Mencari Seorang Pemimpin

ilustrasi

APA bedanya antara pemimpin dan pejabat? Pemimpin bisa jadi pejabat, tapi pejabat belum tentu bisa jadi pemimpin. Yang sering terjadi di negeri ini seperti itu, banyak orang yang tak bisa membedakan mana pejabat dan mana pemimpin. Selama ini sering salah kaprah, pejabat selalu dianggap pemimpin. Karena pejabat dianggap sama dengan pemimpin, maka dipaksakan dengan berbagai cara agar pejabat itu juga seiman.

Pejabat itu ada sekolahnya, semisal IPDN (Akademi Pemerintahan Dalam Negeri) di Jatinangor, Bandung. Atau juga Lemhanas (Lembaga Ketahanan Nasional). Di masa Orde Baru, setiap lulusan Lemhanas punya peluang besar jadi pejabat. Tapi setelah era reformasi, tak ada jaminan yang pernah ikut KRA (Kursus Reguler Angkatan) pasti jadi pejabat. Begitu juga yang lulusan IPDN, tak ada jaminan pula jadi pejabat penting. Yang pasti, setelah pensiun mereka ini akan jadi “pejabat teras” di rumah masing-masing, karena setiap pagi atau sore duduk-duduk di teras.

Beda lagi dengan pemimpin. Pemimpin itu tak ada sekolahnya, karena pemimpin lahir oleh tantangan dalam masyarakat sekitarnya, begitu kata pahlawan nasional M. Natsir. Namun pemimpin yang berkarakter, hanya bisa diperoleh lewat pembelajaran sejarah. Tanpa ini jadilah dia pemimpin yang jauh dari sikap: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Mantan Wapres Boediono pernah mengingatkan, seorang pemimpin harus punya  wawasan. Sedangkan wawasan bisa diperoleh lewat sejarah, khususnya  membaca biografi para pemimpin dunia. Namun yang terjadi, generasi muda sekarang ini kurang hobi membaca. Yang jadi mahasiswa juga pilih-pilih dalam membaca, buku-buku yang tak ada hubungan dengan studi, mana mau menyentuhnya.

Generasi muda sekarang kurang menyukai sejarah, karena mereka lebih tertarik pada fisika dan matematika yang lebih menantang dengan masa depan yang lebih gemilang. Jarang orang yang mau jadi sejarawan seperti Sartono Kartodirdjo (alm), Anhar Gonggong, atau Asvi Warman Adam. Apa lagi JJ Rizal, sekali jadi sejarawan muda, “berkelahi” melulu dengan Ahok Gubernur DKI Jakarta.

Fisika dan matematika memang milik orang-orang cerdas. Tapi pemimpin tak bisa hanya mengandalkan kecerdasan. Dengan pembelajaran sejarah masa lalu, khususnya tentang biografi pemimpin dunia, calon pemimpin bisa bertambah wawasannya. Dia akan tahu misalnya, bagaimana tekad mahapatih Gajahmada yang bersumpah takkan makan buah palapa sebelum nusantara bersatu.

Dengan membaca sejarah Singosari, calon pemimpin akan tahu bahwa harus berhati-hati menyikapi wanita. Keris Empu Gandring minta korban banyak nyawa, gara-gara Ken Arok terpesona oleh selangkangan bersinar Ken Dedes istri Akuwu Tunggul Ametung. Akhirnya, keris Empu Gandring membinasakan Ken Arok sendiri, lewat tangan Anusapati anak Tunggul Ametung. Dan Anusapati terbinasa pula oleh keris Empu Gandring lewat Tohjaya, putra Ken Arok – Ken Dedes.

Dengan membaca sejarah, seorang pemimpin bisa memiliki karakter. Bahkan Gus Solahudin Wahid bilang, dengan membaca cerita silat seseorang bisa memiliki karakter, bagaimana misalnya harus cinta tanah air, cinta kebenaran, kesetiaan. Atau jika  merujuk pemikiran Ki Hajar Dewantoro, seorang pemimpin haruslah bisa bersikap ing ngarsa sung tulada (di depan memberi contoh), ing madya mangun karsa (di tengah memberikan kesempatan) dan tut wuri handayani (di belakang mengawasi dan menyemangati).

Bagaimana dengan pemimpin dan pejabat sekarang pada umumnya? Berbalik 180 drajat. Di depan ambil duluan, di tengah main sikut kanan kiri, di belakang menggerutu bila tak kebagian atau diberi kesempatan! Padahal seperti apa sepak terjang ketika menjadi pemimpin, akan ditagih di yaumil akhir nanti. Hadits Nabi mengatakan, “Kamu semua adalah seorang pemimpin, yang akan dimintai tanggungjawabnya terhadap apa yang dipimpin. (HR: Ibnu Umar RA). (Cantrik Metaram)

Advertisement