
ANGKA harian paparan Covid-19 yang didominasi subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 terus merambat naik walau masih jauh di bawah prediksi puncaknya yakni sekitar 20-ribu kasus sehari pada akhir Juli, ’22.
Menurut data dari Satgas Covid-19, tiga hari terakhir berturut-turut, (26 – 28 Juli) penularannya sudah melampaui 6.000 kasus per hari, yakni masing-masing 6.483, 6.438 dan 6.353 kasus.
Walau masih jauh dari prediksi puncaknya (20-ribu kasus per hari), apalagi dibandingkan puncak serangan varian Delta asal India (B.1.617) sebanyak 64.718 kasus pada 16 Feb. 2021, lonjakan serangan Omicron tetap harus diwaspadai.
Masalahnya,  varian Omicron (B.1.1.529) asal Afrika Selatan yang terdeteksi April 2021 lalu mudah menular dan bisa menghindar dari sistem imunitas tubuh, walau bergejala rendah atau tanpa gejala dan risiko kematian atau vatalitasnya rendah.
Yang juga harus diperhatikan, varian Omicron sangat mudah bermutasi dan sampai saat ini, ada subvarian BA.1, BA.2. BA.3, BA.4 dan BA.5 yang menyebar di puluhan negara termasuk Indonesia.
Bahkan subvarian Omicron yang lebih ganas, tanpa gejala, langsung menyerang sistem pernafasan (pneumonia) yakni varian BA.2.74, BA.2.75 dan BA.2.76  sudah terdeteksi di India dan BA.5.21 di  Shanghai, China.
Menkes Budi Gunadi Sadikin (18/5) lalu juga sudah mengonfirmasi kehadiran subvarian B2.75 yang terdeteksi dari dua kasus penularan asal luar negeri di Bali dan satu penularan lokal di Jakarta.
Terkait wacana, pemberian vaksin penguat (booster) kedua pada penduduk, Menkes mengemukakan, hal itu baru akan dilakukan setelah 80 persen dari total penduduk (208,2 juta) demi terciptanya herd immunity, sudah seluruhnya menerima vaksin booster pertama.
Untuk tahap pertama, demi azaspemerataan dan keadilan, menurut Budi, vakzin booster dosis kedua baru akan diberikan kepada 1,7 juta nakes yang berada di garda terdepan penanganan Covid-19.
Sampai Jumat, 28 Juli ’22 vaksin dosis pertama sudah diberikan pada 202.388.881 orang (97,18 persen ), dosis kedua 169.980.340 (81,62 persen) dan bosster (penguat) bagi 55.96.221 orang (26,65 persen).
Sementara mengenai puncak pandemi Covid-19, menurut Budi, diprediksi mundur dari yang diperkirakan semula pada akhir Juli ke akhir Agustus, berkenaan dengan kembalinya seluruh Jemaah haji dari Tanah Suci.
Interaksi dengan sesama calon jemaah dari Indonesia saat keberangkatan dan kepulangan serta dengan jutaan Jemaah lain dari seluruh penjuru dunia diperkirakan akan memicu lebih banyak penularan virus Covid-19.
Tetap waspada dan patuhi prokes!




