi semakin bagus. Pada saat krisis ekonomi 1998, angka rasio gini di Indonesia pernah mencapai 0,65.

Butuh upaya komprehensif untuk menekan angka kemiskinan dan kesenjangan di Indonesia. Karena kemiskinan memiliki banyak dimensi, maka upaya untuk mengatasinya juga butuh banyak strategi. Untuk itu, Dompet Dhuafa merambah sektor-sektor vital dalam bermasyarakat. Pendidikan, kesehatan, ekonomi, menjadi fokus pekerjaan Dompet Dhuafa sehari-hari. Semua ditujukan kepada kaum dhuafa agar dapat menikmati pendidikan berkualitas dengan masyarakat mampu, mendapatkan pelayanan kesehatan yang setara, serta diberikan kesempatan untuk memperbaiki kondisi perekonomian.

Belakangan, Dompet Dhuafa juga merambah bisnis sosial. Tujuan bisnis ini bukan semata-mata profit, melainkan benefit. Itu artinya, semakin besar keuntungan yang dihasilkan dari usaha bisnis ini, semakin banyak pula masyarakat yang terbantu dan terberdayakan.

Semua ikhtiar yang dilakoni Dompet Dhuafa ini bertujuan untuk menjaga harapan kaum marjinal. Selama hampir 25 tahun berkiprah, banyak sudah warga yang terbantu dan terangkat kesejahteraannya. Mereka bisa bersekolah, berobat secara gratis, bahkan memiliki usaha untuk menopang kehidupan. Kehadiran Dompet Dhuafa masih akan terus dibutuhkan untuk mereka yang selama ini terpinggirkan. *

 

 

 

 

Advertisement