
RENCANA lawatan Ketua DPR Amerika Serikat, Nancy Pelosi ke Taiwan menuai pro-kontra karena menjadi pertaruhan terhadap kemungkinan risiko yang muncul antara Amerika Serikat dan China.
Yang jelas, tensi hubungan AS dan China yang selama ini berseteru, memanas sejak niat Pelosi berkunjung ke Taiwan yang dianggap China masih wilayahnya, diungkapkan medio Juli lalu.
Sejak memberlakukan kebijakan “satu China” pada 1979, AS tidak lagi mengutus petingginya ke Taiwan.
Ketua DPR AS, Newt Gingrich dari Fraksi Partai Republik memang juga melawat ke Taiwan pada 1997, namun penguasa Beijing tidak bereaksi keras, mengingat ia saat itu berada di partai oposisi.
Beda masalahnya dengan Pelosi yang juga politisi yang sama dengan Presiden Joe Biden dari Partai Demokrat yang merupakan petahana.
Presiden Biden dan mantan Menlu AS Henry Kissinger menilai, rencana lawatan Pelosi ke Taiwan tidak bijaksana karena bakal meningkatkan konfrontasi dengan China.
Lagi pula, sejumlah pengamat juga melihatnya dari posisi Pelosi sebagai orang ketiga yang akan menjalankan tugas memimpin negara jika presiden dan wapres karena satu dan lain hal berhalangan.
Pihak militer AS sendiri walau merasa was-was menyatakan siap untuk mengamankan kunjungan Pelosi. Masalahnya, dengan mengerahkan armadanya di sekitar Laut China Selatan, tentu riskan menghadapi konflik dengan China.
Jubir Kemlu China, Zhao Lijian (25/7) juga mengingatkan, militer China dengan tegas akan membela kedaulatan negara jika ada yang melanggar “garis merah”, menyentuh Taiwan.
China sendiri menganggap perairan Laut China Selatan tidak boleh dijadikan ajang pamer kekuatan, sehingga lawatan Pelosi dengan konsekuensi pengerahan militer untuk mengamankannya, berarti dianggap sebagai tantangan.
Sebaliknya, Pelosi dikenal sbagai karakter yang kukuh memperjuangkan demokrasi di seantero jagat dan pernah melejit pamornya saat sebagai anggota Kongres AS membentangkan spanduk demokrasi di lapangan Tienanmen, Beijing dalam lawatannya pada 1991.
Apa yang bakal terjadi sulit diramalkan. Apakah Pelosi urung melawat ke China setelah menimbang-nimbang risikonya termasuk yang diingatakan di dalam negeri termasuk oleh Presiden Biden?
Terus, jika Pelosi tetap bersikukuh melawat ke Taiwan, apakah China berani “mengganggu”-nya dengan kekuatan militer?
Perjalanan waktu akan membuktikan kemudian! (AFP/Reuters/ns)




