Menanti Reaksi China atas lawan Tsai ke AS

Lawatan Presiden Taiwan Tsai Ing Wen ke AS (5/4), bertemu dengan senator untuk meminta dukungan AS, membuat petinggi China berang. AS walau tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan, mendukungnya dari ancaman China.

PRESIDEN Taiwan Tsai Ing Wen tetap nekat bertemu dengan Ketua DPR Amerika Serikat Kevin McCarthy di Simi Valley, AS, Kamis pagi ini (6/4 WIB),  padahal China wanti-wanti jika  lawatannya ke AS tetap dilakukan, akan bereaksi keras.

Tsai dalam lawatannya ke Belize dan Guatemala, dua negara di Amerika Tengah dari 13 negara yang mengakui Taiwan, singgah di AS, selain dengan McCarthy, juga bertemu dengan senator pendukung kemerdekaan negeri itu, Dan Sullivan dan Jony Ernst dari Partai Republik serta Mark Kelly dari Partai Demokrat.

Lawatan Tsai di Simi Valley, Negara Bagian California, 40 Km dari Los Angeles tersebut, menurut pengamat Universitas Tamkang,Taiwan Lin Ying Yu, tentu bukan sekedar mampir, tetapi guna memperkokoh dukungan dari sejumlah negara termasuk AS.

“Tsai ingin memastikan, AS sebagai mitra terdekat Taiwan tidak akan membiarkan China yang terus menggoyang stabilitas di Selat Taiwan dengan melakukan manuver-manuver militer termasuk oleh pesawat-pesawat tempurnya menerobos Zona Identifikasi Pertahanan Udara Taiwan (ADIZ).

Saat lawatan Ketua DPR AS sebelumnya, Nancy Pelocy ke Taipei, Agustus tahun lalu, China juga meradang, langsung menggelar latihan perang besar-besaran di perairan Selat Taiwa berhari-hari dan dampaknya lawatan Pelocy juga memperburuk hubungan AS – China.

Intelijen AS memperkirakan, Tentara Rakyat China (PLA) memiliki kekuatan yang cukup untuk menginvasi Taiwan pada 2027 walau tidak bisa dipastikan, apakah akan melakukannya.

Dari perbandingan militer, Taiwan dengan anggaran militer hanya  13,72 miliar dollar AS (Rp212,7 triliun) pada 2023 dibandingkan China 224 miliar dollar AS (Rp.3,472 triliun) atau ranking ke-2 setelah AS tentu bagai bumi dan langit.

China memiliki dua juta lebih tentara, didukung 5.400 tank, 13.000 panser, 9.834 pucuk artileri, peluncur roket dan rudal, didukung 600 kapal perang termasuk tiga kapal induk dan 70 kapal selam serta  1.600 pesawat udara untuk berbagai misi termasuk 400 pesawat tempur.

Selain itu, China juga merupakan salah satu kekuatan nuklir dengan berbagai rudal seri Dong Feng berhulu ledak nuklir yang siap sedia sebagai kekuatan penggentar selain senjata konvensional.

Sebaliknya, total tentara Taiwan 169.000 orang, didukung 1.100  tank dan 3.700-an panser, 2.093 artileri dan 115 peluncur roket, 30-an kapal perang, 300-an pesawat tempur. Namun Taiwan juga tidak bisa dianggap remeh, walau kecil dalam jumlah, tentaranya sangat terlatih dan menggunakan persenjataan canggih terutama yang dipasok AS dan negara-negara Barat lain.

Lagi pula, jika China nekat menyerbu Taiwan, tentu AS dan konco-konconya terutama seluruhnya 31 negara yang bernaung di bawah NATO akan berpangku tangan

Sejauh ini, konflik Taiwan dan China hanya sebatas retorika terutama ancaman China untuk merebut Taiwan yang dianggap wilayahnya, melakukan latihan perang di Selat Taiwan atau menyusupkan pesawat-pesawatnya ke ADIZ.

Taiwan berusaha membebaskan diri dari China daratan sejak kekalahan kubu Partai Kuomintang pimpinan Chiang Kai Shek dari pasukan komunis China pimpinan Mao Zedong pada 1949.

Dalam Kongres Partai Komunis China, bulan lalu, Presiden Xi Jin Ping agak melunak dengan menyatakan akan menyatukan kembali Taiwan dengan cara damai.

Taiwan sendiri baru diakui oleh 13 negara-negara kecil di Amerika Selatan dan Pasifik walau hubungan ekonomi, investasi dan perdagangannya dengan berbagai negara di dunia termasuk RI terus berkembang pesat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement