Mencari Teman Baik

Jika berteman dengan tukang olie, akan terkena bau apek olienya juga.

MANUSA itu makhluk sosial, sehingga tak bisa hidup sendiri. Dia sangat membutuhkan bantuan dan kerjasama dengan pihak lain. Kehidupannya dalam keseharian tak bisa lepas dari jasa orang lain. Namun demikian harus pandai-pandai mencari teman, sebab sekali salah pilih teman, celakalah kita. Bisa ikut jelek jeneng (nama) kita, bahkan bisa berdampak pada jenang (rejeki). Apa lagi di era gombalisasi ini banyak teman yang tidak ikhlas, dia mengaku teman sekedar untuk menipu. Dia bersikap sok ramah, padahal ujung-ujungnya isi kantong dijarah.

Pepatah atau paribasan Jawa mengatakan, aja cedhak kebo gupak. Artinya, janganlah berteman dengan orang jahat. Sebab selain bisa terpengaruh atau ikut-ikutan jadi penjahat, minimal dicurigai sebagai penjahat pula. Ibarat kata berteman dengan penjual parfum, akan pula akan dapat pula menikmati bau harum. Sebaliknya pergaulannya dengan tukang olie, keringat kita ikut pula bau olie. Kita ingat pasca pembrontakan G.30.S/PKI dulu. Gara-gara pernah ketamuan tokoh PKI, ikut pula dicap komunis sehingga kariernya ikutan hancur karenanya.

Ada memang pendapat, berteman jangan pilih-pilih. Seperti wartawan itu lho, bergaul dengan tukang becak bisa, dengan pejabat sudah biasa. Tapi keakraban  mereka kan sekedar hubungan antara pencari berita dan narasumber, tidak akan mendalam dan mengubah perilaku. Wartawan dekat dengan orang susah, ikut jadi orang susah, kebanyakan wartawan memang susah dari sononya. Tapi ada juga wartawan dekat dengan pejabat kemudian ikutan pula jadi pejabat.

Mencari sejuta teman, itu sudah selayaknya. Tapi mendapa satu saja musuh, jangan! Banyak teman membuat bahagia, tapi musuh satu saja sudah membuat hidup tidak tenang. Apa lagi musuh dalam selimut yang namanya kepinding atau bangsat, sungguh tidak bisa tidur semalaman. Baru mau memejamkan mata barang sebenar, sudah clekitttt………pantat atau paha digigitnya.

Banyak teman menjadikan banyak kesempatan silaturahmi. Dan hadits Nabi mengatakan, silaturahmi memperpanjang umur dan memudahkan rejeki. Itu tak bisa dipungkiri, sebab dengan banyak ketemu teman bisa  diperoleh informasi dan peluang pintu rejeki. Misalnya berupa lowongan kerja, kesempatan bisnis.

Lalu bagaimana dengan silaturahmi memperpanjang umur? Apakah karena pas malaikat Izroil datang, orangnya sedang pergi silaturahmi sehingga batal dicabut nyawanya? Bukan begitu, Bro! Yang dimaksudkan memperpanjang umur, kaitannya tentu dengan terbukanya pintu rejeki karena banyak silaturahmi. Ketika sedang nganggur lalu dapat pekerjaan berkah silaturhami, apakah itu bukan memperpanjang umur? Tadinya mau makan saja susah, sekarang kembali menjadi mudah. Padahal, orang tidak makan berhari-hari bisa mati.

Namun di era gombalisasi ini banyak orang yang mengaku teman, sekedar untuk menipu. Tak ada angin tak ada hujan, tahu-tahu ada telpon di HP, mengaku teman lama. Mungkin sudah survei sebelumnya, dia tahu persis kondisi yang ditelpon. Suaranya begitu sok akrab, dan yang ditelpun bisa terlena dibuatnya. Jika sudah berhasil masuk “atmosfir” si penelpon, pura-pura dalam kesulitan minta bantuan. Jika ketemu orang tidak tegaan, dimintai transver sejumlah uang langsung dipenuhinya. Padahal begitu uang sudah masuk ke nomer rekening dia, sudah selesailah pertemanan itu. (Cantrik Metaram)

 

 

 

Advertisement