JAKARTA – Dentingan besi yang saling beradu terdengar nyaring, menandakan kegiatan belajar mengajar telah usai. Bila kebanyakan siswa langsung menuju rumah untuk istirahat, tidak demikian dengan Siti Nurhayati Bain.
Selepan sekolah, Siti justru langsung menuju hutan di belakang rumahnya yang terletak di Dusun Tinahing, Desa Alila Selatan, Kec Kabola, Kab. Alor, NTT. Hanya berlapis sandal jepit, langkah kaki Siti mantap menjelajah hutan untuk mencari biji kemiri.
Dalam seminggu Siti bisa mengumpulkan 3 kilogrm biji kemiri. Setelah dikupas biji kemiri itu bisa laku terjual Rp 18 ribu per kilogram. Bukan tanpa alasan Siti melakukan rutinitas tersebut. Sejak Ayahnya meninggal Siti memilih hidup bersama kakek nenek, karena sang ibu menikah lagi. Namun hal itu tak berjalan lama karena sang khalik juga memanggil mereka.
Seperti dilansir dari Insan Bumi Mandiri sekarang Siti tinggal bersama pamannya. Hasil menjual kemiri Siti gunakan untuk kehidupan sehari-hari dan keperluan sekolah. Meski hanya bisa bekerja sebagai pengumpul kemiri, Siti sangat ingin melanjukan pendidikan hingga perguruan tinggi, dan menggapai cita-citanya menjadi seorang guru.





