Ridwan, 30 tahun, warga Desa Pilang, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, tak henti menatap setiap karung karet yang dinaikkan ke atas mobil truk. Ia terduduk dipelataran dermaga Desa Pilang, di mana karet-karet petani dikumpulkan oleh pengepul, untuk dijual ke Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Bisa jadi bagi Ridwan, karet yang dinaikkan ke truk itu adalah karet terakhir dari perkebunannya. Karena 80 persen dari kebun karet di Desa Pilang sudah hangus terbakar, akibat api dari pembakaran lahan dan hutan yang merambat ke perkebunan mereka.
Ridwan sendiri adalah salah satu warga dari 290 KK warga Desa Pilang yang kehilangan kebun karetnya yang terbakar ludes. Desa Pilang memiliki penduduk sebanyak 430 KK, dengan total sekitar 1.700 jiwa. Hampir 100 persen dari warga sini mengandalkan karet sebagai penghasilan rumah tangga mereka.
Menurut Kepala Urusan Pemerintahan (KAUR Pemerintahan) Desa Pilang, Rusli, 33 tahun, dari 6.000 hektare kebun karet warga, 80 persen sudah musnah karena terbakar.
“Butuh 7 tahun lagi untuk pemulihannya,” kata Rusli kepada KBK, Jumat (30/10/2015).
Sebagai representasi dari pemerintahan desa, Rusli termasuk bingung harus bagaimana nasib dari warga desanya yang kehilangan kebun karet ini. Bagaimana nasib anak dan isterinya jika lahan keluarga sudah musnah terbakar.
“Ini kebakaran paling parah sejak tahun 1997 gambut diolah di kawasan kami,” kata Rusli. Di beberapa tahun yang lalu, kebakaran tidak berlangsung di kebun warga. Hanya lahan gambut yang kosong yang terbakar.
“Kalau pun ada kebun yang terbakar di tahun-tahun sebelumnya, tidak separah sekarang. Karena tidak semua kawasan terbakar sehingga warga masih punya cadangan kebun yang tidak terbakar di tempat lain, tapi sekarang berbeda kebakaran hampir di semua tempat, jadi tidak hayal banyak warga yang kehilangan kebun 100 persen,” jelas Rusli.
Jika dihitung-hitung penghasilan warga dari karet di kebun sendiri, kata Rusli, dia bisa mendapatkan rata-rata 15kg karet per kali panen dan dipanen 3 kali dalam seminggu dengan harga karet menurut pasar sekarang Rp6.000 per kg. Artinya warga, rata-rata mendapatkan penghasilan sekitar 270.000 per minggu dari kebun karetnya.
“Kalau perkebunannya luas, ia bisa mendapatkan lebih dari itu. Ini hanya pendapatan minimal jika kebun karet warga seluas 2,5 hektare,” jelas Rusli.
Dengan bencana kebakaran tersebut, kata Rusli, warga akan jatuh pada kerja serabutan. Jika warga punya modal, jikapun ditanam sekarang bibit karetnya, butuh 7 tahun lagi baru ia bisa dipanen.
“Nah selama 7 tahun ini, jelas warganya akan mencari nafkah secara serabutan,” ujar Rusli.
Serabutan yang dimaksud Rusli, bisa jadi menjadi buruh bangunan, pencari ikan dan buruh angkat. “Pokoknya apa yang menghasilkan uang yang halal pasti dikerjakan,” jelasnya.
Sebagai salah satu pemimpin desa, Rusli berharap ada bantuan untuk warga desanya. Bagaimanapun kebun yang sudah terbakar harus ditanam kembali. Supaya tidak memberatkan warga ia minta bantuan bibit karet kepada siapapun, baik lembaga atau perorangan yang bisa membantu.
Selain itu, berkaca pada kasus kebakaran yang melanda saat ini, sulitnya petani memadamkan api karena jauhnya sumber air dari area perkebunan. Untuk itu Rusli juga memohon bantuan untuk dibuatkan sumur bor buatan di tengah-tengah perkebunan petani.
“Minimal radius 300 meter per segi. Kalau ditotal yang sumur bor untuk pengamanan perkebunan warga butuh banyak. Minimal untuk yang sekarang kita butuh 20 titik, untuk mengamankan perkebunan yang 20 persen masih tersisa dan sebagian untuk lahan sisa, yang sudah terbakar,” jelas Rusli mengakhiri.





